Curhat: WFH Kukira Bakal Lebih Santai, Ternyata Tantangannya dari Rumah Sendiri

Pengalaman pribadi menjalani work from home yang ternyata mengajarkan bahwa fleksibilitas juga butuh disiplin agar hidup tetap seimbang.

Kalau mengingat masa pandemi Covid-19, WFH nggak asing di telinga karena hampir semua kantor menerapkannya. Begitu juga dengan kantorku. Awalnya, kupikir bekerja dari rumah bakal jadi perubahan yang menyenangkan.

Apalagi, kalau dipikir-pikir, sebelum pandemi aku memang sudah mulai lelah dengan ritme kerja kantoran. Hampir setiap hari aku bangun sebelum matahari terbit supaya nggak terjebak macet, berangkat terburu-buru, lalu baru sampai rumah ketika hari mulai gelap. Besoknya rutinitas yang sama kembali terulang. Rasanya hidupku hanya berkutat di antara rumah, jalanan, dan kantor.

Karena itu, saat akhirnya bisa WFH, aku merasa menemukan sesuatu yang selama ini nggak kusadari. Aku punya lebih banyak waktu untuk diriku sendiri. Aku nggak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam di jalan, tanpa sempat olahraga, apalagi sarapan pagi.

Semakin lama menjalaninya, aku semakin menikmati ritme itu. Rasanya hidup jadi lebih seimbang. Di situlah mulai muncul satu pertanyaan yang terus terngiang di kepalaku.

Awal Cerita

Awal Cerita WFH

wfh sembari makan santai-canva via canva.com

“Kalau suatu hari nanti harus kembali bekerja dari kantor setiap hari, apa aku benar-benar siap?”

Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika pandemi mulai mereda. Kantorku mengumumkan kalau seluruh karyawan akan kembali bekerja dari kantor.

Entah kenapa, rasanya berat sekali membayangkan harus kembali ke rutinitas lama. Bukan karena aku nggak suka pekerjaannya, melainkan karena aku sudah merasakan bagaimana rasanya memiliki waktu yang lebih fleksibel saat menjalani WFH. Aku sadar, ternyata selama ini yang membuatku lelah bukan hanya pekerjaannya, tetapi juga ritme hidup yang mengikutinya.

Aku memikirkannya cukup lama. Keputusan ini jelas bukan sesuatu yang bisa diambil dalam semalam. Berkali-kali aku membuat daftar untung dan ruginya. Tetap bertahan sebagai karyawan dengan penghasilan tetap, atau mencoba jalan baru yang penuh ketidakpastian.

Pada akhirnya, aku memilih mengikuti kata hatiku. Aku mengundurkan diri dari pekerjaan kantoran dan memutuskan menjadi freelancer supaya tetap bisa menjalani WFH.

Jujur saja, waktu itu rasanya seperti beban besar terangkat dari pundakku. Aku membayangkan bisa mengatur jadwal sendiri, memilih proyek yang benar-benar kusukai, dan bekerja dari mana saja selama ada laptop serta koneksi internet. Dalam pikiranku, inilah kebebasan yang selama ini kucari.

Minggu-minggu pertama menjalani WFH, semua berjalan persis seperti yang kubayangkan. Aku menikmati pagi tanpa terburu-buru, bekerja sambil ditemani secangkir kopi, dan sesekali pindah ke kafe kalau mulai bosan di rumah. Kalau pekerjaan selesai lebih cepat, aku bisa langsung melakukan hal lain tanpa harus menunggu jam pulang kantor.

Beberapa teman bahkan bilang mereka iri melihat kehidupan baruku. Aku juga nggak menampik kalau waktu itu aku memang sedang menikmati semuanya. Bahkan aku sempat beberapa kali berkata kalau keputusan resign adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kuambil. Dalam pikiranku saat itu, menjadi freelancer dengan sistem full work from home memang jauh lebih cocok dibanding kembali menjalani rutinitas kerja nine-to-five.

Titik baliknya

Titik balik WFH

WFH sulit mengatur prioritas-canva via canva.com

Sayangnya, rasa percaya diri itu nggak bertahan selama yang kubayangkan.

Semakin lama menjadi freelancer, tanggung jawab yang datang juga semakin banyak. Awalnya aku senang karena proyek mulai berdatangan. Artinya, keputusanku resign bukan langkah yang salah. Namun, di balik rasa senang itu, aku tanpa sadar mulai menciptakan kebiasaan yang justru membuatku kembali sibuk.

Karena sekarang bekerja untuk diri sendiri, aku merasa harus selalu siap kapan pun ada pekerjaan datang. Saat ada calon klien menghubungi malam hari, aku langsung membalas. Kalau ada revisi mendadak, aku memilih mengerjakannya saat itu juga karena takut dianggap tidak profesional. Aku juga sering menerima proyek baru meski jadwalku sebenarnya sudah cukup padat. Dalam pikiranku saat itu, semakin banyak pekerjaan berarti semakin baik, alasan klasik mumpung lagi ada.

Awalnya kupikir itu hanya terjadi sesekali. Namun lama-kelamaan, kebiasaan itu berubah menjadi rutinitas. Laptop yang tadinya kututup sore hari mulai sering menyala lagi setelah makan malam. Hari Sabtu yang seharusnya kupakai untuk beristirahat perlahan berubah menjadi hari mengejar deadline. Bahkan sesekali hari Minggu pun ikut “dikorbankan” karena merasa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Puncaknya terjadi saat seorang teman mengajakku makan malam. Sudah lama kami tidak bertemu sejak aku resign. Awalnya aku pikir malam itu bakal jadi waktu yang menyenangkan untuk mengejar cerita yang sempat tertunda.

