Kuliah lapangan udah nggak asing lagi bagi anak-anak jurusan ilmu sosial-alam yang berkaitan dengan kehidupan manusia, khususnya dijurusan antropologi. Antropologi itu apa ya? Ilmu gali-gali batu? Ilmu bintang-bintang? Eitss...bukan keles! Antropologi adalah jurusan ilmu sosial yang mempelajari tentang manusia dan budayanya. Nah, dijurusan antropologi kita bisa belajar kebudayaan  Indonesia dan luar negeri nggak hanya didalam ruang kelas.  

Tugas-tugas dijurusan antropologi yang lebih banyak penelitian mengharuskan mahasiswanya untuk rajin pergi ke desa atau masyarakat untuk jalan-jalan cantik kuliah lapangan. Kalau kamu pernah menonton film Sokola Rimba, kisah Butet Manurung dalam film itu adalah salah satu kerja dari para antropolog. Simak nih, sekelumit pahit manis kehidupan mahasiswa antropologi yang menunaikan kuliah lapangan!

 

1. Tinggal disebuah desa/ tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya

Pergi ke desa desa

Pergi ke desa desa via http://www.blog.ub.ac.id

Welcome to the new life guys! Kuliah lapangan berlokasi di wilayah yang jauh dari “peradaban” kampus. Misal nih, kampusmu berada di kota. Nah, biasanya lokasi desa kuliah lapangan mahasiswa antropologi berada di kabupaten atau diluar kota. 

Kalau mau jauh lagi juga bisa, bahkan mungkin saja sampai pergi keluar pulau (pastinya masih di negeri kita tercinta ini). Desa lokasi kuliah lapangan biasanya memiliki karakteristik seperti pedesaan, pesisir atau pegunungan.

 

 

2. Tinggal dan hidup mandiri untuk beberapa hari di desa kuliah lapangan bersama-sama teman seangkatan, dan yang paling penting, hidup bersama dengan keluarga baru

Bertemu keluarga baru

Bertemu keluarga baru via http://www.lindenwood.edu

Ini nih seninya kuliah lapangan ala mahasiswa antropologi! Nggak terbayang sebelumnya rasanya hidup dilingkungan baru, yang bisa dibilang punya kebudayaan berbeda dengan kehidupan dan kebiasaan kita. Misal nih, kita nggak mungkin seenaknya bangun kesiangan (biasanya nih yang hobi begadang tugas) atau betah banget seharian nggak mandi (kalau ini mungkin banget terjadi pas kuliah lapangan) hehehe.  

3. Selain bersama keluarga baru di desa penelitian, mau nggak mau juga harus bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan teman-teman seperjuangan.

Teman seperjuangan diwaktu kuliah lapangan

Teman seperjuangan diwaktu kuliah lapangan via http://www.purplelize.wordpress.com

Diantara kita mungkin memiliki sifat teman-teman “unik” yang super rajin, super higienis, super pemberani atau super gokil. Kamu mungkin nggak menyadari jika di desa penelitian, temanmu yang paling rajin sudah bangun pagi-pagi banget dan sudah menyapu halaman rumah pas kamu masih baru bangun.

Kamu sedikit keheranan sama teman kamu yang udah dianterin ke kamar mandi waktu malam-malam, tapi pintunya nggak ditutup (lhah keliatan dong?) hihihi. Ada juga kebiasaan unik temanmu yang kalau tidur suka bicara-bicara sendiri.

Nah, segudang keunikan ini bahkan bisa saja baru kamu temukan setelah mengikuti kegiatan kuliah lapangan. Meskipun kebiasaan mereka ini nggak bakal dipahami, tapi dijamin deh teman-teman yang langka ini bisa membuat kenangan dan ingatan tersendiri bagi kita.

4. Mempelajari kehidupan masyarakat, dari tujuh unsur kebudayaannya mulai dari bahasa, agama, ekonomi, kesenian, pengetahuan, teknologi, kekerabatan

Mempelajari masyarakat dan budayanya

Mempelajari masyarakat dan budayanya via http://www.2.bp.blogspot.com

Ini yang paling penting, karena menyangkut tanggung jawab akademis sebagai mahasiswa antropologi yang harus mengumpulkan laporan kuliah lapangan (ceilah). Berhubung ini pindahan kamar kosan apalagi jalan-jalan cantik adalah kegiatan “mempelajari masyarakat dan kebudayaannya”, setiap mahasiswa akan mendapat topik penelitian yang berbeda-beda dari teman seangkatan.

Misal, kamu mendapat tema tentang kesenian. Selama di desa penelitian itu tugasmu adalah mencari data dan mempelajari tentang kesenian, tapi nggak menutup kemungkinan juga kita mengetahui dan memperoleh data tentang mata pencaharian.  

