"Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti." (Ali Bin Abi Thalib)

Meski kalian belum tentu sudi menerima kehadiran cerita ini, izinkan aku untuk mencurahkan melalui tulisan sederhana yang mungkin bahkan tak akan pernah sempat kau baca. ''Sahabat, kita saling mengenal meski tak terlalu dalam 3 tahun pertemuan singkat yang mungkin hanya kau anggap angin berlalu, ternyata membekas di ingatanku. Dulu sepertinya tak pernah terbayang memiliki cerita yang begitu indah. Meski malu harus kuakui kini kalian telah menjadikan kenangan dalam hidupku. Tulisan yang dulunya hanya kupersembahkan untuk diriku sendiri, kini harus di bagi dengan orang lain.

''Tahukan kalian, bahwa kehadiran kalian dulu telah membuatku belajar tentang arti kehidupan?''ini adalah cerita tentang rasa rinduku yang telah kuperjuangkan, tanpa tahu akhirnya apa yang harus aku tulis?

Aku kembali untuk menuliskan apa yang ada di masa lalu, masa yang membawaku pada detik ini. Di senja penghujung tahun. Tiga tahun yang membawa cerita, angka tiga yang menyadarkan dan menyandarkan. Sejenak dengan keputusan terbesar dalam sejarah narasiku untuk meninggalkan mereka, bukan hal yang mudah. Tetapi umur yang kuterima lebih dari yang kuharap. Perpisahan yang justru menjadikan indahnya sebuah pertemuan.

Waktu yang tak kusadari kian berjalan tanpa peringatan, sahabat yang bersama dan tak lekang. Tidakkah selalu ingin kusadari bahwa mereka orang pertama yang mengenalkanku pada “dunia”, mereka yang selalu menjagaku di antara kelemahan, mereka pengantar terbaik dewasaku.

Advertisement

Dan adilnya waktu, tak pernah sedetik pun membuatku lekang, aku dan mereka dengan Almamater berwarna hijau sebagai lambang sekolah kami.

Pertengahan dua ribu dua belas, juga meninggalkan mereka dalam gerimis perpisahan pada hari di mana satu-satunya gerbang yang selama ini memenjarakan aku dan mereka, seragam putih biru yang harus terlepas dengan paksa. Keindahan sejenak itu sirna karena diseretnya aku oleh sang waktu untuk beranjak. Kini, detik kemarin juga membawaku pada detik ini, menginginkanku untuk kembali menuliskan tentang kita dan kalian. tentang kilau kemarin yang menjadikanku kini bermimpi tentang gemintang, lalu beranjak untuk menjadikannya nyata.

Waktu demi waktu yang memisah, tak membuat jengah kita dan kami untuk bertatap lalu saling bercerita, mengenang dan mencairkan kerinduan yang lama mengkristal. Rindu yang selalu terpanggil menjadikanku ada, menjadi kembalinya aku dan sesungguhnya aku, di antara kalian, sejadi-jadinya Narasi demi narasi laksa gravitasi dalam ruang atmosfer yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari tempat kakiku menginjak selama ini. Hadir demi kehadiran, penerimaan dan kekalahan adaptasi. buatku belajar banyak hal tentang kalian, tentang kota ini, tentang kita, dan makna “Aku Sayang Kita” yang tak lekang oleh perbedaan. Perbedaan yang menjadikanku indah dengan kenangan.

"Ya, kenangan. Mengajarkan kehadiran dan kebersamaan. Keluarga yang sebenar-benarnya keluarga, bukan sekedar tempat singgah tapi tempat kembali pulang dalam lelah, tidak sekedar raga tapi juga rindu.

Mereka kini, yang nyata, menjadi satu-satunya rumahku di kota ini, masih dan selalu. Sedari kaki menginjak tanah yang penuh keramahan ini, hingga tugas usai kutunaikan. Tak berhenti pada satu waktu, sekedar kembali hanya untuk kembali duduk bersama tanpa ruang dan waktu yang menyekat. Hanya aku dan mereka, keluarga tanpa syarat. Sahabat tanpa kata berlebih, pemaknaan yang berbatas pada kata bersama, dan yang tak berbatas pada perpisahan tanpa arti.

Ini tentang mimpi dan impian yang dibangun dalam satu atap yang sama, tentang kata hati yang tak pernah berdusta, tentang sebuah keluarga kedua yang tak menghakimi karena kehidupan. Hanya tentang sebuah rumah untuk kembali, untuk bersama, untuk mencitakan Surga dengan adanya kita, aku dan kalian, aku dan mereka, mereka dan kita. Inilah sebatas cinta yang beriring dalam lafaz untuk kalian. Menemukan keping demi keping artiku, menjadikanku lebih berani menatap sang mentari, kilau yang membunuh retina. Menusuki tanpa geram.

