Ada beberapa wanita yang nggak menyangka dirinya sedang hamil karena masih mens setiap bulannya. Mereka baru tahu bahwa dirinya hamil setelah mengalami gejala-gejala kehamilan. Memangnya bisa ya, mens saat sedang hamil??

Menurut dr Irfan Mulyana Mustofa, dokter kandungan di RSUD Leuwiliang Bogor, menstruasi saat sedang hamil itu nggak mungkin terjadi. Sebab menstruasi adalah pertanda bahwa seorang wanita sedang nggak hamil, seperti dilansir detikHealth.

Advertisement

Perdarahan saat mens dan perdarahan yang terjadi saat hamil adalah dua kondisi yang berbeda. Sekitar 2 dari 10 wanita dilaporkan dalam laman Alodokter pernah mengeluarkan darah dari vagina saat sedang hamil, terutama di trimester pertama masa kehamilan. Bukan karena mens, perdarahan vagina selama kehamilan ada banyak penyebabnya. Ada yang normal, ada juga yang berarti masalah serius. Cek lebih jauh yuk, biar nggak kaget sewaktu-waktu mengalaminya.

1. Seseorang yang mengira mens tapi sedang hamil biasanya disebabkan oleh perdarahan implantasi yang merupakan salah satu gejala dini kehamilan

Jangan murung dulu, siapa tahu itu bukan mens~ via www.amoils.com

Kalau kamu sudah positif hamil lalu menemukan bercak darah setelahnya, atau sudah program hamil tapi perdarahan lagi dan lagi, bisa jadi itu adalah perdarahan implantasi, bukannya menstruasi dini. Setelah sel telur berhasil dibuahi oleh sperma, embrio akan berenang mendekati rahim dan melekat pada dindingnya. Proses pelekatan embrio pada dinding rahim bisa menyebabkan perdarahan kecil. Biasanya terjadi 6-12 hari setelah pembuahan. Nggak perlu khawatir, flek ringan ini normal dan nggak berbahaya kok.

2. Terjadi sentuhan pada bagian dalam vagina seperti saat berhubungan badan, jari, tampon, atau alat medis lainnya

Mungkin karena berhubungan badan? via www.health.com

Selama kehamilan, leher rahim akan menjadi lembut dan membesar serta dipenuhi pembuluh darah. Jika ada sesuatu yang masuk ke dalam vagina dan menyentuh dinding rahim seperti penis (saat berhubungan badan), jari, tampon, atau alat medis lain, maka akan menyebabkan perdarahan dan menimbulkan flek. Baiknya hentikan dulu aktivitas atau kontak langsung dengan bagian dalam vagina untuk menghindari perdarahan dan infeksi.

3. Dugaan penyebab mens tapi hamil pada trimester pertama lainnya adalah adanya kehamilan ektopik alias kehamilan di luar rahim

kehamilan di luar rahim via sjfert.com

Advertisement

Pada proses normal, sel telur yang telah dibuahi (embrio) akan menetap di tuba fallopi selama kurang lebih tiga hari, sebelum dilepaskan ke dalam rahim. Nah, kehamilan ektopik ini terjadi jika embrio menetap di tuba fallopi atau menempel pada organ lain selain rahim seperti rongga perut, ovarium, serta leher rahim (serviks). Salah satu penyebabnya yang paling umum adalah kerusakan pada tuba falopi, misalnya karena peradangan. Kadar hormon yang nggak seimbang atau perkembangan abnormal pada sel telur yang sudah dibuahi terkadang juga bisa jadi pemicunya. Kehamilan ektopik ini menyebabkan perdarahan dan menimbulkan flek.

Kehamilan ektopik merupakan kondisi yang membahayakan nyawa dan biasanya terjadi pada beberapa minggu pertama kehamilan. Makanya, rutin-rutinlah memeriksakan diri ke dokter kandungan ya!

4. Ada juga dugaan akibat hamil anggur/mola, yaitu adanya tumor jinak (bukan janin) yang tumbuh di dalam rahim setelah adanya pembuahan

hamil anggur karena sel telur nggak sempurna via www.youtube.com

Hamil anggur adalah kehamilan yang gagal, di mana terjadi kelainan pada proses perkembangan sel telur setelah dibuahi, sehingga gagal tumbuh menjadi janin. Pada hamil anggur, sel-sel telur dan plasenta yang nggak mampu berkembang ini akan membentuk sekumpulan kista (gelembung berisi cairan) yang bentuknya menyerupai anggur putih. Meski bukan embrio, pertumbuhan kista ini tetap akan memicu gejala-gejala kehamilan, sehingga banyak penderitanya mengira ia sedang hamil. Hamil anggur termasuk masalah kesehatan yang jarang terjadi. Kondisi ini perlu ditangani secepat mungkin untuk menghindari risiko komplikasi.

5. Perdarahan subkorionik atau perdarahan di sekitar plasenta karena penyumbatan

perdarahan subkorionik via suzlyfe.com

Perdarahan subkorionik selama masa kehamilan terjadi karena penyumbatan darah, terkadang terjadi di dalam lapisan plasenta. Umumnya, penyumbatan tersebut akan sembuh dengan sendirinya, tapi risiko mengalami komplikasi jadi lebih tinggi, seperti persalinan prematur misalnya. Pada kasus yang langka, perdarahan subkorionik bisa mengakibatkan terjadinya pelepasan plasenta dari dinding rahim sehingga meningkatkan risiko keguguran. Makanya, segera hubungi dokter jika kamu mengalami perdarahan selama kehamilan yang berjumlah banyak dan berwarna merah terang, juga disertai adanya kram perut dan rasa ingin mengejan ya!

6. Adanya infeksi yang terjadi pada organ reproduksi juga bisa menyebabkan perdarahan di awal-awal kehamilan

infeksi juga bisa jadi pemicu perdarahan via www.standard.co.uk

Bakteri yang terdapat pada dinding vagina sering menimbulkan infeksi dan rasa nggak nyaman ketika hamil. Ketika peradangan terjadi dinding vagina, maka akan menyebabkan iritasi dan mungkin terjadi sedikit perdarahan hingga keluarnya flek darah. Selain itu, infeksi saluran kemih juga bisa jadi penyebab lainnya. Segera temui dokter jika terjadi beberapa gejala seperti munculnya bercak darah, adanya lendir pada urin, dan rasa sakit yang dirasakan pada saat berhubungan badan, ya!

7. Bercak darah yang keluar di awal-awal kehamilan juga bisa terjadi akibat keguguran

keguguran via www.ravishly.com

Keguguran sangat umum terjadi dalam 20 minggu pertama. Sering kali, perdarahan hebat yang terjadi selama keguguran akan disertai dengan gejala lain, seperti kram, sakit perut, hingga mengeluarkan bercak darah yang cenderung menggumpal. Keguguran merupakan hasil dari janin yang rusak, yang berarti tubuh calon ibu menolak kehamilan yang nggak bisa bertahan hidup.

Kalau kamu mengalami perdarahan selama kehamilan di trimester pertama, atau belum hamil karena mengira masih mens, baiknya perhatikan dulu gejalanya. Periksakan ke dokter segera, karena nggak semua perdarahan sifatnya normal dan aman-aman saja. Tetap aware terhadap apa pun yang terjadi di tubuhmu, ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya