Seantero dunia, tanpa terkecuali Indonesia, sudah hidup di era kepastian waktu. Setiap orang pasti tahu kalau sehari itu kebagi jadi siang dan malam. Dan bahwa dalam satu hari terdapat 24 jam, dalam satu jam terdapat 60 menit, dalam satu menit terdapat 60 detik, itu pasti.

Namun nyatanya, dengan pengetahuan tersebut, kita masih kerap kurang menghargai waktu. Ada istilah elastisitas waktu atau lebih dikenal dengan jam karet. Kita semua menyadari itu. Parahnya, kita yang sadar dengan hal tersebut malah kadang toleran dan selalu toleran. Lalu, bagaimana itu bisa terjadi? Dan bagaimana harusnya kita menyikapinya?

Mulai dari pasir, analog, sampai yang digital, mesin penghitung memang makin canggih, tapi itu nggak ada gunanya kalau mental kita masih ketinggalan

Waktu, waktu, waktu via www.rd.com

Indonesia juga tak tertinggal soal kepastian waktu. Namun mental yang membedakan kita dengan bangsa-bangsa maju. Mental ketidakpastian sulit dihilangkan dari kita. Seorang profesor kelahiran Tegal, Abu Su ud, dalam bukunya berjudul ‘How To Be Real Indonesian’ menyebut gejala itu dengan sebutan cultural lag.

Advertisement

Walaupun jam dinding ada di setiap rumah, jam tangan ada di dekat pergelangan tangan kita, sampai yang paling dekat ada pada gadget kita, tapi perilaku kita tetap saja sangat toleran terhadap elestatisitas waktu. Sudah membudaya dimana-mana, dan tak ada keraguan soal itu.

Omong-omong soal elastisitas waktu, kita pasti ngertilah apa yang saya maksud. Ihwal jam karet. Kita, orang Indonesia, punya istilah jam karet. Kental kaitannya dengan masyarakat kita. Nggak percaya? Coba aja ketik sendiri ‘jam karet’ di kolom pencarian Google. Begitu banyak artikel berbahasa Indonesia yang membahas ini. Mau coba yang berbahasa Inggris? Boleh banget. Ketik ‘rubber time’, dan jangan kaget kalo ada sebuah situs, Urban Dictionary, yang bisa ngejelasin kata tersebut secara gamblang dan direct menyebut rubber time sebagai kebiasaan orang Indonesia.

Seperti karet yang elastis, dapat ditarik hampir bahkan sampai tak terbatas.

Indonesia adalah negara yang penuh keberagaman. Beragamnya kebudayaan itulah yang diindikasi menciptakan ragam istilah waktu di banyak masyarakat

“Sebats duls” via www.instagram.com

Tak ada maksud judgemental, tapi bisa jadi yang membuat munculnya kebiasaan ‘jam karet’ adalah budaya-budaya kita sendiri. Istilah soal waktu cukup banyak di Indonesia. Setiap suku mungkin punya frasa hingga peribahasa yang membicarakan soal waktu.

Dalam suku Sunda, ada istilah saududeun. Sebuah kata yang punya makna: waktu dihitung sampai sebuah batang rokok habis dihisap. Keheula, saududeun begitulah kira-kira kalimat yang sering dilontarkan. Artinya, Sebentar, ngabisin dulu satu batang atau bahasa gaulnnya mah sebatang dulu . Itu salah satu contoh. Kondisi seperti itu biasanya terjadi saat seseorang diajak untuk berangkat oleh rekannya. Tapi sang perokok bilang ingin habiskan dulu rokok sebelum berangkat.

Di suku Jawa juga ada istilah alonalon asal klakon. Artinya: nggak usah buru-buru asal selamat. Namun kalau konteksnya kita dikejar ketepatan waktu, ya, mau nggak mau kamu harus buru-buru kan? Ketimbang telat.

Sedangkan di kaum santri ada istilah bada yang artinya setelah atau pasca. “Nanti rapat bada Isya, ya, di sekretariat.” Masyarakat memang banyak yang sudah mengerti dengan penggunaan istilah itu, tapi ya tetep, tak ada kepastian yang benar-benar pasti dalam kata tersebut.

Waktu Isya misalnya. Di bagian barat Indonesia biasanya terjadi sekitar pukul 7 malam. Dan ketika seseorang ngajak janjian setelah waktu Isya, waktu kehadirannya bisa saja terjadi pada jam 8 atau bahkan lebih sampai waktu Isya habis pada menjelang subuh.

Supaya bisa lebih menghargai waktu, nggak ada salahnya ‘kan belajar dari budaya luar?

Belajar dari Jepang via www.scmp.com

Jangan pernah lihat sesuatu dari satu sisi. Seperti budaya Barat, misalnya. Budaya Barat tak selalu mengandung muatan negatif. Contohnya soal penghargaan bagi waktu.

Dalam budaya Barat terdapat ungkapan “time is money”. Jika kita hanya menilik dari konteks bahasa, artinya jelas bahwa waktu adalah uang. Namun ketika kita melihat dengan konteks yang lebih luas, waktu adalah sumber daya yang berharga karena terbatas. Agar tidak merugi, orang harus pintar memanfaatkan waktu secara efisien.

Sedangkan di mayarakat timur tengah ada ungkapan berbunyi, “Al waqtu kash shaif“. Artinya waktu bagai pedang. Cepatnya waktu berjalan, bisa membuat kita ditinggalkan secepat tebasan pedang.

Jepang lebih mengerikan lagi soal waktu. Mereka dikenal dengan kedisiplinan tingkat dewanya. Penghargaan bagi waktu pada aktivitas sehari-hari membuat produktivitas meningkat. Tengok saja produknya yang sudah ada di mana-mana.

Jepang dikenal negara yang disiplin banget soal waktu. Tapi percayalah, dulunya Jepang gak sedisiplin sekarang. Mereka mulai sadar dengan menghargai waktu pasca Perang Dunia II. Dengan berpegang pada falsafah kaizen , Jepang menjelma menjadi Jepang yang seperti sekarang.

Jika kita hitung, memang butuh puluhan tahun untuk menjadi sebuah bangsa yang disiplin seperti Jepang. Namun kesungguhan berubah yang kuat, perbaikan yang juga sustainable, bukan mustahil Indonesia memiliki bangsa yang disiplin juga.

Meningkatkan etos kerja, terutama soal kedisiplinan, sudah menjadi keharusan di tengah kompetisi global. Kalau nggak, ya, nanti makin tertinggal

Bersaing dengan bangsa-bangsa lain via asialyst.com

Semenjak tahun 2015, masyarakat Indonesia resmi memasuki hutang belantara. Berarti, sudah setahun lebih kita resmi berkompetisi secara terbuka dengan masyarakat-masyarakat dari negara ASEAN lainnya, tapi kebiasaan ngaret masih ada? bisakah kita dikatakan siap kalau kebiasan tersebut masih sering kita lakukan?

Mawas diri tentu wajib kita lakukan agar kita nggak kalah dari negara-negara lain. Lagipula, segala sesuatu menjadi lebih efisien karena tepat waktu. Mari jadikan on-time sebagai salah satu kebiasaan yang baik. Datang tepat waktu tentu akan lebih baik dan sopan karena kita dianggap bisa lebih menghargai waktu.

Semoga tak ada lagi tulisan ‘harapkan datang tepat waktu’ dalam setiap undangan-undangan sebuah acara di Indonesia. Ya, karena bangsa Indonesia sudah mulai sadar.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!