 

5. Jika tema penelitianmu sudah didapat, kamu mendadak menjadi tukang curhat!

Tulis tulis dan tulis

Tulis tulis dan tulis via http://www.akhmadguntar.com

Tukang curhat? Kok bisa? Selama kuliah lapangan, para mahasiswa antropologi dituntut untuk rajin mencatat fieldnote (catatan lapangan). Nggak hanya dibangku kelas saja kita rajin mencatat.

Di kuliah lapangan, kegiatan catat-mencatat pun semakin menjadi-jadi. Bolpoin, pensil dan buku monyet (istilah untuk menyebut buku harian yang selalu dibawa kemana-mana) adalah senjata wajib yang harus dimiliki saat kamu pergi kuliah lapangan.  

6. Menemukan spot-spot yang asyik dan ciamik di desa penelitian. Dan kamu tidak boleh melewatkan kesempatan berharga ini untuk berfoto selfie sekadar melepas penat!

Kuliah lapangan bonusnya liburan

Kuliah lapangan bonusnya liburan via http://www.kkntanjungbinga.wordpress.com

Ini bagian paling menyenangkan dimasa-masa kuliah lapangan, karena disini kita nggak hanya mencari data-data penelitian tapi juga bisa sekaligus liburan.  Nah, desa lokasi kuliah lapangan pasti punya tempat-tempat yang memiliki keindahan alam atau bersejarah yang nggak boleh banget untuk dilewatkan!

Terkadang tempat ini sudah menjadi tempat wisata yang biasa dikunjungi atau bahkan tempat yang indah namun belum banyak diketahui orang luar desa. Pantai yang masih perawan, atau view pegunungan yang segar banget. Kalau sudah begini, semangat rasanya untuk mencari data sekaligus pergi berwisata! Asyik!. 

7. Mempelajari bahasa dan kosakata berbeda yang baru kamu tahu, walaupun masih dalam satu wilayah

Beda wilayah beda bahasa

Beda wilayah beda bahasa via http://www.blogs.swa-jkt.com

Kamu berasal dari Kota Malang, kuliah lapanganmu berada di salah satu desa di Kabupaten Malang. Saat di desa tersebut kamu menemukan kata berbeda dalam bahasa Jawa, seperti pada kisah di bawah ini: 

Pas lagi nyari data di rumah masyarakat, ceritanya kamu lagi dapat “panggilan alam”:

Mahasiswi antropologi            : Bu nyuwun sewu kulo bade teng wingking (bu permisi saya ingin ke belakang)

 

Ibu di desa penelitian              : Nggih wonten teng lepen yo nduk (iya ada di lepen ya nduk: sebutan bagi anak perempuan)

Mahasiswi antropologi            : Nggih bu maturnuwun....

Jreng jreng jreng....(tiba-tiba nggak jadi meneruskan panggilan alam setelah melihat lepen)

*FYI, lepen adalah sungai

Nah, si mahasiswi mengira lepen adalah jeding (bahasa Jawa: kamar mandi), atau WC sederhana yang  seenggaknya kakus yang masih ada penutupnya. 

 

8. Jika kamu adalah mahasiswa antropologi yang “beruntung” dalam kuliah lapangan ini, kamu tidak hanya memperoleh data dari budaya lokal setempat, tapi mungkin saja kamu akan mendapat jodoh atau pacar warga lokal!

Ibu Presiden Obama bersuamikan pria indonesia saat penelitian

Ibu Presiden Obama bersuamikan pria indonesia saat penelitian via http://www.blogs.wsj.com

Warga lokal ini mungkin saja kamu temukan karena dia informanmu (orang yang memberi informasi/data) sewaktu penelitian, atau kamu akan diperkenalkan dan dijodoh-jodohkan dengan anak tetangga rumah tempatmu menginap. Dijodohkan dengan anak Pak Kades, remaja desa atau dengan mbak-mbak guru TK desa setempat. Memang jodoh siapa yang tahu ya? Jika tidak berjodoh, setidaknya kamu akan memiliki kontak dan kenalan baru setelah pulang dari desa penelitian.

9. Bisa juga, calon jodoh atau kekasihmu bukan saja datang dari warga lokal desa penelitian, kamu mungkin akan mendapatkan hati teman seangkatanmu sendiri! Hahaha.

Sekali penelitian dua tiga gebetan terlampaui

Sekali penelitian dua tiga gebetan terlampaui via http://www.content.rajakamar.com

Konon katanya, witing trisno jalaran soko kulino (baca: cinta tumbuh karena telah terbiasa). Mungkin karena kamu hidup selama beberapa waktu bersama temanmu (yang pasti berbeda suasananya dengan di kampus) tiba-tiba tumbuh benih-benih cinta diantara kalian. Dan jadilah kalian pasangan yang “jadian” setelah kegiatan kuliah lapangan. Kalau sudah cinta lokasi begini, apa bedanya kisah kuliah lapanganmu dengan sinetron FTV? 

