Badan Pusat Statistik (BPS) resmi merilis data pengangguran tahun 2016 ini. Berdasarkan data, jumlah pengangguran di Indonesia sampai Agustus 2016 adalah 7,03 juta orang, sudah turun dari setahun sebelumnya yang berada di angka 7,56 juta. Setidaknya dalam kurun waktu itu pengangguran di Indonesia mengalami penurunan sebanyak 530 ribu orang. Oke, skip dulu deh membahas presentase dan angkanya. Karena ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari data tersebut, lebih dari sekadar angka dan presentase. Data ini bisa jadi bahan renungan buat para millennial Indonesia yang saat ini tengah mengundi nasib sebagai pencari kerja.

Visualisasi datanya via liputan6.com

Dari data diketahui, bahwa mereka yang berpendidikan rendah justru lebih sedikit yang menganggur. Yang berpendidikan lebih tinggi justru lebih lama jadi penggangguran karena suka pilih-pilih

Sibuk pilih-pilih, jadi pengangguran terus via careernews.id

Data tersebut mencatat bahwa mereka yang lulusan SD ke bawah justru lebih sedikit yang menganggur, yakni sekitar 2,88 % dari jumlah keseluruhan. Sementara itu presentase penganggur tertinggi adalah mereka yang lulusan SMK, yakni 11,11 %. Amat disayangkan karena mereka yang pendidikannya lebih tinggi justru lebih banyak yang tidak bekerja.

Gengsi dan idealisme mungki bisa jadi jawaban atas anomali tersebut. Faktanya, banyak dari mereka yang berpendidikan lebih tinggi, cenderung memilih-milih pekerjaan. Contohnya saja anak muda yang lulusan SMK tentu enggan untuk bekerja di sektor pertanian, sebisa mungkin mereka ingin bekerja di perusahaan besar atau kerja kantoran. Sementara itu, masih terjadi miskonsepsi antara kurikulum mereka di sekolah dengan yang dunia kerja. Tak ayal banyak dari lulusan SMK yang sulit untuk terserap lapangan kerja dan mendapat pekerjaan yang mereka inginkan.

Buat kamu millennial Indonesia, data pengangguran di atas bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk nggak terlalu idealis cari pekerjaan. Terutama pekerjaan pertama

Advertisement

Untuk pekerjaan pertama kamu mungkin bisa berkecimpung dulu di perusahaan startup via rudebaguette.com

Sudah menjadi hal lumrah manakala kamu yang fresh graduate cenderung idealis memilih pekerjaan pertama. Melamar pekerjaan pun didasari oleh reputasi perusahaan dan besarnya penghasilan bulanan yang bakal didapat. Tapi, fakta yang terjadi di lapangan bisa bikin kamu miris. Kamu harus bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi lain yang mana tahu punya kualifikasi yang lebih dari yang kamu punya.

Karenanya, supaya kamu nggak menganggur lama, ada baiknya kamu redam idealismemu barang sebentar. Yakni nggak apa-apa kalau misalnya kamu bekerja di startup dulu dengan gaji yang pas-pasan. Pada fase ini biarkan dirimu menimba pengalaman lebih dulu. Setelah pengalamanmu dirasa cukup, baru deh melamar perusahaan yang lebih besar. Mimpimu nggak kemana-mana kok, kalau saja kamu mau lebih sedikit bersabar…

PR besar buat pemerintah Banten dan Jawa Barat yang menduduki posisi dua teratas sebagai provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi. Padahal keduanya punya potensi SDA yang mumpuni

Indramayu, penghasil beras tertinggi justru warganya paling banyak menerima raskin via indramayupost.com

Warga Banten dan Jawa Barat mungkin akan geleng-geleng kepala jika mengetahui provinsi mereka menduduki tingkat pengangguran tertinggi. Padahal Banten dan Jabar punya sumber daya alam yang potensial. Gimana nggak, Jabar misalnya sebagai salah satu provinsi yang menghasilkan beras tertinggi di Indonesia. Sebut saja Karawang, Rancaekek, Sumedang, Cianjur dan Indramayu, sebagai daerah primadona penghasil beras di Jabar. Mirisnya, daerah yang disebutkan terakhir – Indramayu, sebagai daerah penghasil beras tertinggi di Indonesia pada tahun lalu (1,7 juta ton), justru warganya yang paling banyak menerima raskin.

