5 Dampak bagi Janin Jika Ibu Hamil Sering Menangis. Ternyata, Seserius Ini!

Dampak ibu hamil yang sering menangis

Selama kehamilan, seorang wanita mengalami perubahan dalam dirinya baik secara fisik maupun emosional. Tak jarang, Moms jadi lebih sensitif karena suasana hati yang mudah berubah. Merasa bahagia, takut, sedih menjadi hal wajar yang sering ditemukan. Sebenarnya beberapa stress selama kehamilan itu normal, namun jika frekuensinya konstan dan berlangsung lama justru nggak baik bagi ibu hamil dan juga janin yang dikandung.

Advertisement

Sebuah penelitian dari Assocoiation for Psychological Science menemukan bahwa janin yang berumur enam bulan bisa merasakan dampak dari emosi yang dirasakan Moms saat hamil. Maka dari itu menjaga kestabilan emosi saat kehamilan perlu diperhatikan. Nah berikut ini Hipwee merangkum dampak bagi janin jika ibu sering menangis yang tak boleh diabaikan. Yuk, simak ulasannya!

1. Jika ibu hamil menangis terus-menerus, bisa jadi pertanda stres berat hingga depresi. Saat tubuh menghasilkan hormon stres ia akan mengalir pula pada janin dalam kandungan melalui plasenta

Menangis saat kehamilan | Credit: Baby Chick via www.baby-chick.com

Hormon stres bisa menyebabkan gangguan kecemasan pada ibu hamil. Hormon ini akan mengalir pada janin melalui plasenta. Janin yang terus menerus mendapatkan hormon stres bisa mengalami stres kronis. Padahal perkembangan di dalam rahim adalah masa yang sangat penting sebab sistem saraf tengah terbentuk. Hormon yang tak seimbang bisa menggangu proses ini.

Mengutip dari hellosehatMoms yang alami depresi akan mengalami beberapa gejala yang berisiko langsung pada kesehatan bayi. Misalnya kesulitan tidur, nafsu makan menurun, kurang konsentrasi dan merasa lemas karena kehabisan energi untuk menangis.

Advertisement

2. Ibu hamil yang menangis bisa mempengaruhi dan menghambat organ yang menyuplai oksigen ke janin, jika dibiarkan bisa berakibat fatal bagi pertumbuhannya

Pertumbuhan bayi | Credit: Omar Lopez via unsplash.com

Dampak Moms yang terus menangis selanjutnya, yakni mampu menurunkan suplai oksigen ke janin. Ini disebabkan saat menangis karena stres dan depresi, maka pembuluh darah akan berkaitan dengan kuat yang menyebabkan produksi hormon Norepinephrine meningkat. Jika seperti ini, sirkulasi oksigen ke janin pun akan berkurang. Salah satu risikonya ialah menyebabkan cerebral palsy, yaitu kondisi saat anak lahir mengalami masalah keterampilan motorik, keseimbangan dan keterlembatan perkembangan.

3. Menangis karena stres bisa memicu hormon Corticotropin realising hormone (CRH), kondisi ini berisiko membuat bayi lahir prematur

Risiko bayi lahir prematur | Credit: Flickr via live.staticflickr.com

Saat ibu hamil menangis karena banyaknya tekanan, tubuh akan melepaskan hormon CRH yang bisa memicu peningkatan homron kortisol yang masuk melalui plasenta. Jika ini berlangsung lama, kadar hormon akan bertambah di cairan ketuban. Jika kadarnya tinggi akan mempercepat organ janin untuk tumbuh padahal belum sesuai dengan kondisinya. Akibatnya organ-organ yang tumbuh dengan cepat ini belum tentu terbentuk sempurna. Nah, akhirnya dikhawatirkan berisiko membuat bayi lahir prematur.

4. Kandungan rentan akan keguguran, apalagi jika sudah banyak menangis di kehamilan yang tergolong muda. Kesehatan fisik dan emosionalnya harus dijaga ya, Moms!

Menjaga emosi tetap stabil | Credit: Shutterstock via www.carolinaparent.com

Ketika ibu sering menangis maka keadaan fisik akan semakin melemah yang berdampak bagi kesehatan janin. Risiko keguguran pun semakin besar karena masalah yang satu ini. Beberapa kasus kurangnya suplai oksigen ke janin mampu menyebabkan kelahiran mati (stillbirth) setelah usia kehamilan 20 minggu. Diketahui sekitar seperempat kelahiran janin meninggal disebabkan masalah plasenta yang memengaruhi jumlah oksigen mencapai janin.

Advertisement

5. Dampak selanjutnya bisa menyebabkan risiko depresi, autisme hingga gangguan kognitif setelah bayi dilahirkan. Untuk itu, penting menciptakan suasana bahagia dan penuh cinta di keluarga

Ciptakan suasana bahagia | Credit: Kelly Sikkema via unsplash.com

Stres yang berkepanjangan saat hamil  juga dapat meningkatkan risiko depresi, autisme, dan gangguan kognitif. Ketika Moms menangis pertumbuhan janin juga bisa berdampak perkembangan yang kurang optimal pada bayi. Untuk itu, Moms harus berpikir positif selama hamil ya, termasuk keluarga yang selalu menciptakan suasana yang nyaman dan bahagia. Jangan sampai karena terlalu banyak menangis karena stres, bayi yang ada di kandungan justru terganggu perkembangannya.

Menangis karena mengungkapkan rasa sedih itu wajar dan boleh saja, Moms. Tapi ingat, Moms harus pandai-pandai mengatur emosi supaya adik bayi di dalam kandungan juga merasakan ketenangan. Untuk Dads juga wajib menjaga mood Moms, ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Seorang makmum yang taat :)

CLOSE