Selepas lulus dari bangku kuliah beragam pilihan pekerjaan sudah menanti. Mulai dari membuka bisnis sendiri, masuk MNC, sampai mendaftar beasiswa dan pergi ke luar negeri. Dan pilihanku ini sedikit berbeda dari berbagai opsi yang banyak rekan sejawat jalani.

Kawan-kawan lain boleh langsung mendaftar pekerjaan dengan gaji mentereng yang nominalnya besar. Atau menghela langkah baru di negara yang selama ini bahkan namanya tak pernah didengar.

Tapi buatku, hidup bukan cuma soal diri sendiri saja. Menjadi guru jadi upayaku membalas budi pada sesama.

Aku juga tidak tahu bagaimana awalnya. Rasanya ada hutang yang harus dilunasi sebelum boleh sedikit egois jadi manusia

Rasanya ada hutang yang harus dilunasi sebelum bisa egois jadi manusia via indonesiamengajar.org

Bukan berarti aku tidak ingin seperti kawan kebanyakan. Saling bertukar kartu nama di meja meeting — mengenakan pakaian rapi seperti orang penting. Di atas meja itu ide-ide bisnis berkembang. Akan ada perbincangan tentang target yang harus dicapai bulan ini, apa yang bisa dilakukan jika dana bukan masalah lagi, pencapaian apa yang membawa bonus terbesar periode ini.

Advertisement

Sementara di sini aku merasakan sebenar-benarnya perjuangan. Masalah yang di sana digembar-gemborkan di sina benar-benar kuselesaikan.

Dari mata mereka kutemukan kepuasan. Ternyata lewat pengabdian justru akulah yang banyak belajar

Ternyata lewat pengabdian aku banyak belajar (Kredit: Rinay Tyta Febrina) via www.facebook.com

Beberapa kawan mengangkat alis saat mengetahui keputusanku. Bagi mereka pilihanku ini absurd sekali. Kenapa aku mau susah-susah mengabdi jika selepas lulus bisa langsung mencari pekerjaan bergaji tingi? Mereka bilang aku ini terlalu baik hati. Terlalu idealis. Lupa kalau perut juga harus diisi.

Aku tertawa geli saja mendengar semuanya. Sebab mereka tidak tahu kenyataannya.

Justru dari pengabdian, akulah yang lebih banyak belajar.

Dari celoteh dan semua kerepotan dalam ruang kelas aku mengerti arti kesabaran yang tanpa batas. Keramahan orangtua, sampai kritik dan berbagai tindakan mereka membuatku paham betapa bermaknanya pendidikan yang selama ini kupandang sebelah mata. Aku berubah jadi orang yang tak lagi take everything for granted sebagai manusia.

Memilih menjadi guru tidak menjadikanku super kaya. Tapi lewat profesi ini aku tahu hidupku punya makna

Lewat profesi ini paling tidak hidupku bermakna via blog.edwardsuhadi.com

Yang sulit dari hidup adalah menciptakan makna di baliknya. Di akhir hari bukan seberapa banyak gaji atau seberapa banyak project yang goal yang bisa jadi cerita. Melainkan apa yang sudah kita lakukan sebagai manusia.

Aku memang masih muda. Menjadi guru jelas bukan pekerjaan yang langsung bisa memberikan kemapanan yang banyak anak muda di luar sana harapkan. Satu yang jelas kuyakini — pekerjaan ini adalah pekerjaan untuk masa depan.

Meski sedikit hidupku akan makin bermakna, walau pelan-pelan.

Salah satu yang ingin aku lakukan dengan menjadi guru muda adalah mengajak anak-anak didikku membuat konten baik lewat kompetisi #genACIQ.

Sekarang kamu bisa mengupload videomu baca Al Quran dan memenangkan umroh! Mulai sekarang sampai 7 September 2017, cuma dengan upload video atau vote video kamu punya kesempatan buat dapat paket Umroh, iPhone, sampai uang tunai total 47 Juta Rupiah

Caranya:

  • Unduh aplikasi Momen di Google Play Store secara GRATIS di sini: bit.ly/genaciq
  • Daftar dan masukkan kode #genAciq saat registerasi
  • Aktivasi paketnya cukup dengan Rp 5.000 lewat pulsamu
  • Upload videomu, ajak teman-temanmu buat vote sebanyak-banyaknya!
  • Seluruh voter akan diundi pada akhir periode program untuk 3 orang terpilih yang akan mendapatkan uang tunai masing-masing senilai 2 juta rupiah.

Informasi lengkapnya juga bisa kamu cek di sini: bit.ly/InfoHipwee #genACIQ

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya