Denting jam kembali berbunyi, tak tampak pula suara merdu itu. Aku tetap menunggu dalam sepinya waktu, hingga mata ini terlelap dibalut kehangatan malam, tak jua ada kabar darimu. Sebulan berlalu, aku masih tetap menunggu. Tak pula kutemui satu messages atau call masuk darimu. Raga dan batinku begitu gelisah, entah apa arti ini semua. Sempat aku berpikir, bahwa penantian dan kesetiaanku berujung sia-sia.

Namun, di kala pikiran itu membanjiri imajiku, tak lama handphoneku berdering, tanda pesan darimu. Aku meloncat kegirangan, tak aku sangka, ternyata kau masih tetap setia mengingatku. Meski kita "bertemu" hanya dalam 5 menit, telponan hanya satu jam lebih. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Cukup untuk menyatakan padaku bahwa kau mengakui kehadiranku di dunia ini, cukup untuk melepas semua penat dan jenuh penantianku selama hampir sebulan lebih.

Dan cukup untuk membuatku tetap hidup dan kembali tersenyum lagi. Kau cintaku, takkan terganti. Meski terkadang kau ibarat jelangkung, datang tak dijemput pulang tak di antar, namun kau selalu bisa menghibur dan melukis tawa di wajahku lagi dengan berbagai caramu. Terimakasih untuk semuanya. Kau begitu berharga, takkan terganti. Aku terus berdoa pada sang Khalik, kaulah imamku, amin.