Artikel ini adalah hasil kerjasama Hipwee Community dengan Bukapintu.co, online platform untuk mahasiswa dan fresh graduates mencari magang dan kerja, serta belajar tentang karir dan budaya perusahaan. Temukan pekerjaan yang kamu suka di sini.

“Bro, kayaknya gue salah jurusan.”

Keluhan ini seringkali kita dengar di lingkungan kampus–entah beberapa teman kita yang mengeluh, atau bahkan kita sendiri.

Perasaan “salah jurusan” sangat umum dirasakan mahasiswa dari jaman dulu hingga sekarang. Biasanya, “kesalahan” ini baru disadari mahasiswa setelah melalui beberapa semester awal kuliah, dan kemudian merasa tidak cocok (tidak suka atau tidak bisa) mengikuti mata kuliah yang ada di jurusan tersebut.

Apa solusinya? Pindah jurusan? Cuma beberapa orang yang cukup berani untuk mengambil risiko itu dan memulai kuliah dari nol lagi. Sisanya (mungkin termasuk kamu) tetap bertahan di jurusan yang sama. Berusaha lulus sampai akhir, dan .mendulang sebesar-besarnya manfaat yang bisa diberikan gelar itu.

Setelah lulus dari jurusan yang dirasa “salah” ini, lalu apa? Apa karena kita terlanjur memilih jurusan yang salah lantas kita juga harus bekerja di industri atau posisi yang tidak sesuai dengan diri kita?

Tapi hey, bahkan orang yang saat kuliah gak salah jurusan pun, sering bekerja di industri yang jauh berbeda dari passion mereka.

Nyatanya, hanya sedikit juga sarjana yang memiliki pekerjaan sesuai dengan jurusan kuliah mereka. Tak usah khawatir, karena ada 5 langkah yang bisa kamu lakukan jika kamu merasa salah jurusan:

 

1. Cari pengalaman di bidang yang lebih sesuai

Cari pengalaman

Cari pengalaman via http://tokyogirlsupdate.com

Jika kamu merasa salah jurusan, cobalah membekali diri dengan pengalaman–baik pengalaman magang atau organisasi–yang lebih sesuai dengan minat dan skill kamu.

Misalnya, kamu mahasiswa jurusan Teknik Industri yang ternyata merasa lebih bisa cocok di bidang Manajemen Pemasaran. Kalau kamu sudah menyadari ketidakcocokan ini, carilah kesempatan magang di fungsimarketing. Di kepanitiaan kampus, ambillah role yang mengharuskan kamu menjalankan banyak fungsi marketing seperti Divisi Publikasi.

Pengalaman ini akan stand out di resume kamu jika setelah lulus kamu memutuskan mengambil jalur karir yang berbeda dengan jurusan kuliahmu.

2. Selain pengalaman, bekali diri dengan skill yang relevan

Berlatih terus!

Berlatih terus! via http://shutterstock.com

Hal yang lebih penting dari asal universitas dan jurusan kamu adalahskill. Sama seperti poin 1 di atas, kamu tidak hanya harus memiliki pengalaman, tapi juga membuktikan bahwa kamu memiliki strength di bidang tersebut.

Memakai contoh di poin 1, jika kamu sudah memiliki beberapa pengalaman di fungsi marketing baik di magang atau kepanitiaan, saat mencari pekerjaan cobalah highlight pencapaian-pencapaian kamu di pengalaman kamu tersebut.

Misalnya, saat menjadi bagian dari Divisi Publikasi, kamu berhasil mendatangkan ribuan pengunjung ke suatu acara dengan memanfaatkan media sosial Skill ini akan jauh lebih dilihat oleh perusahaan dibandingkan latar belakang pendidikan kamu.

3. Perluas jejaring di bidang yang ingin kamu tekuni

Akrabi banyak orang

Akrabi banyak orang via http://shutterstock.com

Poin ini tidak boleh dilupakan. Jika bidang yang ingin kamu tekuni bukan makanan sehari-hari kamu di bangku perkuliahan, otomatis kamu harus memiliki inisiatif untuk mengembangkan jejaring di luar kampus.

Misalnya, lagi-lagi memakai contoh di poin sebelumnya, kamu bisa mengikuti berbagai meetup, workshop, atau kompetisi yang berhubungan dengan bidang marketing. Hal ini akan mempertemukan kamu dengan teman-teman maupun mentor di bidang tersebut, sehingga kamu bisa belajar serta mendapatkan akses ke berbagai opportunity dari mereka.

4. Saat sedang tidak semangat, ingat lagi sudah seberapa jauh kamu melangkah

Kamu sudah sejauh ini...

Kamu sudah sejauh ini... via http://tokyogirlsupdate.com

"Aku tahun depan mau ikut SBMPTN lagi aja, lah! Stres nih di sini!"

"Waduh, umur kamu udah berapa? Yakin mau lulus kuliah di umur 26 tahun?"

Namanya juga salah jurusan, wajar kalau kamu sering merasa tidak semangat kuliah. Semakin mendekati tingkat akhir, alih-alih berpikir untuk semakin ingin menyelesaikan pendidikan kamu justru sering berkhayal untuk memulai semuanya dari awal lagi.

Saat sudah begini, kamu harus "cepat kembali ke alam nyata". Tanyakan ke dirimu sendiri: yakin kamu punya energi untuk mengulang semuanya dari awal? Untuk duduk satu angkatan dengan orang-orang yang usianya 2-3 tahun lebih muda dari kamu? Untuk lulus di usia 25 atau 26 tahun, sementara kebanyakan lowongan buat fresh graduates punya batas maksimal usia pelamar?

Kamu sudah melangkah jauh sekali. Kalau harus ulang dari awal lagi, apa kabar usaha kamu selama ini?

 

5. Yang paling asyik sih, kamu bisa mengkolaborasikan minatmu yang sebenarnya dengan latar belakang pendidikanmu

Salah jurusan? No prob!

Salah jurusan? No prob! via http://shutterstock.com

Mengkolaborasikan gimana nih maksudnya? 

Contohnya begini. Kamu mahasiswa jurusan Akuntansi yang sebenarnya punya minat di bidang musik. Sembari nge-band, kamu bisa banget mengaplikasikan ilmu Akuntansi kamu dengan menyusun pembukuan dan memaksimalkan cashflow band-mu. Band yang sukses juga butuh manajemen cashflow yang baik, bukan? Jadi selagi belum mampu menyewa akuntan sendiri, kamu dan band-mu bisa banget memanfaatkan ilmu akuntansi kamu untuk urusan ini.

 

Memang nggak mudah jadi mahasiswa salah jurusan. Tapi, bukan berarti kamu harus putus asa. Pintu karirmu masih lebar terbuka, kok!

Yang pasti, salah jurusan bukan alasan kamu bisa malas-malasan. Yang terasa "salah" cukup jurusanmu saja. Jangan hidup dan masa depanmu juga :)