Setelah mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 pada final Senin (14/7) WIB, tim nasional Jerman secara pantas dan meyakinkan menjuarai turnamen Piala Dunia 2014. Kenapa disebut pantas? Karena konsistensi mereka dari babak awal hingga final turnamen yang diselenggarakan di Rio De Janeiro itu. Kenapa meyakinkan? Karena terlepas dari skor yang tipis, Jerman unggul dari Argentina hampir dari segala aspek permainan: jumlah serangan berbahaya, ball possession, sampai jumlah umpan yang dilakukan.

Lalu sebenarnya apa yang bikin Timnas Jerman begitu unggul? Apa yang membuat mereka begitu lapar di lapangan hijau? Ternyata, kerja keras mereka dimulai jauh sebelum partai final (dan yang pasti jauh sebelum partai semifinal melawan Brazil). Nggak tanggung-tanggung, mereka sudah menyiapkan diri sejak 10-15 tahun yang lalu. Terus apa aja yang mereka lakukan selama belasan tahun itu? Di bawah ini Hipwee udah susun 11 kunci sukses yang bisa kita pelajari dari keberhasilan Jerman merajai sepak bola dunia:

1. Kesatuan Visi dan Tujuan Antar Anggota Itu Mutlak Penting

Penantian panjang setelah 24 tahun via www.fifa.com

Seluruh anggota tim dan staf timnas Jerman sangat jelas soal ini: mereka ingin jadi juara dunia. Bukan hanya soal menang di atas lapangan saja, tapi juga memenangkan hati rakyat Jerman dengan memainkan sepak bola yang atraktif dan menyerang.

Jika kamu bekerja dalam tim, pastikan kamu dan semua rekan tim-mu memiliki ambisi, visi, dan tujuan yang sama. Jangan sampai yang satu begitu menggebu-gebu sementara yang lainnya malas-malasan. Jangan sampai juga pandanganmu terhadap masa depan tim jauh berbeda, karena ini akan memecah persatuan. Timnas Jerman tak akan pernah bisa menjadi juara kalau mereka tidak kompak.

2. Inovasi Adalah Kunci

Advertisement

Tiap penampilan akan dianalisa via www.fifa.com

Inovasi tim nasional Jerman dimulai ketika Jurgen Klinsmann ditunjuk melatih di tahun 2004. Bersama Joachim Loew, yang saat itu masih menjadi asisten pelatih, Klinsmann melakukan gebrakan dengan taktik permainan menyerang dan formasi yang dinamis. Dengan taktik ini, pemain dituntut untuk bisa memainkan beberapa peran dan posisi. Bahkan saat Piala Dunia 2006 Klinsmann menggunakan jasa para ahli sport science dan komputer untuk membangun gudang data tentang kinerja pemain di lapangan serta pemain tim lawan. Gudang data itu terus dipertahankan hingga berbentuk aplikasi smartphone dan tablet untuk pelatih dan pemain Jerman.

Inovasi ini sempat dicibir oleh pelatih-pelatih senior dan ahli sepak bola di Jerman, tapi Klinsmann, Loew, dan tim tak peduli. Kini lihat saja hasilnya. Kamu juga harus bisa berinovasi. Jangan hanya tunduk pada apa yang menurut orang-orang di sekitarmu benar. Walaupun yang kamu lakukan terlihat aneh atau ganjil bagi orang lain, kalau menurutmu itu baik, kamu harus berani mempertahankannya. Lambat laun kesuksesan akan mengetuk pintumu dan orang-orang yang dulu mencibirmu akan diam.

3. Latihan, Latihan, Latihan Jadi Kewajiban.

Sesi latihan timnas Jerman via sdgpr.com

Kesuksesan Jerman di Piala Dunia 2014 dimulai dari latihan yang intensif tanpa mengenal lelah. Pelatihan mereka disertai dengan persiapan yang matang, disiplin tinggi khas budaya Jerman, dan semangat juang yang nggak main-main. Piala Dunia adalah turnamen yang berat karena pesertanya mesti bertanding tiap 4-5 hari, tapi pemain Jerman nggak pernah mengeluhkan hal ini. Mereka mungkin bukan yang paling berbakat di dunia, tapi pastinya mereka yang berusaha paling keras.

Gimana dengan kamu? Sudah seberapa rajin kamu berlatih supaya band-mu menang lomba, nilai Matematika-mu bukan lagi 3, atau bahasa Inggrismu jadi lebih tertata?

