Tak ada yang gratis di dunia ini. Barangkali itulah kenyataan yang akhirnya kamu sadari setelah kamu lepas dari predikat mahasiswa. Memasuki dunia kerja dengan segala lika-likunya, membuatmu sadar bahwa mimpi masih jauh dari kenyataan. Sekian lama dari waktu kelulusan, ternyata hidupmu masih begini-begini saja.

Soal kerja keras, kamu jelas sudah tahu rasanya. Delapan jam sehari dan lima hari seminggu sudah kamu jabani demi mencari sesuap nasi. Kamu yang menghabiskan sebagian besar waktumu di kantor, di ruangan kerja, di balik komputer, pasti tidak asing lagi dengan hal-hal ini.

1. Pergi pagi pulang malam. Kenyataannya, gaji hanya cukup untuk hidup sebulan

Pergi pagi-pagi via www.businessinsider.co.id

Sekian lama bekerja, tekad kerja kerasmu tak perlu diragukan lagi. Rela berangkat pagi-pagi, melewatkan sarapan bergizi hanya demi tiba di kantor tepat waktu. Rela pula pulang malam berjibaku dengan kemacetan, hanya berteman ponsel untuk membunuh kebosanan. Di jeda dua waktu itu, kamu sibuk bekerja di balik meja. Menerjemahkan permintaan atasan dan kejar-kejaran dengan deadline bulanan. Lupa soal mencari hiburan, apalagi mencari pasangan. Meskipun kenyataannya, gaji hanya cukup untuk sebulan. Atau seperti yang sudah-sudah, bahkan habis di dua minggu pertama.

2. Namanya juga manusia, terkadang sering khilaf juga. Bersenang-senang sehari, menyesalnya bisa berhari-hari

Berfoya-foya sekali, menyesalnya berhari-hari via millennialmoola.com

Advertisement

Sebagai karyawan biasa yang gajinya tak seberapa, kamu harus pandai-pandai menahan diri. Liburan sebulan sekali jelas hanya mimpi. Selain uangnya tak ada, mengajukan cuti juga tak semudah yang kamu kira. Namun namanya juga manusia, terkadang kamu butuh hiburan juga. Saat musim diskon tiba, kamu belanja tanpa kira-kira. Atau saat penyanyi luar negeri favoritmu konser di Indonesia, kamu hadir tanpa berpikir lama. Rasa puas dan senang pun tak bertahan lama. Apalagi setelah kamu melihat nominal uang di rekening sekaligus tanggal gajian yang masih lama. Senang-senang sehari ini, seringkali membuatmu menyesal berhari-hari. Ah, begini banget rasanya hidup pas-pasan.

3. Tak bisa bermuluk-muluk ingin berpartisipasi dalam misi sosial atau kemanusiaan, kamu masih berjuang keras memenuhi kebutuhan

Kamu masih stuck di depan laptop selesaikan deadline via www.entrepreneur.com

Sebenarnya kamu ingin juga mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti jadi relawan pengajar di pelosok negara. Kamu juga ingin hidupmu yang singkat itu bisa memberikan banyak manfaat untuk orang lain sekaligus berbakti kepada negeri. Tapi apalah daya, kamu harus bekerja 8 jam sehari dan 5 hari seminggu demi membeli kebutuhan-kebutuhan hidup yang semakin mahal saja.

Sementara mengharapkan banyak uang dari misi kemanusiaan jelas tidak etis rasanya. Melihat teman-teman yang berkelana ke pelosok negeri demi bisa memberikan sesuatu untuk bangsa, kamu hanya bisa menatap iri. Sambil diam-diam berjanji, suatu saat nanti kamu akan melakukan hal yang sama.

4. Keluarga terkadang menjadi nomor dua. Ingin ngobrol dan bercengkrama tapi tubuh sudah terlalu lelah untuk lebih dari sekadar menyapa

Keluarga jadi nomor dua, tahu-tahu mama sudah tua via www.hercampus.com

Dunia kerja adalah dunia yang sibuk sekaligus kejam. Entah sudah berapa banyak artikel dan buku yang kamu habiskan demi memahami caranya bisa work-life-balance. Sayangnya, memberi saran memang lebih mudah daripada melakukan. Sekeras apapun kamu berusaha menyeimbangkan kehidupan kerja dan kehidupan luar kerja, pasti ada salah satu yang kamu korbankan.

Kamu yang tinggal di kota besar penuh kemacetan, pulang tepat waktu pun terasa sia-sia bila kamu sampai di rumah malam-malam juga karena kemacetan jalan raya yang semakin lama semakin tak masuk akal. Sampai di rumah tubuh sudah sangat lelah. Jangankan menekuni hobi, ngobrol dengan keluarga pun terkadang tak tuntas. Bagaimanapun juga, kamu harus segera istirahat, menyiapkan tenaga untuk bertarung esok hari.

5. Weekend menjadi hari yang paling dinanti. Karena saat itu kamu bisa sesaat melarikan diri

Weekend jadi hari paling dinanti via sorry-im-not-sorry.tumblr.com

Dalam kamusmu, barangkali weekend lebih berarti daripada Adam Levine. Setiap hari Senin tiba, kamu berusaha menghibur diri dengan mengatakan bahwa weekend akan datang lima hari lagi. Lima hari berkarya dan memforsir energi, kamu butuh jeda untuk melarikan diri agar tetap waras dan siap menjalani hari-hari selanjutnya.

