Hai sedang apa sekarang? Masih ingat aku? Gadis yang kau tinggalkan demi dia, seseorang yang kau sebut hanya sebatas teman namun naik pangkat menjadi pasangan.

Aah sudahlah. Aku tak ingin berbasa-basi lagi. Kita mulai saja percakapan sebentar saja. Biarkan hatiku dan hatimu berbincang beberapa menit saja. Setidaknya kau sudi untuk mempersilakan.

Masih ingatkah? Pertama kali kau mulai mengenalku bahkan itu baru beberapa minggu. Kamu berhasil menyelinap masuk memenuhi ruang hatiku dengan mudahnya. Aaah, untuk urusan ini kamu memang piawai sekali.

Aku sempat menolak antara "ya dan tidak", tapi entahlah, waktu itu kau benar-benar pandai meyakinkanku.

Mungkin saja aku terlalu terburu-buru menerimamu bahkan belum juga kuuji dulu seberapa pantas kamu menjadi pasangan setiaku. Terlambat! Semua sudah berakhir. Kamu pergi begitu saja meninggalkan perih dan memaksaku melanjutkan hidup yang bahkan bahagianya pun sudah kau rampas tanpa ada bekas.

Advertisement

Aaah, priaku! Tahukah kamu, ketika aku terseok dan mencoba berdiri dan berpijak lagi itu teramat sakit? Di saat terombang-ambing menahan perih sedangkan kamu tertawa bahagia bersama kekasih barumu itu. Sungguh, demi Tuhan aku cemburu. Aku benar-benar membutuhkanmu. Aku berharap kau datang dan memelukku sebentar saja, menghapus air mataku sedikit saja. Setidaknya itu akan bisa menguatkanku. Tapi, tidak! Kuurungkan niatku untuk menghubungimu atau bahkan mengemis menjelaskan agar kau berbelas kasihan. Tidak! Aku tidak akan melakukannya. Kau telah menjadi pria dari kekasih barumu. Aku mengerti, aku memahami sakitnya wanitamu jika aku terus saja mencoba merayumu. Dia akan terluka, sama sepertiku. Tapi tenanglah, sampaikan kepada wanitamu, aku tak akan menyakitinya. Cukup aku saja, semoga dia berbahagia.

Kepadamu priaku dulu, seberapa dalam lukaku mungkin kau sudah jelas tahu. Sakit dan perih memungut pecahan kenangan yang berserakan lalu mengumpulkannya dan kemudian menyatukannya kembali sendirian itu sangat menyakitkan. Lalu, kepada mereka (sahabatmu dan sahabatku) yang datang untuk menguatkan itu, aku berterima kasih. Tapi untuk urusan menyembuhkan sendiri sakit ini, tidaklah semudah dengan apa yang mereka katakan.

“Kamu lanjutkan hidupmu di sana, dan begitu pula denganku yang akan melanjutkan hidupku di sini. Waktu yang akan menghapus lukamu. Semoga kelak kamu berbahagia.”

Pesan terakhir yang kau kirimkan kepadaku begitu mudahnya kubaca, namun susah untuk aku bisa terima begitu saja. Jelas perih! Kau seolah mengusirku tanpa hormat dari hidupmu. Tapi apa pernah kau tahu? Aku menerimamu sebagai tamu terhormat yang bertahta bak seorang raja? Salahkan saja semuanya padaku sebagai gadis naif yang mudah terbujuk oleh rayuan bullshit-mu.

Marilah! Kubantu kau untuk mengingat-ingat kembali. Tawaranmu yang seolah meyakinkanku dengan mengatasnamakan Tuhan itu berhasil membuatku membisu untuk tak menolakmu. Aahh priaku, berhati-hatilah dalam membuat janji yang sekiranya belum pasti nyata akan kau tepati. Toh pada akhirnya, ada hati yang sekarang kau buat begitu terluka.

Kau begitu mudahnya menggantikan posisiku dengannya, wanita yang di depanku kau jelaskan hanya sebatas teman biasa. Aku bahkan sempat berpikir,mungkin saja waktu itu kau berniat mendua. Memintaku untuk bergeser posisi dari yang sebelumnya kau spesialkan berpindah haluan menjadi yang terlupakan. Mungkin saja pula, kau berniat menjadikanku pelampiasan dari kesal dan amarah yang tak tahu dengan siapa akan kau luapkan. Aku tahu, ragaku berada jauh darimu bahkan tanganku tak pernah sampai untuk menyeka setiap bulir keringat yang bercucuran dari tubuhmu akibat kerja seharian. Aku tak bisa menghidangkan makanan kesukaan seperti yang kau pesan apabila nanti waktu yang kembali mempertemukan. Jarak memang telah menjadi tembok penghalang bagi kita.

Sedangkan dia? Dia selalu bisa datang kapan pun kau minta. Dia selalu bisa menyiapkan bahunya untuk tempatmu bersandar melepas lelah. Berbeda denganku yang hanya bisa merapal doa setiap kali kau mulai melangkah, yang hanya bisa memberikan support terbaik ketika kau mulai berputus asa dan menyerah. Ya! Hanya sebatas itu saja yang kubisa lakukan untukmu, priaku.

Tapi, setega itu kah kamu terhadapku yang bahkan sedang berjuang untuk secepatnya menyelesaikan studiku? Huufftt…. Mungkin kau bisa bantu jelaskan padaku, berapa kali lagi aku harus menelan sabar? Berapa lama lagi aku harus menahan perih pesakitan? Jangan pernah katakan lagi bahwa waktu yang akan menyembuhkannya. Ini bukan lelucon seperti yang pernah kau lontarkan.

Sudikah kau sedikit saja mengingat janji-janji yang pernah kau ucapkan itu? Cobalah sebentar saja kau sisihkan waktumu untuk sekedar mengenangku, gadis yang pernah menjadi partnermu merancang mimpi. Gadis yang pernah kau ajak untuk mempertaruhkan segalanya. Gadis yang pernah kau tawarkan untuk merasakan bahagia.

Priaku, bolehkah aku bertanya? Apa yang membuatmu begitu mudahnya menggantikan posisiku?

Mungkin saja kau akan mengatakan:

"Karena dia lebih sempurna, karena dia sudah kukenal lama, dan karena dia yang akan selalu ada tepat disampingku ketika aku lelah sepulang kerja"

Begitu bukan? Priaku, pantaskah kamu menyia-nyiakan aku, gadis yang diperjuangkan mati-matian oleh ayahnya sendiri? Aaah, kau memang tak sebaik beliau. Bahkan aku benar-benar belum menemukan sosok seorang lelaki bertanggung jawab seperti ayah dari dalam dirimu. Kau tak perlu lagi bertanya apa alasannya. Semuanya sudah terpampang jelas, bahwa dengan bangganya kamu menarik ulur, mempermainkan dan menyakiti gadis yang tak pernah lelah dan bosan ketika menemanimu berjuang. Ya! Hanya sebatas itu tanpa pernah berniat untuk menyembuhkan. Betapa kejamnya perlakuanmu kepadaku, gadis yang pernah kau berikan seribu harapan.

Kepadamu priaku yang kini memilih pergi untuk meninggalkan. Entah kapan waktunya akan tiba, entah kapan doa yang senantiasa aku panjatkan itu akan dikabulkan. Maaf! Ini bukanlah perkara yang kulakukan untuk berbalas dendam, tapi biarlah aku merapalkan doa atas kesakitan yang terus saja kau hujamkan. Toh pada akhirnya, Tuhan yang akan memberikan keadilan. Semuanya akan berbalik kepadamu. Seperti yang kau katakan bahwa waktu yang akan menghapus lukaku, dan sekarang akan kukatakan bahwa waktu pula lah yang akan membalas perlakuanmu. Entah, mungkin satu , dua, tiga, atau bahkan puluhan tahun ke depan. Biarlah pesakitan ini menjadi saksi atas kecurangan yang kau lakukan.