10. Mengenal lebih dekat dosen-dosen pengajarmu yang ikut membimbing penelitian kuliah lapangan.

Belajar praktik langsung dengan sang ahli

Belajar praktik langsung dengan sang ahli via http://www.lingkungan.upnyk.ac.id

Mereka inilah orang-orang yang sudah terlebih dahulu merasakan asam garam dan pahit manisnya kegiatan kuliah lapangan. Dosen tentu akan membimbingmu dan bahkan sesekali mengajari bagaimana proses penelitian itu sendiri. Nah, kapan lagi nih mendapat kuliah bersama dosen langsung dari tempat penelitian?. 

11. Melakukan kegiatan-kegiatan masyarakat yang kamu teliti, dan bahkan belum pernah kamu lakukan sebelumnya

Memanen jagung dulu yuk

Memanen jagung dulu yuk via http://www.news.detik.com

Di momen kuliah penelitian lapangan ini, kamu akan merasakan kehidupan selayaknya ditayangan televisi Jika Aku Menj**i. Kamu bisa berkesempatan benar-benar mempraktekkan dan ikut mencoba kegiatan yang dilakukan orang-orang di desa tempatmu kuliah lapangan. Misal kamu meneliti tentang sistem pengetahuan lokal petani atau buruh tani perempuan.

Sebagai mahasiswa antropologi yang berjiwa peneliti sejati. Mereka harus tertantang untuk mencoba menanam padi sambil bertanya tentang pendapatannya, mengikuti acara tradisi dan keagamaan setempat, atau mungkin tergoda untuk mandi di sungai? 

12. Menemukan masalah yang ada di desa tersebut, atau menemukan kenyataan-kenyataan yang membuatmu bersyukur, tapi juga sekaligus prihatin

Mendengar permasalahan masyarakat

Mendengar permasalahan masyarakat via http://www.bara.arizona.edu

Di desa kuliah lapangan, tidak menutup kemungkinan kamu akan menemukan beberapa fenomena sosial-budaya yang marak seperti adanya pernikahan dini, pendidikan yang tidak merata atau fasilitas kesehatan tidak memadai atau persoalan kerusakan lingkungan.

Kamu nggak menyangka akan mendapatkan curahan hati atau cerita-cerita kehidupan dari masyarakat di desa, baik yang menyenangkan maupun kepahitan hidup mereka. Sebagai mahasiswa yang katanya agent of change hal-hal seperti ini harusnya memberi informasi awal agar tergugah kesadaranmu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi warga desa!

13. Kamu bisa menjadi manusia tanpa gawai (baca: gadget) dan segepok media sosial lain yang kamu punya! (kecuali program internet masuk desa ada di lokasi kuliah lapanganmu sehingga ada wifi di Balai desa)!

Internet bertebaran dimana-mana

Internet bertebaran dimana-mana via http://www.nazarul14.files.wordpress.com

Dalam beberapa waktu kamu akan merasakan menjadi manusia seutuhnya. Kamu benar-benar merasakan quality time bersama teman dan keluarga barumu di desa karena dijamin gawai (gadget) kamu nggak bakal berarti apa-apa.

Karena apalah arti gadget tanpa koneksi wifi dan pulsa paketan. Jangankan wifi, masih ada sinyal aja udah girang! Tapi jangan salah, dijaman facebook ini, sudah ada desa yang balai desanya dilengkapi dengan koneksi wifi. Canggih nggak tuh...

14. Saat kamu sudah mau pulang dari desa kuliah lapangan, kamu akan merasakan suatu dilema~

Pasti akan merindukan masa-masa kuliah lapangan, narsis dikit yuk

Pasti akan merindukan masa-masa kuliah lapangan, narsis dikit yuk via http://hannisaywhadd.blogspot.com

Hah? Dilema? Kok bisa? Kamu merasa senang sekali karena kuliah lapangan sudah selesai dan sedih sekali karena harus berpisah dengan keramahan keluarga baru di desa.

Percaya atau tidak, keluarga baru dan masyarakat yang kamu temui merasa sangat senang karena rumah dan desanya udah dikunjungi oleh sekelompok mahasiswa yang “kepo”. Jangan lupa untuk mengingat nama dan menyimpan kontak keluarga barumu di desa. Siapa tahu kalian ingin berkunjung kembali atau sekadar menelpon mereka diwaktu lebaran.

 

Nah, itu tadi sekelumit kisah dari para mahasiswa antropologi, si pejuang pensil dan buku monyet. Pahit manis kuliah lapangan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi anak-anak antropologi se Indonesia. Suatu hari nanti kisah-kisah unik dan berkesan ini dapat diceritakan kepada anak-cucu kelak di masa depan... ini kisah kuliah lapangan ala mahasiswa antropologi, mana kisah kuliah lapanganmu?