4. Pertahankan Fleksibilitas

Fleksibel menjalankan taktik via www.fifa.com

Walaupun Jerman sering disebut dengan julukan Tim Panser, mereka gak sekedar kuat dan tangguh kayak tank aja. Mereka juga sangat fleksibel. Walaupun tiap permainan dijalani dengan strategi yang sebelumnya telah ditentukan, pemainnya berani bertukar posisi supaya semakin merepotkan lawan. Lawan mereka akan sulit mengantisipasi karena perubahan posisi ini dilakukan dengan cepat. Kalaupun cara ini bisa dideteksi lawan, pelatih Joachim Loew sudah menyiapkan taktik yang berikutnya. Pemain pun akan fleksibel menuruti taktik manapun yang akhirnya terpakai.

Untuk sukses pun kamu juga harus fleksibel. Walau sudah membuat rencana yang sempurna, kalau kondisi di lapangan nggak memungkinkan, kamu harus secerdik Timnas Jerman dan mengganti strategimu.

5. Hargailah Keberagaman

Timnas Jerman sangat terbuka bagi beragam ras via www.fifa.com

Sejak sepuluh tahun belakangan, Jerman telah membangun tim yang menggabungkan talenta berbagai keturunan imigran dengan talenta asli Jerman. Eksistensi Ozil yang keturunan Turki, Khedira yang keturunan Tunisia, Boanteng yang berdarah Ghana serta Klose dan Podolski yang berdarah Polandia adalah bukti keberhasilan Jerman dalam membangun tim yang “bhinneka”. Bagi negara yang sejarahnya hingga kini dibayang-bayangi rasa malu terhadap kekejaman Nazi, ini tentunya luar biasa. Selain pemain yang beragam, para pelatih sepak bola di Jerman juga nggak segan-segan belajar ke luar negeri untuk mengambil ilmu. Terhitung, mereka berkelana hingga Spanyol, Belanda, Perancis dan Brasil.

Kamu harus bisa meneladani keterbukaan Timnas Jerman dalam menerima anggotanya. Buang jauh-jauh stereotip di otakmu tentang suku atau agama tertentu. Nggak suka teman kerjamu hanya karena dia orang Padang? Ada-ada aja! Nggak menerima pelamar di perusahaanmu hanya karena dia Syiah? Wah, nggak banget! Kalau visi dan tujuan kalian sama-sama memajukan organisasi atau perusahaan, kenapa harus bersikap antagonis pada mereka?

6. Perbedaan Umur Bukan Halangan Untuk Maju

Pencetak gol kemenangan, Goetze menggantikan pencetak gol terbanyak di Piala Dunia, Klose via www.fifa.com

Joachim Loew berhasil membuat keseimbangan antara pemain yang belia dengan yang berpengalaman dalam timnya. Contohnya, Klose yang udah berumur 35 tahun bisa bermain dengan mulus bersama pemain berusia 23 tahun seperti Schuerrle. Hasilnya? Sebuah tim dengan performa tinggi karena pengalaman para pemain seniornya serta energi pemain juniornya.

Kalau dirimu mau sukses, jangan segan-segan menimba ilmu dengan orang yang usianya lebih tua dari kamu. Kalau justru kamu yang paling tua di antara yang lain, jangan jumawa dan merendahkan mereka yang lahir setelahmu. Hargai potensi dan energi yang mereka miliki. Justru dengan itu kamu akan bisa terbantu.

7. Bangunlah Tim Yang Padu

There is no I in team via www.fifa.com

Jika Argentina punya Messi, Portugal punya Ronaldo dan Brasil memiliki Neymar, maka Jerman punya sebelas individu yang berpadu menjadi satu tim. Mereka memiliki barisan pemain berbakat yang berkolaborasi dengan efektif sebagai tim. Ide ini sesuai dengan filosofi bangsa Jerman, dimana seorang individu harus mau berkorban demi kepentingan bersama. Setiap pemain Jerman menyadari bahwa dia sebagai individu punya tanggung jawab besar untuk negaranya. Demi menjaga semangat ini, pelatih Joachim Loew turun tangan mengajarkan mereka nilai-nilai kebersamaan. Loew juga akan menyelesaikan konflik di dalam tim sebelum berlarut-larut dan terendus media.

