“If you follow your passion, you’ll never work a day in your life.” – Tony Bennet –

Terlahir di era millennial membuat kita memiliki serangkaian karakter yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Kita adalah generasi yang mudah terdistraksi dengan pesatnya persebaran informasi, mudah bosan karena rasa ingin tahu yang tinggi, dan mudah tersesat di antara kebebasan dan ketidaktahuan tentang apa yang harus di lakukan. Era millennial ini adalah era passion menjadi barang mahal tapi harus dikejar sampai dapat. Barangkali setelah menemukan passion, segala kegelisahan dan kebosanan itu akan hilang selamanya.

Tapi apakah mengikuti passion adalah satu-satunya cara untuk bisa berbahagia? Apakah hanya dengan mengikuti passion kita bisa mengembangkan potensi diri yang sesungguhnya? Apakah kamu yang terjebak di jam kerja 8 jam sehari lima hari seminggu adalah semalang-malangnya manusia?

Ah, itu soal persepsi saja.

1. Beberapa passion sering terpaksa dipendam. Sebab terkadang kita harus bijak melihat kenyataan

Realitas menyilaukan kesempatan menemukan pekerjaan sesuai passion via unsplash.com

Advertisement

Memang segalanya mudah dengan passion. Kerja tak lagi terasa kerja dan risiko stres bisa lebih ditekan. Tak ada rasa terpaksa bangun pagi-pagi, karena selalu enjoy dengan pekerjaan setiap hari. Namun tidak semua orang beruntung dengan berkarier sesuai dengan passionnya. Karena terkadang dalam menghadapi realita, kita harus mempertaruhkan satu di atas hal lainnya.

Ingin mencari yang sesuai passion, sayangnya passionmu belum buka lapangan kerja. Ingin membuka usaha sendiri seperti yang kamu cita-citakan, sayangnya modal belum punya. Sementara kebutuhan hidup semakin mahal dan semakin mahal saja. Kamu yang sudah sarjana tentu gengsi bila masih terus-terusan minta ke orang tua. Satu-satunya pilihan adalah mengambil segala kesempatan yang ada, sesuai passion atau bukan, yang penting kerja dulu saja.

2. Jalur karier yang tak sesuai sering disalahkan atas mandegnya potensi diri. Stres berkepanjangan dan semangat kerja yang hilang-hilangan

Berasa membunuh potensi diri via greatist.com

“The only way to do a great work  is to love what you do.” – Steve Jobs –

Menurut Steve Jobs, satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan yang hebat adalah dengan mencintai apa yang kamu lakukan. Sehingga yang kamu lakukan bukan sekadar pemenuhan kewajiban, melainkan berkarya sepenuh hati. Bila rasa cinta itu tidak ada, yang kamu lakukan juga cuma sekadarnya. Potensi diri yang ‘mandeg’, dan absennya ilmu yang bisa kamu serap mentah-mentah kamu anggap karena kerjamu tak sesuai impian. Jangankan untuk menghasilkan karya besar yang dimaksudkan, untuk memunculkan semangat bekerja saja kamu harus berusaha mati-matian.

Tapi ingatkah kamu pada pepatah Jawa ‘witing tresno jalaran soko kulino’? Ya, cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa. Seperti kamu yang bisa belajar mencintai seseorang yang awalnya tidak kamu perhitungkan, begitu juga dengan pekerjaan. Karena melakukan apa yang kamu cintai belum ada kesempatan, satu-satunya yang bisa kamu lakukan adalah mencoba mencintai apa yang kamu lakukan. Bukan tidak mungkin semua pengorbanan itu berakhir manis bagai adegan-adegan di film romantis.

3. Tidak bekerja di jalur yang disukai, bukan alasan untuk bekerja setengah hati. Sebab yang rugi kamu sendiri

Tapi bekerja setengah hati juga kamu sendiri yang rugi via www.netdoctor.co.uk

Kegagalan mengisi hidup dengan hal-hal yang diinginkan seringkali membawa frustrasi berkepanjangan. Kamu yang merasa bahwa ini bukan pekerjaan yang kamu inginkan, bukan jalur yang ingin kamu tempuh, dan bukan sesuatu yang ingin kamu lakukan dalam jangka waktu yang lama, memutuskan untuk bekerja sekadarnya. Seperti hubungan percintaan yang sejak awal hanya diniatkan untuk have fun saja, seolah jadi pembenaran untukmu kerja angin-anginan.

Padahal cara kerja yang seperti ini justru merugikan diri sendiri. Bagaimanapun juga bekerja bukan hanya sekadar perkara menunggu gajian setiap bulan. Ada reputasi yang sedang kamu bangun dan ada masa depan yang sedang kamu kejar. Bila kamu berniat mengejar passionmu, bukankah reputasi baik itu harus kamu pupuk mulai dari sekarang agar kelak jalanmu lancar?

4. Berhenti berpikir hanya bekerja untuk perusahaan. Sebab bagaimana kamu bekerja, kamu sendiri yang menuai dampaknya

Bekerja sebaik-baiknya demi dirimu sendiri via unsplash.com

Bila reputasimu buruk karena pekerjaan yang asal-asalan, siapakah yang akan merasakan dampaknya? Perusahaan memang akan rugi, tapi toh mereka hanya tinggal memecatmu dan mengganti dengan orang baru. Namun reputasi buruk itu akan selalu berada di belakang namamu. Sementara itu, ketika kamu bekerja dengan baik dan sepenuh hati meskipun pekerjaan itu bukan hal yang kamu sukai, siapa yang akan merasakan dampaknya?

Perusahaan memang akan untung karena kinerjamu memuaskan dan menyelesaikan beberapa persoalan. Tapi skill-skill  itu bukankah akan tinggal selamanya dalam dirimu dan bisa kamu manfaatkan di manapun kamu berada kelak? Hentikan pemikiran kamu bekerja untuk perusahaan, dan tekankan bahwa kamu bekerja untuk dirimu sendiri. Karena apakah kamu memilih menjadi pekerja yang baik atau yang buruk, kamu sendiri yang merasakan efeknya.

5. Bekerja di luar passion memang membutuhkan kesabaran ekstra. Namun bukan berarti apa yang kamu lakukan sia-sia

Butuh tekad ekstra untuk bisa bertahan via gloucesternewscentre.co.uk

Betul kata Tony Bennet bahwa bekerja sesuai passion tidak akan membuatmu merasa sedang bekerja. Karena dirimu selalu happy-happy saja. Tekanan tidak ada, dan stres pun tidak pernah datang. Sementara bekerja di luar passion, kamu harus menempa mental. Sebab tekanan bisa datang, entah itu berupa kesulitan ataupun rasa bosan karena melakukan hal yang tidak disuka. Mungkin juga kamu butuh banyak-banyak hiburan agar otak tetap waras dan semangat menggelora.

Tapi bukan berarti apa yang kamu lakukan selama ini tidak ada harganya. Di manapun kamu bekerja, sesuai atau tidak sesuai dengan passion, pasti ada yang bisa kamu ambil manfaat asal tidak kerja asal-asalan. Setidaknya, kamu bisa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama dalam tim, dan cara berkomunikasi yang baik. Kelak saat kamu sudah ada di jalur yang tepat, toh skill-skill itu tetap kamu butuhkan.

6. Bekerja tak sesuai passion bukan berarti mimpi-mimpimu sudah mati. Ibarat perjalanan, kamu sedang menempuh rute yang berbeda

Cita-citamu masih bisa digapai. Kamu hanya sedang menempuh rute yang berbeda via thoughtcatalog.com

Kalah dengan realita dan bekerja di luar passion bukan berarti passion-mu sudah tamat. Bukan berarti kamu sudah gagal dalam menggapai cita-cita. Toh, kamu masih muda. Masih punya banyak waktu untuk mengejar cita-cita. Anggap saja pekerjaanmu saat ini adalah kawah candradimuka, tempatmu menggodok mental untuk menjadi orang yang tangguh di masa mendatang.

Jadikan juga pekerjaan sekarang sebagai tempat belajar. Sebab justru kamu termasuk golongan orang-orang merugi bila gagal memanfaatkan apa yang kamu miliki saat ini. Sementara itu, mimpi dan cita-citamu masih di sana menunggu untuk kamu gapai. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, kamu sedang menempuh rute yang berbeda untuk menghindari jembatan yang ambruk. Suatu saat, kamu akan tiba di lokasi tujuan juga.

Realita terkadang memang kejamnya tidak kira-kira. Namun kita punya pilihan untuk bertahan atau untuk menyerah. Meski sekarang kamu belum bisa bekerja sesuai dengan passionmu, bukan berarti kamu adalah bintang yang redup dan akhirnya mati. Kamu hanya sedang istirahat dan mengisi bahan bakar. Di saat yang tepat nanti, kamu kembali bersinar, dengan apapun pilihan yang kamu ambil dalam kehidupan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya