Entah bagaimana Tuhan menuntun hati ini sampai sudi mendaki kembali. Sejak dua hari menghabiskan waktu dengan seseorang itu, aku semakin terpacu untuk merasakan dinginnya malam-malam di atas gunung. Sejak dua hari menghabiskan waktu dengan seseorang itu, aku semakin terpacu untuk merasakan kelelahan merangkak di jalur pendakian. Sejak dua hari menghabiskan waktu dengan seseorang itu, aku semakin terpacu untuk merasakan tingginya gunung-gunung, minimal, di tanah Jawa tempatku dilahirkan.

 

1. Tak apa cuma berdua, yang penting kita bahagia

Berdua saja? Tak mengapa

Berdua saja? Tak mengapa via http://www.4.bp.blogspot.com

Lelaki itu, sebut saja namanya Anomali, dan aku terpisah dari rombongan kami. Terpaksa, kami hanya berdua saat berangkat dari Jogjakarta. Sepanjang jalan mengobrolkan banyak hal. Makan dan minum di angkringan. Maklum, masih anak sekolah. Sedangkan aku sudah kuliah tapi belum becus dalam keuangan. Berbagi headset, mendengarkan playlist song-nya yang hanya aku tahu satu lagu saja. Sampai di basecamp New Selo, kami bertemu dengan rombongan kami.

2. "Lindungilah tubuhmu dari dinginnya hujan, biar jaket tipis ini yang menjagaku tetap dalam kehangatan"

Perhatianmu seakan mengajak berumah tangga

Perhatianmu seakan mengajak berumah tangga via http://www.4.bp.blogspot.com

Kami memutuskan memulai pendakian pukul satu dini hari. Musim hujan membuat pendakian menjadi dua kali lebih menyusahkan. Trek menjadi licin dan kotor, menyebabkan baju dan celana kami bebercak kecoklatan. Hujan yang turun lumayan deras membuat kami menggigil kedinginan. Kabut tebal turun menghalangi pandangan.

“Pakai aja mantol-ku, Mbak,” katanya seraya memakaikan jas hujannya padaku.

Ia kemudian berlalu, membuatku terbengong. Hanya jaket tipis yang menutupi tubuhnya. Ia membiarkanku memakai jas hujan miliknya. Dan aku bahkan sampai lupa mengucapkan terima kasih.

3. "Jika kau tidak kuat menahan beban di punggungmu, maka aku akan menahannya untukmu"

Carrier-nya aja yang digendong? Aku-nya enggak?

Carrier-nya aja yang digendong? Aku-nya enggak? via http://www.i597.photobucket.com

Seperti itulah tatapan matanya saat melihatku susah payah mengangkat carrier yang kupinjam beberapa hari sebelumnya. Berat badanku di bawah normal, tidak ada 40 kilogram di umur yang sudah 21 tahun. Belakangan, aku baru menyadari untuk tidak terlalu banyak membawa beban di punggung saat melakukan pendakian. Itu hanya akan memberatkan diriku sendiri, juga merepotkan teman-temanku saat aku kelelahan nanti. Pada akhirnya, tak diperbolehkannya aku membawa carrier itu, digantinya bebanku dengan tas ranselnya yang seolah tidak ada beratnya sama sekali.

4. "Tanganku akan senantiasa menggenggammu, agar kau bisa melihat kemenangan dari perjalanan panjangmu"

Genggaman tanganmu menghangatkan sekaligus menguatkan

Genggaman tanganmu menghangatkan sekaligus menguatkan via http://www.hipwee.com

Perempuan sendiri dan tak biasa mendaki membuatku jauh lebih lamban dibanding teman-temanku yang lain. Jika aku keteteran di belakang, ada saja yang mendorongku agar berjalan di tengah. Supaya tidak hilang. Juga agar mereka tahu kalau aku tiba-tiba pingsan di tengah jalan. Kalau aku susah merangkak di bebatuan, maka ia akan sigap melompat ke depan dan menggenggam tanganku. Jika aku sudah lelah berjalan, ia akan mendorong pundakku dan mengatakan bahwa sebentar lagi kami bakal nge-camp dan istirahat.

5. "Puncak bukan tujuan, membawamu kembali ke pelukan orang tuamu adalah kewajiban"

Naik bersama, turun juga sama-sam

Naik bersama, turun juga sama-sam via https://indonesia360derajat.files.wordpress.com

Pada pagi hari tanggal 20 Maret, kami sampai di Pasar Bubrah tepat di bawah puncak Gunung Merapi. Setelah hujan sepagian, langit kembali cerah. Namun belum sempat kami melanjutkan perjalanan untuk summit, tiba-tiba kabut tebal mengurung kami. Setelah menunggu sekian lamanya sampai rambut kami memutih penuh uap air, kabut tak juga pergi. Akhirnya setelah berdiskusi sebentar, kami memutuskan untuk kembali turun ke pos dua, tempat kami mendirikan tenda. Aku kecewa, begitu pun teman-teman baruku. Aku merasa bersalah karena kemungkinan mereka tidak mau mengambil risiko menembus kabut karena takut atas keselamatanku.

6. Perjalanan itu akan senantiasa kukenang, kuharap kamu juga melakukan hal yang sama

Terima kasih!

Terima kasih! via http://www.instagram.com

Empat temanku memutuskan melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Merbabu. Aku yang kepayahan, memilih untuk menyerah. Anomali, mengantarkanku pulang. Dia juga memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan, begitu pun satu temanku yang lain. Darinya, aku belajar banyak hal. Karena dia, aku tahu esensi mendaki gunung yang sebenarnya. Berjalan turun berdua ─aku tertinggal di belakang karena kelelahan─ untuk menemaniku memungut sampah di sepanjang trek pendakian. Berkat dia, aku selalu memperhatikan teman-temanku yang lain ketika mendaki bersama. Genggaman tangannya membuaku mantap menarik tangan-tangan yang kesusahan merangkak di jalanan yang licin. Melihatnya berlari, membuatku tak gamang saat meluncurkan kaki dari ketinggian. Atas ajarannya, aku belajar untuk tidak egois dan menyombongkan diri. 

7. Aku rindu mendaki bersamamu

Sekarang aku sendiri, menikmati puncak-puncak tinggi tanpa kamu di sisi

Sekarang aku sendiri, menikmati puncak-puncak tinggi tanpa kamu di sisi via http://www.instagram.com

Itulah pertama dan mungkin terakhir kalinya aku mendaki bersamanya. Sekarang, aku sendiri. Tak pernah ada yang mencurahkan perhatian secara berlebihan, karena aku telah dianggap mandiri. Tak ada lagi yang menggenggam tanganku. Atau menyelimutiku di dalam tenda. Tetapi tiap kaliaku mencapai puncak berkat telah berhasil mengalahkan kelelahanku sendiri, aku berbisik kapan dia menyusulku ke sini. Aku berharap, aku dapat lagi bertemu dengannya dan bersama menaklukkan kembali rasa penasaran kami berdua.