Alkisah pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang wanita muda bernama Anna. Anna lahir dari keluarga kaya raya, ayahnya seorang bangsawan yang punya tanah luas. Sebelum kelahirannya, dia sudah dijodohkan dengan putra bangsawan lain. Namun beranjak dewasa, Anna mengalami musibah. Dia mengurung diri di dalam kamar, suka meracau tidak jelas, tidak ada yang bisa memahaminya. Kadang dia menangis sambil mengamuk sendiri dan menghancurkan perabotan kamarnya.

Bangsawan pun jadi panik, kalau keadaan putrinya seperti ini, bisa-bisa perjodohan untuk memperkuat politik keluarga bisa batal. Maka dia bertanya pada seorang Penyihir, "apa yang terjadi pada putri saya?"

Penyihir itu menjawab, "putri anda aneh tanpa sebab yang jelas. Tak salah lagi. Pasti dia kerasukan setan!"

Bangsawan jadi pucat pasi, dia memohon pada Penyihir itu untuk menyembuhkan putrinya, apapun yang terjadi.

Penyihir itu lalu meramu obat mujarab yang resepnya pasti anda tidak ingin tahu, kecuali anda ingin muntah. Setelah ramuan itu selesai, dia mencekoknya ke dalam mulut Anna sampai gadis itu menelan habis ramuan yang baunya tidak karuan itu. Anna pun muntah-muntah. Lendir hitam bercampur dengan enzim lambung, mentah berserakan di atas lantai berkarpet merah.

Advertisement

"Kamu yakin putriku bisa sembuh?" tanya Sang Bangsawan dengan cemas. Dia mencemaskan masa depan keluarganya–perjodohan dengan bangsawan sebelah yang terancam batal–dan juga mencemaskan putrinya, karena sang putri tampak sangat menderita.

"Lihat lendir hitam itu, tuan Bangsawan! Itu iblisnya. Kita telah berhasil mengeluarkannya dari perut putrimu! Anna akan sembuh!" kata Penyihir itu sambil menyeringai, kutil besar di atas bibirnya turut terangkat bersama senyumnya.

Bangsawan yang percaya pada ucapan Penyihir itu merasa lega sejenak, sebelum Anna kemudian berteriak-teriak histeris, "apa yang kalian lakukan padaku?! Aku tidak suka makanan aneh itu!!"

"Kelihatannya tidak berhasil, Penyihir," kata Bangsawan sambil ketakutan, dua orang penjaga di belakangnya sudah siap bertindak andai Nona Muda mereka itu beraksi untuk melakukan hal yang membahayakan terhadap majikan mereka.

"Aneh, biasanya setelah orang minum ramuan ini, mereka akan muntah-muntah dan jatuh pingsan, setelah itu mereka akan tidur dan sembuh. Apa yang salah ya…" Penyihir itu sendiri juga sedikit bingung.

Namun mereka tidak punya waktu untuk berdebat atau berpikir kenapa ramuan itu tidak manjur terhadap Anna. Nona cantik itu kini mengamuk, dia mengambil benda terdekat yang bisa dijadikan senjata–gagang lilin–kemudian dengan mata mendelik marah yang menyala-nyala dia mengayun-ayunkan gagang lilin itu. Bangsawan dan Penyihir itu harus menjaga jarak mereka sambil berharap mereka tidak terluka, sementara dua orang penjaga itu bertindak untuk membekuk Nona Muda mereka dan mengikatnya di atas ranjang. Tangan Anna dengan liar mengayun ke sana ke mari sehingga salah satu penjaga itu terluka pelipisnya. Darah menetes-netes ke lantai.

"Ini mengerikan sekali, Penyihir, kelihatannya iblis yang merasuki putriku itu sangat buas dan kuat sehingga ramuanmu tidak mempan!" Bangsawan itu frustrasi.

"Tenang, tuan. Dulu aku pernah menangani orang yang kerasukan setan kuat seperti putrimu itu. Aku berhasil membuatnya tenang dengan sebuah metode …"

"Lakukan apapun, Penyihir … asal putriku sembuh. Singkirkan setan itu dari tubuh putriku!"

"Aku akan menolongnya dengan sedikit imbalan," Penyihir itu mengusap-usap jarinya, isyarat meminta tarif tambahan. Bangsawan kaya itu segera menyerahkan beberapa keping emas berharap putrinya bisa lekas dibebaskan dari cengkraman iblis tersebut.

Penyihir itu meminta Anna untuk diikat dan didudukkan di dalam sebuah lingkaran mantra segi enam dan dikelilingi lilin. Anna mencoba untuk memberontak, dia berteriak-teriak minta dilepaskan, tapi tidak ada yang mau mendengarkan suara iblis itu. Penyihir membaca mantra untuk berbicara dengan iblis itu dan seketika, Anna tertawa keras. Matanya melotot dan liurnya berjatuhan menetes-netes sampai ke lantai.

"Iblis, siapa namamu?"

"Apa yang kau bicarakan, kau wanita tua bodoh?!" balas iblis itu.

"Aku bertanya padamu, siapa namamu, iblis?!!"

"Lepaskan aku!!"

"Aku ingin membantu Nona Anna untuk melepaskan diri dari cengkramanmu. Dia gadis yang baik dan tak berdosa. Berhentilah mengganggunya, aku perintahkan atas nama langit dan bumi, agar kau enyah detik ini juga!" gertak Penyihir itu.