Rumah tanpa batas, ruang tanpa waktu, detik tanpa arloji. MTS.N 11 Jakarta Barat. Di sana aku ada tanpa sengaja dan dengan kesengajaan aku bertahan. Seorang lawan yang menjadi kawan dan sanggup menjadi kuat dengan perlawanan. Satu-satunya benteng tak berujung. Pengajar dan pendidik tentang kepemimpinan yang baik. Tentang keluarga dan sahabat. Juga amanah tertinggi terbilang, tidak mengecewakan.

''Ya, sang waktu yang membuatku mengenal sejuta keindahan dari hidup ini. Berada di puncak itu bersama mereka, belajar dan mengajar tentang Agama yang senantiasa mengindahkan, saling menghargai. Bukan waktu yang tak memihak, hanya jalan yang harus ditempuh. Berujung pada kenangan tanpa kata, tanpa sebuah pertemuan. Narasi demi narasi yang menjelma retorika, terpelanting dari logika yang membunuh vaskular, perlahan dan pasti. Merekalah sukma.

Mushollah yang mengkaram kenangan, kegiatan demi kegiatan pengajian yang menjadikan bersama. Itulah kita dan mereka. Aku dan kalian. Juga terselip aku dan dia di antara kita. Benar silih pergantian sang waktu yang tak terkendali, mengganti satu cerita dengan kehadiran cerita yang anggun lainnya.

Semua memang selalu memiliki ruang tersendiri dan entah, kenangan yang pernah hadir, teman yang menjadi bagian dari narasi yang kutulis setiap malam. Juga tak akan lekang oleh ruang. Hanya kata, terima kasih sudah turut hadir mewarnai jalannya cerita ini. Tapi perlu diketahui juga, tidak hanya mereka, tapi juga tentang kalian. Namun sayang, tak terkuak oleh gambar.

Hanya setitik retorika yang ada di lain pihak.

Warna-warni keluarga , Jakarta dan Kenangan, larut dalam sejarah kebersamaan yang terus merajam agar tak lekang. Hadir dan tak pernah berhenti untuk saling menyapa hingga meski detik tak lagi sama. Di saat pun tiba teriakan tak lagi memekak, alunan menenggelamkan dan membawaku pada dasar palung yang tak tertuai oleh kata, ''jiwa yang menggentar muda dalam realita.''

Kembali teman dan keluarga. Mengajarkan banyak hal tentang sebenar-benarnya kehidupan.

Menjadi bagian sebagai orang yang terlibat dalam cerita itu menyenangkan, bertemu orang-orang baru, pengalaman baru, yang tidak berkutat pada kehidupan dan kebisingan semata.

Menemui bagian terpenting dari narasi segala-gala narasi yang hadir. Sahabat tanpa syarat. Penerimaan tanpa kata. Keluarga dari segala-gala keluarga. Mereka yang menjadi kalian, dan kini menjadi kita, dan selamanya kita.

Seorang Guru yang tak sekedar Guru, yang cintanya tak sekedar cinta manusia. iya seorang guru dan cover biru langitku adalah bukti kebenaran cinta tak berujung. Bukti sebuah kekuatan tanpa kata.

Cinta demi cinta lain menampak jelas tanpa kaburan sang senja yang meringkuk mundur, sejenak. Tapi sahabat yang menjadi keluarga tanpa isyarat. Menjadikanku berarti dengan sejuta cinta yang dipersembahkannya untuk semesta. Dan lebih sanggup untuk ada. Bukanlah ujung dari segala ujung, hanya awal dari kenyataan. Lingkaran kincir yang beradu, antara impian dan kenyataan. Bahwa kembali kata pisah yang harus ditemui, bukan akhir, tapi awal untuk bertemu kembali, dipertemukan oleh kehidupan. Aku, kamu, dan kalian, juga kita, karena benar adanya “Aku Sayang Kita” yang tak kan pernah lekang oleh ruang dan sang arloji bisu. Pertengahan 2012 yang paling gamang untukku.

Tapi inilah yang terpenting dari sekian perjalanan singkat narasi , Yang menjadiku lebih dari sekedar kata sanggup. Yang menjadikan lebih dari sekedar berarti, meski tanpa kata, tanpa syarat, dan tanpa isyarat. Di sinilah impian di bangun bersama kita. Tentang sebuah keluarga, sahabat, juga persaudaraan. Orang-orang yang hadir dalam narasi jemariku, silih berganti namun tak akan pernah lekang barang sejentik.

Inilah satu-satunya impian yang ingin kubangun di masa depan. Di tahun bilamana waktu masih mengijinkanku berada di sana, tentang sebuah cinta, tentang suatu keluarga, tentang kecintaan akan damai sabana dalam senja, yang diharumi oleh kesucian kelopak-kelopak melati.

''Yaaa, Ini menjadi catatan narasiku, catatan terindah yang pernah kubuat. Arti demi arti dari sebuah kehadiran, pemaknaan dalam sejentik kebersamaan. Biarkan sejuta gemintang di cakrawala aksara, jingga sang senja, dan keharuman melati mewakili rasaku, untuk dibisikkan ke hati kalian yang telah bersedia hadir, terima kasih untuk segala cinta ini …

Sampai bertemu di masa depan … Sahabat.