Suatu hari, tampak oleh kedua mataku, sebuah bungkusan yang tergeletak rapi di atas mejaku. Kuingat-ingat, rasanya bungkusan ini sudah ada sejak setahun lalu. Ketika kubuka, ternyata di dalamnya ada dua buah tangkai mawar, yang dulunya berwarna merah dan putih, masih lengkap dengan plastik beningnya, dan diikat dengan pita berwarna merah muda. Tak lupa, ada aluminium foil yang membungkus kedua batangnya.

Kedua mawar itu, sebenarnya, tidak cocok lagi disebut sebagai mawar. Batangnya sudah mengering dan rapuh. Kelopaknya pun layu, dimakan oleh waktu. Tak ada lagi warna merah dan putih di setiap kelopaknya, yang ada hanyalah warna merah kehitaman dan putih kekuningan. Plastik pembungkusnya juga diselimuti oleh debu. Jelas sekali kalau keduanya tidak pernah disentuh, apalagi dirawat dengan baik.

Secara fisik, kedua mawar itu tak lagi sempurna, namun bersamanya terselip sebuah kenangan manis yang pahit untuk dikenang. Ah, lagi-lagi paradoks kehidupan. Setahun lalu, masih teringat olehku, ketika mawar itu, kupikir, menjadi tanda cinta di antara dua hati yang berbeda. Iya, 1 tahun, 12 bulan, 365 hari, 8760 jam, 525.600 menit, dan 31.536.000 detik. Bukan waktu yang sebentar bukan?

Aku lupa. Tidak tahu pasti, kapan pertama kali aku benar-benar merasa jatuh cinta kepadamu. Aku hanya ingat ketika, malam itu, kamu memberiku dua buah tangkai mawar, berhiaskan plastik bening yang diikat manis dengan pita berwarna merah muda.

"Tolong simpankan mawar ini untukku ya," ujarnya sambil tersenyum menatapku.

Advertisement

Cantiknya, gumamku dalam hati.

"Kenapa warnanya merah dan putih?" tanyaku, heran. Entah karena sikapnya yang mendadak berubah menjadi romantis atau karena mawarnya yang nampak berbeda.

Ah, bahkan defisini romantis saja masih terasa absurd bagiku.

"Ya, sebagai lambang perbedaan di antara kita. Tapi bagaimanapun juga, mau merah atau putih, tetap disebut mawar kan?" balasnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa tersenyum. Tersadar ada sebuah getaran aneh yang membuat detak jantungku tidak beraturan. Sepanjang malam itu, aku hanya bisa terdiam. Meskipun hati ini bisa berbahagia lantaran sikapnya yang, menurutku, manis.

Cinta, itu yang orang katakan. Sebuah kata yang tidak pernah kumengerti, sampai sekarang. Indah memang, tapi kata itu pula yang kerap memunculkan kegundahan bahkan kekecewaan. Gundah karena merasa diabaikan. Kecewa karena harapan-harapan yang ditorehkan terlalu tinggi. Masalah klasik.

Orang bilang, cinta itu hadir dari dua hati yang saling. Saling memiliki perasaan yang sama, saling memahami, saling mengerti, saling memaafkan, dan saling-saling lainnya. Lalu, bagaimana jika keduanya tidak saling? Tak dimungkiri lagi, jika nantinya ada salah satu yang merasa tersakiti.

"Aku capek. Udah terlalu banyak memaklumi kamu," kataku, suaraku tersendat menahan tangis.

Di hadapanku, duduk seorang laki-laki, kulitnya agak gelap karena terbakar sinar matahari, berambut hitam cepak dan mengenakan T-shirt berwarna hitam, tengah menatapku dengan penuh keheranan.

"Kenapa? Aku salah?" katanya, seolah tak peduli meski kedua matanya menatapku dengan tajam.

"Kenapa mesti balik bertanya, sih? Tanyakan saja pada dirimu sendiri!" jawabku dengan kesal. Berusaha mengalihkan pandangan.

"Jelaskan, aku tidak mengerti," balasnya, namun kini ada nada tinggi di suaranya.

"Sudahlah, lupakan saja. Mungkin bukan hal penting juga buatmu," ujarku, berharap agar dia merengkuhku dalam pelukannya yang selalu aku rindukan.

Dasar perempuan, runtukku dalam hati. Tidak pernah berkata jujur dengan apa yang sedang dirasakannya.

"Sebentar ya, kerjaan". Dia pun mengambil ponsel pintar dari saku kanan celana jeansnya. Tak lama, ia sudah sibuk menatap ponsel berukuran lima inch tersebut.

Brengsek, batinku. Untuk apa jauh-jauh kemari untuk menemuiku jika asyik dengan ponsel pintarmu? Dan sisa pertemuan itu pun hanya diisi oleh keheningan. Dia yang masih sibuk dengan ponsel pintarnya, sedangkan aku menatapnya dengan pandangan kosong. Rasanya, seperti berbicara dengan kekosongan. Sudah kusia-siakan waktuku hanya untuk sesuatu yang fana ini.

Dering ponsel pintarku, menyadarkan lamunanku. Ah, sudah saatnya kusingkirkan benda ini, gumamku.

Tanpa ragu, kuambil bungkusan itu dan kupindahkan ke tempat di mana ia seharusnya berada. Ke tempat sampah.