Saat weekend tiba, rasanya kamu ingin waktu berhenti berputar. Kamu bisa bersenang-senang hangout dengan teman tanpa direcoki pekerjaan. Kamu juga bisa mengganti waktu lima hari yang hilang dengan berkumpul dengan keluarga. Atau bisa juga kamu hanya tidur seharian. Menyatukan diri dengan kasur, sebagai aksi balas dendam segala lelah yang kamu rasakan. Itu juga kalau tidak harus lembur untuk menyelesaikan kerjaan.

6. Menuruti hati, tak ingin menggadaikan hidup untuk kerja. Tapi bagaimanapun juga hidup memang butuh biaya

Makin berumur, tagihan yang harus kamu bayar tambah banyak via unsplash.com

Kadangkala kamu bertanya-tanya juga. Apakah ini tidak seperti menggadaikan hidup untuk mendapatkan uang? Bila menuruti keinginan, ingin juga kamu memilih pekerjaan yang fleksibel. Bisa dikerjakan di mana saja dan tidak harus ke kantor untuk bekerja 9-5 setiap harinya. Sehingga selain punya uang, kamu juga punya kehidupan.

Namun lagi-lagi kamu terbentur pada kenyataan. Hidup memang butuh biaya. Kamu punya orang tua yang ingin kamu cukupi kebutuhannya agar bisa menikmati hari tua dengan tenang. Kamu punya mimpi-mimpi di masa depan yang ingin kamu kejar. Belum lagi keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Sampai di sini kamu menyadari bahwa mungkin memang ada yang harus dikorbankan.

7. Keinginan menjadi pengusaha juga tak bisa begitu saja diwujudkan. Sebab kamu tahu bahwa menjadi pengusaha tak hanya butuh modal

Perlu mempertaruhkan semua via www.mashreqsmexchange.com

Khas generasi millennial, semua berlomba-lomba untuk menjadi pengusaha. Kaum muda dituntut untuk mandiri, tidak lagi mencari lowongan kerja, tapi menciptakan lapangan kerja. Setiap harinya, ada saja startup yang tumbuh meramaikan dunia industri ekonomi Indonesia. Kamu pun punya mimpi yang sama. Menjadi pengusaha, berdiri di atas kaki sendiri, dan bekerja dengan bos diri sendiri.

Dengan begitu barangkali kamu tidak harus terkurung di kantor selama delapan jam sehari. Kamu juga bisa memberikan sesuatu yang bisa membantu masyarakat. Tapi kamu pun menyadari bahwa menjadi pengusaha tidak pernah sederhana. Mimpi dan modal uang saja tidak cukup, sebab menjadi pengusaha butuh skill-skill lainnya yang belum tentu kamu miliki sekarang.

8. Tapi sejauh ini, kamu sudah bisa mengatasi. Anggap saja ini sebagai proses pematangan diri

Kerja 8 jam perhari via unsplash.com

Bekerja di kantor delapan jam sehari sekaligus mengarungi kemacetan setiap hari, hidupmu barangkali adalah hidup yang risiko stresnya tinggi. Menghadapi pekerjaan segudang, atasan yang terkadang menyebalkan, atau klien yang berbuat semaunya, semua itu cukup untuk mengancam tekanan darahmu ataupun mengguncang kewarasanmu. Tapi toh, kamu bertahan sejauh ini.

Setiap hari yang kamu lalu selalu memberikan satu hal yang bisa kamu jadikan pelajaran. Kamu belajar bekerja sama dengan rekan kerja yang macam-macam sifatnya, kamu belajar mengutarakan pendapat, kamu belajar menjalin relasi, dan tentu saja kamu belajar menguatkan diri saat situasi tidak terkendali. Di sini kamu menempa mental, belajar menjinakkan kenyataan dengan kematangan diri.

9. Percayalah, kelak kamu akan mencapai apa yang kamu inginkan. Meski untuk saat ini kamu hanya bisa menatap iri, dari balik meja kerja

Suatu saat kamu akan meraih mimpimu juga via id.pinterest.com

Saat ini kamu memang hanya bisa menatap iri timeline media sosial teman-teman yang dipenuhi foto-foto petualangan. Dari balik mejamu yang sempit, dan komputermu yang menampilkan lembar kerja sambil curi-curi waktu untuk membuka Youtube. Kamu hanya bisa mengagumi karya teman-temanmu yang rasanya sangat jauh melampauimu. Tapi tak apa. Semua ada waktunya.

Apa yang kamu lalui saat ini adalah proses yang akan kamu syukuri nanti. Bagimu, bekerja di kantor 8 jam sehari dan lima hari seminggu, bukan semata-mata untuk mencari uang bekal kehidupan, tapi juga mencari ilmu yang bisa kamu manfaatkan untuk kariermu ke depan. Pelan-pelan, kamu pasti bisa meraih apa yang kamu mimpikan.

Barangkali, kamu hanya butuh sabar. Dan banyak-banyak mencari hiburan yang tak makan biaya besar.