Sebelum ini, Hipwee sudah pernah membahas tentang rasanya hidup sebagai anak pesantren. Tapi sebenarnya, masih banyak cerita dari kehidupan unik ini yang belum sempat dimuat di dalam artikel tersebut. Misalnya saja, seperti apa sih jatuh-bangunnya menjadi santri di pondok pesantren khusus putra? Apa saja yang unik dari mata pelajaran mereka, dan kenapa kenangan sebagai santriwan tak akan pernah terlupakan?

Untuk menjawabnya, sekarang Hipwee menuliskan hal-hal di bawah ini. Khusus untukmu, para kaum adam yang sempat menghabiskan masa hidup di pondok pesantren putra!

1. Ada banyak alasan kenapa kamu akhirnya mondok. Salah satunya, panggilan hati.

Memperdalam ajaran agama via harianbangganteng.blogspot.com

Mungkin sejak kecil kamu sudah penasaran rasanya menjadi santri. Rasa penasaran ini didorong oleh keingintahuanmu yang juga kuat tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama. Makanya, ketika sudah kelas 6 SD dan menjelang kelulusan, kamu memberanikan diri bertanya pada orangtua: apakah mereka membolehkan putranya ini jadi santri?

2. Tapi, tradisi keluarga atau saran orangtua juga bisa mendorongmu jadi penghuni penjara suci.

Saran orangtua berperan kuat via harianbangganteng.blogspot.com

Advertisement

Sebaliknya, mungkin kamu sebenarnya nggak begitu niat untuk menjadi seorang santri. Bahkan mungkin kamu lebih suka sekolah di SMP/SMA negeri yang biasa aja, seperti banyak temanmu yang lain. Tapi, keluargamu bisa dibilang keluarga santri. Kakak-kakak atau sepupumu sudah lebih dulu menjadi santriwan dan santriwati, dan kamu diharapkan bisa mengikuti mereka.

Salah satu faktor lainnya adalah saran orangtua. Ya, Ibu dan Ayahmu lah yang menawarkan kamu menempuh ilmu jauh dari rumah. Dengan begitu, mereka berharap pondasi agamamu akan cukup kuat untuk menempuh kehidupan di masa depan.

3. Banyak orang memuji karena kamu berani mandiri. Tapi, ada juga yang sembarangan menganggap orangtua “menelantarkan” kamu.

Doh via mrwgifs.com

“Ya ampuuun, masih kecil kok udah dikirim ke luar rumah…”

“Kamu masuk pesantren? Ih, kok orangtuamu tega sih?”

Duh!

4. Menelantarkan gimana? Perpisahanmu saja pasti diisi oleh Ibu yang sibuk menitikkan air mata.

“Jangan nakal ya Nak. Jaga sholatnya, jaga agamanya… Ayah-Ibu di sini cuma bisa do’a…” *sambil mengusap air mata*

Duh, Bu. Kadang sampai aku yang cowok juga ingin ikut menangis karena nggak tega. Rasanya mending dihukum nggak boleh jalan-jalan keluar ma’had sebulan penuh daripada ngeliat Ibu nangis.

5. Mungkin kamu sempat mengira bahwa pondok akan mengubahmu jadi bocah alim, serius, dewasa dan bijaksana

*daftar ulang di Kesantrian*

*dapet ember, alat mandi, nomor kamar, dan berlembar-lembar peraturan pondok*

*menatap nanar ke berlembar-lembar peraturan pondok*

*masih menatap nanar*

“BUSEEEET… AKU BAKAL JADI ALIM NIH KAYAKNYA!”

6. Padahal…

*celingak-celinguk di samping gerbang sebelum kabur dan ke game center*

**nyelundupin komik, lihat kanan-kiri dulu biar gak ada yang jasus*

YHA~

7. Kehidupan pondok memang tak terbayangkan dari luar. Kamu harus lebih dulu masuk ke dalamnya, menghidupi ritmenya, bernapas dengannya.

Mengalir dalam darahmu dulu via seventeen-revolution.blogspot.com

Kehidupan di pondok memang terasa asing bagi mereka yang tidak melakoninya. Kamu perlu lebih dulu hidup di dalamnya, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga ritmenya menyatu dengan aliran darahmu.

8. Berbeda dengan remaja-remaja biasa di Indonesia, bagi para santri “Huwa humaa hum” adalah lirik lagu paling memorable selama masa remaja mereka.

Huwa humaa hum via Yha~~

Setiap santri pasti tahu “lirik” ini:

Huwa humaa hum!

Hiya humaa hunna!

Anta antumaa antum!

Anti antumaa antunna!

Ana

Nahnu!

Bahkan sampai mereka sudah nggak jadi santri lagi, lirik itu masih nempel di kepala. Kayak Al-Fatihah, yang sampai mati juga gak bakal lupa.

9. Sementara “Ba’daka” adalah mantra ampuh yang selalu dipakai buat antre, dari loket pembayaran SPP sampai kamar mandi

Antre~

Namanya juga hidup bersama, pakai fasilitas pondok pun pasti harus bergantian. Karena itu, para santri wajib terbiasa dengan yang namanya antre.

Btw, buat antre, santri yang cerdas punya mantra sendiri lho: “Ba’daka” — alias “Gue habis elu, ya.” Kalau sudah begini, mau ninggalin antrean sebentar buat ke warung, mau cuma ninggalin sabun di depan kamar mandi, ya gak papa. Sudah aturan tak tertulis bahwa barang siapa yang bilang “Ba’daka” lebih dulu, antre lebih dulu!

10. Bukan cuma Fisika-Matematika, sex ed sampai kelas pepatah bahasa Arab ada di kurikulum mereka.

Di pesantren, mereka malah diajarkan lebih banyak hal via darunnajah-multimedia.com

Sebenarnya pendidikan pesantren itu justru lebih lengkap daripada sekolah-sekolah negeri pada umumnya. Tak hanya belajar Fisika, Matematika, atau Sejarah, mereka juga diharuskan menghafalkan pepatah (“Man jadda wajada!” “Man shobaro dhofiro!” “Man saaro ‘alaa darbi wasola!”) dan ya, pendidikan seks.

Jika pendidikan seks belum lama dicanangkan oleh pemerintah untuk diajarkan di sekolah-sekolah umum, sejak puluhan tahun lalu, remaja yang belajar di pesantren justru telah mengenal ilmu ini sejak kelas II MTs. Mereka mempelajarinya melalui mata pelajaran fiqh dengan kitab pengantarnya yang berujdul Al-Fiqhul Waadzih. Dalam kitab ini dibahas mengenai gejala-gejala yang umum dialami anak-anak ketika memasuki masa remaja, atau Akil Baligh.

Jadi, jangan pernah bilang kalau para santri itu tertinggal! Justru mereka sudah paham lebih dulu tentang berbagai hal yang tidak banyak dibicarakan di sekolah-sekolah yang biasa~

10. Pondok juga semacam lembaga kursus bahasa. Para santri dicuci lidahnya dengan mufrodat, vocab, dan latihan pidato setiap minggunya.

Setoran mufrodat via pesma-arroyyan.com

Jangan salah sangka. Santri asal Minang atau Gorontalo yang bersekolah di Jawa tidak akan dipaksa belajar bahasa Jawa. Santri asal Jawa juga tak diizinkan ber-aku/kowe walaupun teman bicaranya mengerti. Soalnya, bahasa daerah di pesantren itu justru dilarang!

“Ya wajar sih menurutku kalo dilarang. Santrinya aja dari seluruh Indonesia, bahkan kadang ada yang dari Brunei atau Malay juga. Ya kasihan lah kalau disuruh belajar bahasa daerah tertentu.”

-Fadil, 22, alumni salah satu pesantren putra di Depok

Selain wajib menghafal mufrodat (kata-kata bahasa Arab), vocab, dan latihan pidato tiap minggu, para santri juga semangat bikin bahasa gaul atau kata-kata baru.