Namun sekali lagi Anna tertawa, "hahaha … kau pikir usahamu ini akan berhasil, ha? Tidak ada manusia yang sanggup menolong manusia lainnya. Semua manusia hidup untuk dirinya sendiri, untuk kepentingan pribadinya masing-masing. Ayahkupun begitu. Dia membesarkan aku untuk memperluas pengaruhnya dengan cara menikahkanku pada putra bangsawan sebelah. Manusia itu egois, manusia itu setan! Aku benci manusia!! Aku ingin menghancurkan mereka semua!!"

Istri sang Bangsawan segera jatuh pingsan setelah mendengar ucapan yang keluar dari bibir Anna itu. Bangsawan itu bergemetar, memohon agar Penyihir melakukan apapun untuk menyelamatkan putrinya, "dia bukan Anna yang kukenal, dia bukan Annaku yang dulu. Iblis telah mengambil alih pikiran dan hatinya!"

"Bangsawan, tenanglah, putrimu masih hidup!" kata si Penyihir. "Ya, … aku bisa merasakannya. Putrimu sedang menangis tak berdaya jauh di dalam jiwa yang terperangkap dalam tubuh rapuh itu. Aku rasa satu-satunya cara untuk melepaskan putrimu itu adalah dengan satu jalan …"

"Lakukan apapun! Aku ingin Annaku kembali!" kata Bangsawan.

"Tapi, dia akan berdarah-darah. Kebanyakan orangtua tidak tega, apa kau tega?"

"Kulakukan apapun demi Anna!" desak sang Bangsawan.

Maka mereka mengikat Anna hingga gadis itu tidak bisa bergerak, kemudian Penyihir itu mengambil perkakas dan mulai bekerja untuk melubangi kening Anna. Gadis malang itu menjerit-jerit kesakitan. Darah bercucuran menganak sungai dari kening, ke hidung, hingga jatuh ke lantai melalui lehernya. Semakin besar pemberontakan Anna, semakin besar lubang yang dibuat oleh Penyihir di tengkoraknya. Akhirnya gadis itu kehabisan darah dan mati.

Bangsawan menangis pilu di pemakaman putrinya, di sebelahnya berdiri Penyihir yang bertanggung jawab atas kematian Anna.

"Maafkan aku, Pak Bangsawan. Iblis itu terlalu kuat untuk kuhadapi… aku masih butuh banyak belajar," kata Penyihir itu penuh sesal. Sungguh, dia hanya ingin membantu Bangsawan dan Anna. Buktinya, ketika dia gagal, semua emas yang dibayarkan Bangsawan dikembalikan semuanya tanpa kurang sedikitpun.

"Tidak apa-apa, Penyihir. Aku hanya manusia biasa, apalah dayaku di hadapan dunia yang begitu kejam ini? Manusia begitu rapuh, tanpa perlindungan Tuhan, kita bisa dilumat iblis sampai mati seperti itu. Oh Anna … kuharap kau tidak diseret iblis ke neraka …" Bangsawan itu mengusap air matanya dengan pilu.

"Aku akan terus mempelajari ilmuku, sehingga di masa depan nanti, tidak akan ada lagi Anna-Anna yang lain… agar iblis tidak lagi mengganggu manusia."

"Kuharap begitu juga, Penyihir…." Bangsawan dan Penyihir itu kemudian berpelukan penuh haru.

Ratusan tahun kemudian, harapan Sang Bangsawan dan Penyihir itu terkabulkan. Pada awal abad 20, seorang terpelajar menemukan cara untuk menyembuhkan manusia-manusia kerasukan tersebut. Tidak ada lagi orang kerasukan setan yang diusir, dipasung, atau dilubangi tengkoraknya.

Namanya adalah Sigmund Freud, dan dia menyembuhkan orang-orang "kerasukan" itu dengan cara "mendengarkan".

Catatan Penulis :

Melihat orang yang kita cintai menderita membuat kita turut menderita juga. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk berempati. Jangankan sesama manusia, terhadap hewanpun kita tidak bisa membiarkan mereka menderita. Itu sebabnya, kita akan melakukan apapun untuk menolong orang yang kita cintai itu agar mereka terlepas dari penderitaan.

Namun … tidak semua dari kita tahu cara yang tepat untuk menolong mereka. Mungkin karena terlalu paniknya, kita cenderung mengandalkan pengetahuan kita sendiri untuk menolong orang lain itu. Di sinilah kita seringkali lupa bahwa pengetahuan kita terbatas. Kita tidak mungkin tahu segalanya.

Maka dari itu, alangkah baiknya bila kita menyediakan hati dan telinga yang luas untuk mendengarkan orang yang sedang menderita itu, untuk kemudian menolong mereka dengan cara yang tepat. Anna dalam kisah di atas adalah seorang gadis yang mengalami depresi karena bertahun-tahun memendam kemarahan terhadap ayah karena merasa dimanfaatkan demi kekuasaan. Karena tidak tahu cara mengungkapkan kemarahannya, Anna menjadi impulsif dan mengamuk. Tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan Anna, semua menganggap apa yang keluar dari mulut Anna bukan berasal dari perasaan Anna sendiri. Mereka tidak mengalami apa yang Anna alami sehingga mereka tidak merasa ada yang salah sehingga Anna dapat berlaku demikian, kemudian menyalahkan setan. Andai mereka mau mendengarkan Anna dan memahami pesan dibalik kemarahannya, mereka dapat mendiskusikan jalan keluar bersama sehingga Anna bisa keluar dari penderitaannya.

Bila anda mencintai seseorang, anda akan mendengarkannya. Karena anda ingin memahami orang yang anda cintai itu.