Sementara itu, Banten dengan beberapa daerahnya yang menjadi kota industri dan kaya potensi, seharusnya bisa lebih unggul dalam hal penyerapan tenaga kerja jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Misalnya saja Cilegon – kota kecil di Banten yang sempat menduduki posisi sebagai kota dengan pendapatan perkapita tertinggi di tanah air, seharusnya bisa lebih banyak menyerap tenaga kerja. Pun dengan Tangerang sebagai daerah sub urban yang dekat dengan ibukota, yang pembangunannya lebih maju ketimbang daerah lainnya di Banten. Bisa jadi kendala yang dialami oleh Jabar dan Banten sama, yakni sektor pembangunan hanya terpusat di kota-kota besarnya saja. Pembangunan belum merata hingga ke pelosok desa-desanya.

Bisa belajar dari Bali dan Bangka Belitung yang ‘hidup’ dari pariwisata. Bahwa pariwisata bisa menjadi pilar ekonomi yang penting bagi sebuah provinsi

Bangka Belitung, sektor pariwisata jadi pilar ekonomi yang penting via kemanaajaboleh.com

Bali dan Bangka Belitung tercatat sebagai dua provinsi dengan tingkat pengangguran terendah di Indonesia. Pariwisata menjadi sektor terbesar yang menyerap tenaga kerja. Agaknya pemerintah Banten dan Jabar bisa berkaca pada keberhasilan Bali dan Bangka Belitung yang menjadikan pariwisata sebagai pilar ekonomi mereka. Karena dari segi bentang alamnya, Banten dan Jabar memiliki panorama yang nggak kalah cantiknya dari Bali dan Babel.

Sebut saja Anyer sebagai primadona wisata pantai di Banten yang sebetulnya bisa lebih diperbaiki lagi, baik dari segi sarana dan prasarananya. Sementara Jabar, punya Garut dan Sukabumi yang menyimpan banyak surga tersembunyi. Bukannya nggak punya, potensi wisata di Banten dan Jabar hanya sedang tertidur saja.

Bisa juga meneladani Thailand yang punya presentase pengangguran terendah di dunia. Anak mudanya tak malu jadi petani. Lapangan kerja yang dihindari oleh anak muda berpendidikan di Indonesia

Berbangga diri memanfaatkan lapangan pekerjaan yang ada via learning-across-borders.org

Panutannya nggak perlu jauh-jauh deh, cukup sesama negara ASEAN saja, yakni Thailand. Negeri Gajah Putih menduduki posisi sebagai negara dengan pengangguran terendah di dunia. yakni hanya 0,56 % dari total jumlah penduduknya. Data tersebut adalah gambaran 2 tahun lalu, akhir tahun 2014. Pertanian menjadi pilar ekonomi yang penting bagi negara tersebut. Sektor ini menjadi sasaran bagi mereka yang kehilangan pekerjaannya.

Di Thailand, seseorang yang resign atau dipecat dari pekerjaan di kota, akan pulang kampung untuk kemudian bekerja di ladang. Selain bertani, ketika mereka kehilangan pekerjaannya, mereka akan bersegera mencari pekerjaan paruh waktu atau bahkan berwirausaha. Jadi, tak ada alasan bagi mereka untuk menganggur lama-lama.

Daripada digantung terus nasibnya sama HRD perusahaan, mending mulai berwirausaha. Pekerjaan yang bisa bantu orang lain lepas dari status pengangguran

Kamu bisa menjadikan CEO Traveloka ini sebagai panutan via infokomputer.com

Untukmu millennial Indonesia yang berpendidikan tinggi, baiknya kuatkan tekad untuk berwirausaha, yup, jadi pengusaha! Karena dengan membuka usaha, kamu nggak hanya membantu dirimu, tapi juga membantu banyak orang dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Di era yang serba digital ini, impian menjadi pengusaha bukanlah sesuatu mustahil.

Karena sebagai anak muda yang kreatif, kamu bisa bekerja sama dengan teman-temanmu untuk membangun startup. Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak, bisa menjadi panutanmu dalam memualai langkah. Mereka merintis bisnis mereka dari nol, sebelum akhirnya sesukses sekarang.

Semoga penjabaran di atas bisa menjadi renungan bagi kaum millennial Indonesia untuk nggak terlalu idealis dalam hal memilih pekerjaan. Juga menguatkan tekad untuk berwirausaha, agar bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sehingga angka pengangguran di Indonesia bisa semakin rendah.