Nyatanya, sepanjang makan malam pikiranku justru terus tertuju pada notifikasi yang masuk ke ponsel. Beberapa kali aku meminta izin membuka laptop karena ada revisi yang menurutku harus segera kukirim malam itu juga. Temanku hanya tersenyum sambil bercanda, “Katanya resign biar hidup lebih santai?”

Aku ikut tertawa, tetapi dalam hati rasanya sedikit malu. Ucapan itu mengingatkanku pada diriku sendiri beberapa bulan sebelumnya. Aku begitu yakin bahwa menjadi freelancer dengan sistem full work from home adalah jawaban atas semua keluhanku selama bekerja di kantor. Tapi ternyata kenyataannya nggak sesederhana yang kubayangkan.

Advertisements

Setelah “gagal”

Setelah

Lelah bekerja-canva via canva.com

Malam itu, setelah pulang ke rumah, aku benar-benar memikirkan ucapan temanku. Memang terdengar seperti candaan, tapi ada benarnya juga. Selama ini aku mengira kalau resign dari kantor otomatis akan membuat hidupku lebih santai. Padahal yang berubah ternyata bukan hanya tempat bekerjanya, melainkan juga tanggung jawab yang harus kuatur sendiri.

Aku sempat kecewa pada diri sendiri. Rasanya lucu karena dulu aku sering mengatakan kepada teman-teman kalau hidupku pasti bakal lebih seimbang setelah menjadi freelancer. Nyatanya, aku malah membawa pekerjaan ke mana-mana. Mau di rumah, di kafe, bahkan saat sedang berkumpul dengan orang lain, pikiranku tetap dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai.

Namun setelah beberapa minggu mengevaluasi kebiasaan itu, aku mulai sadar kalau masalahnya bukan karena WFH. Selama ini aku hanya belum benar-benar belajar membuat batas antara waktu bekerja dan waktu untuk diriku sendiri.

Pelajaran yang aku ambil

Pelajaran selama WFH

WFH efisien-canva via canva.com

Aku mulai mencoba memperbaiki cara kerjaku. Aku harus belajar disiplin seperti saat masih bekerja di kantor.

Aku mulai menetapkan jam kerja yang jelas. Pagi tetap kugunakan untuk mulai bekerja, siang untuk beristirahat, dan sore menjadi batas kapan laptop harus ditutup. Kalau ada chat dari klien yang masuk malam hari dan sifatnya tidak mendesak, aku nggak lagi merasa harus langsung membalasnya. Ternyata, dunia tetap baik-baik saja meski balasan baru kukirim keesokan paginya.

Awalnya memang memicu overthinking, khawatir klien akan menganggapku tidak profesional. Nyatanya, selama komunikasi dilakukan dengan baik dan pekerjaan selesai sesuai kesepakatan, hampir semua klien bisa memahami. Dari situ aku belajar bahwa menjadi profesional bukan berarti harus selalu tersedia selama 24 jam.

Pelan-pelan aku mulai menemukan ritme yang nyaman. Setelah memiliki batas yang jelas, aku merasa WFH menjadi jauh lebih menyenangkan. Saat bekerja aku bisa benar-benar fokus, sedangkan ketika jam kerja selesai aku bisa menikmati waktu untuk diri sendiri tanpa terus-menerus memikirkan pekerjaan.

Pengalaman ini murni berdasarkan ceritaku sendiri. Bukan berarti resign dari kantor adalah pilihan yang tepat untuk semua orang. Begitu juga sebaliknya. Setiap orang punya kondisi pekerjaan, kebutuhan, dan cara bekerja yang berbeda-beda.

Ada yang merasa bekerja dari rumah membuat jam kerja jadi berantakan karena batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi terasa semakin tipis. Namun, ada juga yang justru merasa WFH membuat hidup lebih seimbang karena bisa mengatur waktu dengan lebih disiplin dan fleksibel. Menurutku, keduanya sama-sama wajar. Yang paling penting adalah menemukan ritme yang paling cocok dengan diri sendiri.

Kalau kamu masih dalam proses mencarinya, nggak apa-apa. Beradaptasi memang butuh waktu. Sebaliknya, kalau kamu sudah merasa nyaman menjalani WFH dan berhasil menjaga kedisiplinan, itu juga patut disyukuri. Pada akhirnya, setiap orang punya perjalanan yang berbeda. Yang terpenting bukan mengikuti pengalaman orang lain, melainkan menemukan cara bekerja yang membuatmu tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi.

Apakah work from home cocok untuk semua orang?

WFH belum tentu cocok untuk semua orang

menikmati momen wfh-canva via canva.com

Belum tentu. Ada yang lebih produktif saat bekerja dari rumah, ada juga yang lebih nyaman dengan rutinitas di kantor. Semuanya bergantung pada karakter, jenis pekerjaan, dan kemampuan masing-masing dalam mengatur waktu.

Kalau kamu merasa relate, yuk bagikan ke teman atau rekan kerjamu yang ingin menjalani WFH. Baca juga tips WFH di sini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang vocal coach, content writer, dan author yang menjadikan suara dan tulisan sebagai medium ekspresi, pembelajaran, dan pemulihan. Memiliki ketertarikan besar pada eksplorasi hal-hal baru, proses kreatif, serta kepedulian terhadap kesehatan mental. Percaya bahwa suara, kata, dan empati dapat menciptakan ruang aman untuk bertumbuh, baik secara personal maupun profesional.

Editor

Seorang SEO Specialist dan Editor dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam optimasi website, pengelolaan konten, dan peningkatan performa SEO secara organik.