Supaya bisa mengecup kesuksesan, kamu harus sadar bahwa dirimu bukanlah bagian yang paling penting dalam tim. Cita-cita bersama adalah yang wajib harus diperjuangkan. Nah, sudahkah kamu hidup dengan keyakinan ini?

8. Tidak ada yang datang secara instan

Hasil selama 10 tahun via www.goal.com

Seperti yang udah Hipwee beberkan di atas, kesuksesan Jerman di Piala Dunia kali ini adalah hasil dari visi jangka panjang. Dimulai dari kekalahan Jerman yang memalukan di Piala Eropa sepuluh tahun yang lalu, Asosiasi Sepakbola Jerman (Deutsche Fussball Bund–DFB) memutuskan memberi ruang pada Klinsman dan Loew untuk membangun tim yang terdiri dari darah muda. DFB sendiri mencontoh klub seperti Manchester United, Ajax Amsterdam, dan FC Barcelona yang mengandalkan pengembangan pemain muda. Sejak itu, perhatian sepak bola Jerman selalu kepada pelatihan pemain muda dan memberikan mereka kesempatan untuk bermain di liga-liga besar Eropa. Dalam waktu sepuluh tahun, tim Jerman pun berkembang menjadi tak terkalahkan.

Ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa nggak ada sesuatu yang instan. Kesuksesan yang kamu cita-citakan hanya akan datang kalau kamu punya ketahanan baja. Nggak cuma dalam waktu 1 atau 5 tahun saja. Ketahanan itu harus ada sampai 10 tahun, atau bahkan seumur hidup.

9. Selalu Fokus

Tim ini memiliki fokus via www.fifa.com

Tiap anggota tim, pelatih & staf, serta DFB selalu terfokus pada tujuan mereka: kembali ke puncak dunia. Perhatian mereka jarang teralihkan dan terus bekerja keras sebelum tujuan mereka tercapai. Fokus ini terjemahkan di atas lapangan ketika pemain Jerman terus-menerus melancarkan serangan, bahkan saat mereka sudah memimpin pertandingan. Kamu pikir kenapa mereka bisa melindas Brasil dengan skor 7-1 pada 9 Juli lalu?

Kalau kamu sudah punya suatu tujuan dalam hidup, tancapkan di dahimu bahwa kamu nggak akan mangkir sebelum mencapai tujuanmu itu. Jangan lengah meskipun kamu sudah berada di atas angin.

10. Jangan Hanya Bisa Berencana

Pemain yang bertanggungjawab akan jalannya strategi via www.fifa.com

Seluruh latihan dan kerja keras bakal percuma jika itu semua nggak dieksekusi dengan baik di dalam pertandingan. Strateginya cukup simpel, cetak gol secepat dan sebanyak mungkin sambil menghalangi lawan berbuat hal yang sama. Setelah itu, atur strategi lagi apakah tetap menyerang atau menguasai pertandingan dan mengamankan kemenangan. Semua rencana itu dijalankan dengan baik oleh Lahm dan kawan-kawan.

Kalau kamu mau sukses, jangan cuma duduk dan menyusun rencana saja. Rencana yang sempurna akan bisa menjadi kesuksesan yang sempurna hanya jika kamu benar-benar keluar dan mencoba.

11. Tetap Rendah Hati, Ramah, dan Fun

Klose menikmati waktunya di Brasil. via s.ndtvimg.com

Timnas Jerman terus menjaga hubungan yang baik dengan semua pihak. Mereka selalu bersedia diwawancara dan selalu ramah kepada fans-nya. Selama di Brasil, anggota tim Jerman tetap menghormati budaya lokal. Mereka akrab dengan warga yang tinggal di sekitar tempat mereka menginap.

Bahkan setelah mereka menghancurkan tuan rumah Brasil di semifinal, warga lokal tetap menaruh simpati pada Timnas Jerman karena mereka berusaha membesarkan hati pemain Brasil, tetap rendah hati, dan nggak larut dalam kemenangan. Begitu pula yang terjadi saat mereka melindas Argentina di final.

Membesarkan hati yang kalah via www.fifa.com

Piala Dunia emang udah berakhir, dan baru akan bergulir lagi pada 2018 di Rusia. Namun teladan yang diajarkan Jerman bisa dipetik dan dimanfaatkan sebagai kunci sukses pribadi kita masing-masing sampai kapanpun.