Akan ada waktu dimana kita merasa frustasi, tapi hanya RINDU lah yang bisa menjadi obat.

Aku adalah salah seorang dari sebagian besar perantau di Indonesia. Konsep pertama ketika kita mendengar kata perantau adalah orang yang meninggalkan desanya dan berpindah dalam waktu singkat ataupun lama ke kota lain. entah itu untuk mencari kerja atau mencari ilmu di kota lain. tapi yang pastinya ada jarak untuk bertemu dengan orang-orang yang kita tinggalkan di sana. Jarak itulah yang membuat kata RINDU itu ada. Rindu itulah yang akan selalu menghantui setiap harinya. Bahkan Rindu itu tidak pernah absen sekalipun. Seberapa keraspun aku menolaknya ia tetap saja datang.

Iya benar, menjadi anak perantau membuatku tiga kali lipat lebih cepat dewasa. Hidupku seketika berubah. Sungguh aku tidak mengingikannya. Aku dipaksa untuk cepat belajar dalam segala hal. Aku dipaksa untuk melakukannya sendirian. Kalau dibilang lelah, Jujur saja aku sangat lelah harus menjalaninya. Tapi rindu itu mengorek kembali wajah kalian yang membuatku belum akan menyerah. Ya aku harus mencoba, mencoba dan mencoba lagi. Rindulah benteng pertahananku selama ini.

Bagi seorang perantau pantang pulang sebelum sukses. Kata itu benar adanya. Aku akan sangat malu jika pulang ke kampung tidak membawa apa-apa. Orangtuaku sudah menghabiskan sisa hidupnya untuk memenuhi segala kebutuhannku tapi lihatlah apa yang kulakukan.

Tidak ada.

Advertisement

Aku tidak ingin menjadi seperti itu. Aku adalah orang yang akan selalu siap membahagiakanmu. Ya kalian mengertilah arti bahagia di zaman sekarang ini sudah bergeser. Bahagia tidak melulu soal financial. Walaupun aku tidak bisa membelikan mobil, rumah yang sebagian besar menyebutnya bahagia, tapi aku masih bisa membahagiakanmu dengan selembar kertas yang isinya nilai hasil ujian yang telah aku selesaikan beberapa minggu lalu. Aku jamin kamu akan luar biasa bahagianya.

Jika masih mengeluh sangat malu rasanya. Coba perhatikan apa yang telah dia lakukan untukku, untuk masa depan yang tidak jelas akan seperti apa nantinya. Tapi tetap saja dia tidak berhenti melakukannya. Hujan, panas, ia lalui hanya untukku. Bahkan aku tidak sadar wajahnya sudah mulai keriput.

Ia menjadi lebih tua dibandingkan dengan usianya. Tapi ia sungguh hebat. Ia tidak pernah sekalipun mengeluh. Bahkan memarahiku pun tidak ketika membuatnya kecewa. Seharusnya dia meneriakiku bahkan memakiku, tapi dia tidak melakukanya. Dia membalasnya denga kasih sayang yang begitu tulus. dan lihatlah aku membalasnya dengan keluhan-keluhan yang tidak jelas. Aku sangat tahu, kamu pasti iri kepada tetangga lain yang kini anaknya bisa memberikan apa yang diinginkannya. Tapi aku juga mengerti bukan itulah yang kamu harapka dariku. Melainkan kata “sayang” dariku itu saja sudah cukup.

Kini aku mengerti betapa kerasnya hidup seorang perantau. Aku seperti di lepas di gurun pasir hanya seorang diri. Seorang perempuan berumur delapan belas tahun, tidak mudah bagiku menjalaninya. Semuanya harus benar-benar dimulai dari nol. Hidup ini memberiku banyak pelajaran.

Bahwa Menjadi anak perantau membuatku mengerti banyak hal.

Bahwa Menjadi anak perantau Membuatku mengerti artinya menghargai

Bahwa Menjadi anak perantau Mengerti betapa berharganya setiap waktu yang kita habiskan.

Bahwa Menjadi anak perantau Mengerti sebuah kesepian yang selalu merasuki mimpi-mimpiku.

Meskipun tidak pernah terucap kata “ I love you dan miss you” kepadamu, tapi percayalah bahwa aku menyanyagimu segenap hatiku.

Terima kasih ibu untuk kasih sayang yang kau berikan selama ini.

Terima kasih untuk pengorbananmu yang begitu besar. Kau selalu siap berdiri dibelakangku dan berkata semuanya baik-baik saja.

Terima kasih atas keringat yang kau teteskan demi menjadikanku menjadi yang lebih baik.

Terima kasih untuk semuanya, dan

Terima kasih karena kita masih didunia yang sama.

Tanpamu, aku bukanlah siapa-siapa.