Beban hidup kian hari terasa bertambah. Lelah pasti ada. Mengeluh dan mengeluh, rasanya ingin kembali ke masa kecil dimana hal tersulit yang dihadapi sebatas PR perkalian Matematika. Saat kecil, aku sangat ingin cepat dewasa, agar seperti mereka yang sudah lebih dulu dewasa, berjalan dengan gagahnya dan tak terlihat lemah. Namun saat menginjak usia yang mulai matang, aku sadari.

Dibalik kegagahan seorang dewasa ada airmata yang di sembunyikan, ada luka yang ditutupi topeng fakesmile dan bahkan kesepian.

Begitupun aku, ini terasa berat, hingga akhirnya aku ingin menyerah. Aku ingin berlari dari keadaan yang ada. Beban ini kian menumpuk. Sampai akhirnya aku bertemu dengan sosok perempuan yang usianya diatasku saat di kampus, dengan gayanya yang pemberani, sikapnya yang tenang namun kritis membuatku tertarik dalam setiap obrolan. Logikanya membuat aku sadar, hidup ini memang adalah pilihan dan perjuangan. mengapa menyerah? Masih banyak orang yang perlu bantuan kita dan menaruh harapan besar di bahu kita. Aku salut, Ia menjelma seperti kakak yang hebat dan terlihat sempurna, dia bagai wonder women.

Namun sore itu…

Kudapati Ia mengangkat telepon di pojok sunyi terpisah dari keramaian, mukanya menghadap dinding. Tak lama, Ia menutup teleponya dengan muka yang tertunduk. Ada yang tak beres nampaknya. Kudekati dan ku dapati. Airmata itu segera Ia usap.

Advertisement

Kak, kenapa? (tanyaku sambil memegang bahunya)

Tidak, tidak apa-apa, cuma telepon dari bapak. Kangen hehehe (Ia berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya)

Aku diam. Hari demi hari berlalu, aku masih penasaran soal airmata itu. Hingga satu hari, bagai disambar petir tengah bolong. Aku dapat kabar rupanya Ia adalah seseorang yang Broken Home. aku tak menyangka dengan pribadi humanisnya, kritis dan beraninya yang menjelmakan dirinya seperti sosok yang hidup sempurna, dia adalah sosok yang berhasil keluar dari pedihnya arti sebuah perpisahan.

Sepaska ku tau itu, Ia tersenyum dan berkata "ya, aku Broken Home de, sedih itu pasti ada. Rasanya lebih sakit, tapi aku sadar ada hidup yang harus aku perjuangkan untuk mengubah jalan cerita, agar tidak mengulangi kesalahan orang yang terdahulu, bukan?".

Kini tiap kali aku mengeluh, Ia selalu mengajariku untuk bersyukur.

"Hati-hati jadi orang yang ngga bersyukur"

"Gue baik sama banyak orang, karena gue tau artinya kesedihan, arti perpisahan dan artinya luka yang dalam. Bersyukurlah atas apa yang kamu punya sekarang"

Dia banyak memberiku pelajaran, hidup bukan hanya sekedar mengeluh. Hidup adalah perjuangan, saat kita mampu membuktikan diri bahwa kita tidak lemah. Ketika Tuhan memberi kita kesempatan, kenapa kita harus sia-siakan? Buang jauh-jauh rasa menyerah! Lelah adalah wajar, tapi diam tersungkur dalam ruang hampa adalah pilihan yang tak cerdas. Jangan biarkan dirimu lemah, yakinlah bahwa kita bisa kuat dari yang kita pikirkan, kita bisa lebih hebat dengan segala keterbatasan yang ada, asal kita berani untuk keluar dari zona nyaman.

Terimakasih ka, walau kita bukan saudara, tapi ilmu dari kehidupanmu membuatku banyak belajar untuk tegar hadapi dunia, untuk lebih kuat menembus batas dan meraih asa.