Mendengar nama Lobang Buaya, sebagian besar orang Indonesia mungkin langsung teringat pada peristiwa 30 September 1965. Nama kawasan tersebut memang begitu lekat dengan salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Namun, bagaimana jika nama Lobang Buaya dibawa ke layar lebar dalam cerita yang berlatar 309 hari sebelum peristiwa tersebut?
Itulah yang ditawarkan film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah. Disutradarai Hanung Bramantyo, film ini mengambil latar tahun 1964 dan menggabungkan misteri pembunuhan, konflik sosial, serta unsur supernatural.
Bukan Film yang Menceritakan Kembali G30S

Sumber gambar: Youtube Cinema 21
Judulnya memang membuat penonton mengira film ini adalah kisah tentang peristiwa G30S. Padahal, cerita yang ditawarkan cukup berbeda.
Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa Lobang Buaya bukan kisah nyata dan mengambil latar satu tahun sebelum tragedi 1965. Film ini menggunakan konteks sosial-politik pada masa tersebut sebagai pijakan untuk membangun cerita fiksi.
Jadi, jangan berharap melihat rekonstruksi langsung peristiwa 30 September 1965.
Sebaliknya, penonton akan diajak mengikuti penyelidikan Letnan Soegeng terhadap serangkaian pembunuhan misterius di sebuah desa bernama Lobang Buaya. Di tengah penyelidikan tersebut, muncul pula teror supernatural yang membuat kasusnya semakin rumit.
Dengan kata lain, film ini lebih tepat dilihat sebagai film horor Indonesia berlatar sejarah, bukan dokumenter atau film sejarah yang merekonstruksi peristiwa 1965.
Sinopsis Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah
Sumber gambar: Akun Instagram @filmlobangbuaya
Cerita berpusat pada Letnan Soegeng yang diperankan oleh Baskara Mahendra.
Ia mendapat tugas untuk menyelidiki serangkaian pembunuhan terhadap para tokoh desa. Para korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan, dengan punggung berlubang dan tubuh yang memuat tulisan seperti “Tamak”, “Lamis”, hingga “Maruk”.
Pola tersebut tentu saja membuat kasus ini terasa lebih dari sekadar pembunuhan biasa.
Di tengah penyelidikan, warga mulai dihantui cerita tentang sosok bernama Hantu Bolong. Sementara itu, Arum Wangi, istri Soegeng yang diperankan Carissa Perusset, juga mengalami gangguan dari sosok perempuan misterius.
Soegeng akhirnya harus mengurai dua persoalan sekaligus. Ia perlu mencari tahu siapa dalang di balik pembunuhan para tokoh desa, sekaligus memahami kaitan antara teror yang dialami istrinya dengan kasus yang sedang ia selidiki.
Semakin jauh penyelidikan berjalan, semakin banyak rahasia yang terbuka.
Ada “Tujuh Setan Desa” di Balik Ceritanya

Sumber gambar: Youtube Cinema 21
Salah satu bagian menarik dari film Lobang Buaya adalah penggunaan istilah “tujuh setan desa”.
Istilah tersebut bukan sekadar nama yang dibuat untuk film. Hanung mengatakan cerita filmnya mengambil pijakan dari konteks sosial-politik pada sekitar 1963, ketika istilah tersebut digunakan dalam propaganda politik untuk menyebut kelompok-kelompok yang dianggap mengeksploitasi dan menekan masyarakat desa.
Dalam film, gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam kisah para pejabat dan tokoh berkuasa di desa yang digambarkan melakukan penindasan.
Hanung juga menggunakan tema tersebut untuk menyampaikan kritik sosial. Menurutnya, persoalan mengenai penyalahgunaan kekuasaan dan ketimpangan sosial masih relevan untuk dibicarakan hingga sekarang.
Cast di Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah

Sumber gambar: Akun Instagram @filmlobangbuaya
Selain Baskara Mahendra sebagai Letnan Soegeng dan Carissa Perusset sebagai Arum Wangi, film ini juga dibintangi sejumlah aktor lain.
Ada Anya Zen, Iskak Khivano, dan Mathias Muchus yang turut mengisi jajaran pemeran. Sementara itu, Hanung Bramantyo menjadi sutradara sekaligus salah satu penulis skenario bersama Haqi Achmad.
Film ini memiliki durasi sekitar 99 menit dan mendapat klasifikasi usia 17 tahun ke atas. Sebelum tayang di Indonesia, Lobang Buaya sendiri juga telah diputar di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026 dalam program Harbour.
Untuk penonton Indonesia, film ini mulai hadir serentak di bioskop pada 1 Oktober 2026.
Bukan Film Horror Berdekorasi Masa Lalu Biasa!

Sumber gambar: Youtube Cinema 21
Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah tidak sekadar menjadikan masa lalu sebagai dekorasi cerita.
Film ini mengambil suasana Indonesia menjelang 1965 untuk membangun kisah tentang pembunuhan misterius, ketegangan masyarakat, penyalahgunaan kekuasaan, dan teror supernatural.
Karena film ini pada dasarnya adalah film fiksi yang berangkat dari sejarah nyata, ada dua hal yang sebaiknya dipisahkan ketika menonton film ini: sejarah sebagai latar dan fiksi sebagai cerita.
Di sini, nama Lobang Buaya, konteks sosial-politik, dan istilah “tujuh setan desa” memiliki hubungan dengan sejarah. Sementara karakter Soegeng, kasus pembunuhan misterius, Hantu Bolong, dan unsur ritual dalam film merupakan bagian dari konstruksi cerita.
Bagi kamu yang tertarik dengan film misteri berlatar masa lalu, Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah menawarkan kombinasi yang cukup berbeda. Ada yang sudah nonton film ini?