Kelas 1 SMA –> “kelas IV”

Kelas 2 SMA –> “Kelas V” (kayak anak SD)

“Berma” –> Ember bersama

“Mr. Goat” –> Julukan ustadz yang jenggotnya kayak… *disensor*

11. Mereka juga benar-benar dilatih ketabahannya. Setiap hari sholat di masjid tapi tidak juga menjadi ganteng, mereka begitu lapang dada.

Propaganda penuh kebohongan via harianbangganteng.blogspot.com

Berikut ini jadwal sholat para santri pada umumnya:

Sholat Jum’at –> di masjid (kadang sekalian sholat jenazah juga kalau di kampung ada yang meninggal)

Sholat Subuh –> di masjid

Sholat Dzuhur –> di masjid

Ashar – Maghrib – Isya’ –> di masjid

Bahkan kadang-kadang sholat malam pun di masjid sekalian mabit. Tapi… kenapa wajah mereka gak ganteng-ganteng ya?

“Sebenarnya gue selama jadi santri itu belajar sabar, sih. Sabar karena udah ratusan kali sholat Jum’at di masjid dan gak berubah-berubah jadi ganteng.”

-Ubay, 28, jebolan sebuah pondok pesantren di Solo

Sabar, Mz. via giphy.com

Yang sabar ya Mas. Memang, kalau mau ganteng itu pakai krim malem aja, jangan ke masjid.

11. Ketabahan pun diuji di dalam dapur umum. Makanan yang seadanya tak membuat kegembiraan mereka padam.

Dapur pesantren. Makan tahu sama sayur tempe? Ga masalah! via suyuk.blogspot.com

Di pondok, makanan apapun yang dimasak di dapur saat itu adalah bagian dari takdir — dia ada di luar kuasamu. Jadi jangan protes deh soal rasa makanannya. Habisin aja deh selahap-lahapnya!

“Sebenarnya sih makanannya bukannya nggak enak. Tapi kalau itu-itu aja selama enam tahun, lama-lama ayam kremes di lesehan pun rasanya kayak makanan dari restoran.”

-Meezan, 24, alumni sebuah pondok pesantren di Solo

Tapi jangan salah. Makanan yang nggak semewah restoran bintang lima nggak membuat mereka putus asa. Justru para santri sangat terlatih untuk tetap riang gembira dengan keadaan seadanya. Dapur selalu ramai, dari sarapan sampai makan malam. Makan sate (sayur tempe) tiap hari? Ya udah, nggak masalah!

12. Surga dunia para santri bukanlah sungai susu yang dialiri madu. Cukup sirup atau minuman serbuk yang diminum rame-rame pakai gayung.

Minum pakai gayung. Udah iyain aja. via wahyuvixi.wordpress.com

Di pesantren memang kebahagiaan nggak pernah muluk-muluk. Mau mandi dan cuma antri dua orang, bahagia. Jemur baju dan bajunya gak ilang, bahagia. Makan dan lauknya gak diambil temen, bahagia. Mau party pakai kacang goreng, melinjo, sama kue bolu… bahagia! Surga dunia, lagi!

Terus minumannya? Minumannya sirup sebotol atau minuman serbuk berenteng-renteng, yang dimasukin ke ember. Cara minumnya? Pake gayung, Bro…

(EHEHEHEHE.)

13. Kreativitas santri memang nggak ada duanya. Sarung yang jadi alat ibadah pun bisa juga jadi alas tidur, selimut, bahkan kain pel darurat.

Ngepel pakai sarung via el-karanjiy.blogspot.com

Kreativitas para santri itu nggak ada duanya. Selain setrika yang dijadikan kompor buat masak mie, sarung juga jadi obyek kreativitas para santri. Selain untuk alat ibadah, sarung juga bisa berfungsi sebagai alas tidur atau selimut. Bahkan bisa juga sarung lama kamu jadikan kain pel darurat.

Hayo ngaku, berapa kali kamu pernah ngepel kamar pakai sarung bekas? Sarungnya jangan dipakai sholat lagi ya! Hehe.

