Usia 25 bisa dibilang menjadi pintu gerbang fase kedewasaan. Di usia ini kita dituntut untuk mulai berpikir taktis – sederhana namun tepat sasaran. Logika juga harus mulai digunakan, jangan hanya mengandalkan perasaan yang seringnya membuat kita terjerembab.

Untuk urusan cinta, menjadi dewasa berarti membebaskanmu untuk melakukan dua hal. Yakni mempertahankan hubungan yang memang layak kamu perjuangkan atau harus merelakan hubungan yang tidak membawamu kemana-mana. Sebelum jauh melangkah di usia yang katanya sudah boleh mengambil keputusan sendiri ini, sebaiknya pahami hubungan yang hanya menghambatmu untuk berkembang. Lebih baik kamu relakan.

1. Menjalin hubungan memang harus punya kemampuan kompromi yang mumpuni. Tapi tinggalkan hubungan yang membatasimu untuk bermimpi

Tinggalkan dia yang membatasimu bermimpi via www.dustincantrellphotoblog.com

Aku sebenarnya masih pengen kerja disini. Biar portofolioku bagus.

Terus kapan kita nikah kalau kamu mikir karir terus?

Kasih waktu aku setahun lagi aja. Lagian kita kan bisa sambil ngomongin rencana nikah, nggak harus nunggu aku resign kan?

Enggak, aku mau nikah secepatnya dan kamu harus resign. Aku nggak mau punya istri yang kerja!

Kamu pernah berada dalam masa ‘tak apa mengabaikan mimpi pribadi, asal bisa terus bersama dia’. Seakan ini menjadi hal romantis yang dilakukan orang untuk pasangannya. Namun selepas 25, cara berpikir seperti inilah yang akan paling kamu sesali.

Advertisement

Menjalin sebuah hubungan memang butuh kemampuan kompromi yang mumpuni. Semuanya harus dibicarakan berdua dan juga disepakati berdua pula. Termasuk batasan untuk seberapa jauh kamu dan dia bisa berupaya menggapai mimpi pribadi. Dan seberapa jauh mimpi pribadi bisa untuk sementara diutamakan dari mimpi membangun hidup bersama. Kamu dan dia perlu membuat kesepakatan.

Tapi kesepakatan yang ada bukan bertujuan untuk menghalangi dan membatasimu untuk bermimpi. Di umur ini kamu masih bebas mengupayakan apa yang telah lama kamu impikan. Jika dia tidak bisa diajak berkompromi, kamu boleh mengikhlaskan hubungan seperti ini untuk berakhir.

2. Masa depanmu harus segera dirancang. Tidak mudah, tapi kamu harus relakan hubungan yang tak juga memberimu kepastian

Tinggalkan dia yang tidak memberimu kepastian via www.logancoleblog.com

Setelah sekian lama bersama, dia tak juga memperlihatkan niatan untuk memberi kepastian dalam hubungan kalian. Setiap kamu bertanya apa rencana ke depan, dia selalu menjawab jalani saja dulu. Atau ‘Iya nanti kita pikirkan’ selalu jadi andalan. Dia selalu membuatmu menunggu dalam satuan waktu ‘nanti’ – yang entah kapan akan menjadi realisasi.

Kalau boleh jujur, kamu sebenarnya tak punya waktu lagi untuk terus menunggu. Kamu harus menentukan sikap mulai sekarang. Sebab masa depanmu harus segera dirancang. Jangan terus tenggelam dengan bujukan ‘nanti’. Jangan menyesal ketika menyadari waktumu sudah tak banyak lagi. Kamu sudah terlalu lama menunggu, ini saatnya kamu menjadi berani dalam mengambil keputusan.

3. Hubunganmu yang sudah lama berjalan cuma meributkan perihal batal malam mingguan. Hal penting lainnya justru selalu diabaikan

Kamu tak punya waktu meributkan hal-hal kecil via dylandsara.com

Sayang, maaf kayaknya besok kita nggak ketemuan dulu ya. Aku ada acara dari siang sampe malem, workshop penulisan gitu

Kan besok malam minggu, kok malah kamu datang ke acara nggak penting sih

Nggak penting gimana, acara kayak gini jarang-jarang. Kita tiap malam minggu kan udah sering ketemu

Pokoknya kamu nggak boleh pergi kesana!

Hubungan kalian sudah berjalan tahunan, tapi urusan pertengkaran masih dipicu oleh hal-hal remeh. Seremeh dia yang marah karena batal malam mingguan. Dia lebih suka meributkan hal-hal kecil yang sebenarnya tak menjadi pondasi hubungan kalian. Sehingga hal-hal lain yang jauh lebih penting secara tidak sadar diabaikan begitu saja.

Kalau kamu bertahan dalam hubungan ini, yang kamu temui hanyalah drama. Dan jelas, drama tidak akan membuat hubungan kamu dan dia kemana-mana..

4. Dia paling jago membuatmu merasa bersalah dalam setiap pertengkaran. Tinggalkan segera, hubungan ini mulai tidak berimbang

Kamu dibuat berdosa olehnya via eventsbytiffie.wordpress.com

Ini maksudnya apa? Kamu malah pergi sama cewek itu dan mesra-mesraan gitu

Lho, kok nyalahin aku. Aku juga butuh temen. Salah sendiri kamu sibuk, pacar sendiri nggak diperhatiin

Dia paling pandai berkelit dan membalikkan keadaan dalam setiap pertengkaran. Kamu dibuat berdosa, bahkan atas kesalahan yang sama sekali tidak pernah kamu lakukan. Hubungan ini dia buat tidak berimbang. Dia selalu memposisikan dirinya sebagai korban, sedangkan kamu adalah orang yang paling sering menyakitinya. Kondisi seperti ini hanya akan membuat hatimu lebam setiap waktu.

5. Sampai kapan kamu tahan menanggung beban sendiri? Saat setiap cobaan tiba, dia memilih menyingkir

Kamu harus menanggung beban sendiri via www.logancoleblog.com

Setiap adalah masalah datang, kamu butuh dia untuk sekedar mendampingi atau menenangkan pikiranmu yang sedang kacau. Tapi seringnya dia memilih menyingkir. Baginya terlalu merepotkan untuk menemanimu dalam kondisi yang tidak baik. Alih-alih menanyakan kondisimu, dia selalu hadir dengan kalimat

Ngapain sih gitu aja dipikirin. Repot banget jadi orang

Seakan cobaan yang datang juga menjadi kesalahanmu. Sedangkan dia memilih pergi ketika kamu berada di titik terendah dalam hidupmu. Jika tidak berani merelakan, sampai kapan kamu mau menanggung beban sendirian?

Hubungan yang dewasa seharusnya menjadi hubungan yang bisa membuat kamu dan dia berkembang bersama. Bukan yang membunuhmu secara perlahan.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!