14. Kreativitas itu juga dipakai buat nulis surat cinta, dan ngerayu Mbak-Mbak Kantin biar mau jadi pacar ngirim surat itu ke gebetan mereka

Koperasi pesantren yes via darunnajah-multimedia.com

“Mbak…”

“Apa lagi???”

“Ih, galak banget. Ini lho, aku cuma mau ngasih surat…”

“Surat lagi, surat lagi!! Lempar sendiri sana ke pondok putri!”

“Lho kok gitu? Ya udah aku nulis surat buat Mbak juga deh nanti…”

*Mbak-Mbak Kantin pun berbinar* “Bener ya??”

“…. Iya deh… Tapi ini suratnya dikasih ke Fathia dulu ya. Abis itu baru aku tulisin yang lain buat Mbak. Jangan lapor Ustadz.”

“Yha~~”

Sama seperti bocah-bocah remaja yang lainnya, para santri juga bisa terinfeksi virus merah jambu. Meski demikian, gaya pacaran remaja di pesantren nggak seperti bocah-bocah biasa yang bisa teleponan tiap malam, SMS-an tiap waktu, dan jalan bareng tiap malam minggu. Gaya pacaran cowok-cowok di pesantren itu klasik banget! Yang paling sering dilakukan sih saling berkirim surat, dan biasanya yang jadi tukang pos adalah mbak-mbak kantin. Bahkan ada yang niat banget sampai kertas-kertas suratnya dikoleksi di dalam buku binder.

“Dear Fathia…

Kemarin sore aku melihatmu dari lantai dua masjid. Maukah kamu jadi pacarku?

Ndaru (kita belum pernah ketemu).”

15. Semakin naik tingkat, semakin kehidupan santri mengalir dalam dada. Apa yang dulu terasa aneh, kini sudah kamu terima.

Semakin lama semakin nyantri via seventeen-revolution.blogspot.com

Semakin lama menyantri, semakin terbiasalah para santri pada keunikan hidup di penjara suci. Hal-hal yang dulu aneh bagi mereka kini benar-benar sudah biasa.

Minum pakai gayung: CHECK.

Tidur di kelas: CHECK.

Ke kelas pakai sendal jepit: CHECK.

Dijasus: CHECK

Daleman ilang di jemuran: CHECK.

Dari kelas 1 sampai kelas 6, ikhlaskan saja~~ Kalau di kelas 7 jemuran masih ilang, tungguin jemurannya dan tangkep siapa yang nyuri, terus sidang

16. Saat ijazah sudah di tangan dan kalian akhirnya berpencar pulang, masa-masa di pondok putra akan selalu jadi kenangan yang hidup dalam pikiran

Selamanya via bahik.blogspot.com

Apapun yang kamu rasakan selama tiga atau enam tahun menempuh ilmu di pesantren, pengalamanmu memang terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Maklum, di sana, kamu bukan hanya menempuh ilmu berhitung dan bahasa — kamu juga belajar apa artinya menjadi manusia yang memahami agama.

Walau begitu, bukan berarti kamu otomatis akan jadi ustadz hanya karena kamu lulusan pesantren! Malah mungkin banyak orang yang kaget dan tak menyangka bahwa kamu dulu adalah santriwan. Ya, setelah lulus, penampilanmu mungkin sama seperti cowok-cowok kebanyakan: dengan kaos atau kemeja dan celana jeans ke mana-mana. Tidak apa-apa, ‘kan? Menjadi santri bukan berarti kamu berhenti bergaya seperti cowok-cowok pada umumnya.

Mungkin yang paling susah untuk kamu lupakan adalah teman-teman hidup yang kamu temui di sana. Dari seluruh penjuru Indonesia, kalian semua bahu-membahu untuk bertahan bersama tanpa keluarga.

Kalian menjadi adik dan kakak bagi satu sama lain, selalu perhatian akan kebaikan satu sama lain walau sudah berpisah. Ketika bertemu lagi, obrolan antara kalian pun masih cair, seperti tak pernah berpisah sehari saja…

Seberapa lama pun kamu ada di sana, pesantren akan selalu menjadi bagian dalam hidupmu. Bersyukurlah karenanya.