Jadi seorang cewek itu gampang gampang susah. Jadi seorang cewek itu enak gak enak. Jadi seorang cewek itu… Gimana yaaaa. Susah untuk dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan, antara sesama cewek aja terkadang masih suka gak paham cewek maunya apa.

Kalo ngomongin soal jodoh, alias pendamping hidup. Cewek itu punya beberapa kriteria cowok yang akan dijadikan pasangan hidup, atau bisa disebut teman hidup, calon imam dari dirinya dan anak-anaknya. Asik.

Pastinya, seorang cewek mau laki-laki yang dewasa, yang bijak, bertanggung jawab, penuh kasih sayang, dan lain-lain yang baik baik. Itu pasti. Mutlak. Gak bisa diganggu gugat. Pokoknya mau yang kayak gitu.

Apalagi, kalo seorang cewek udah dibilang sama papa dan mama, ‘nak, kamu cari cowok yang begini ya, jangan begitu. Kalo cari suami yang bisa ini ya, jangan bisa itu’. Udah bisa dipastikan kita sebagai seorang cewek punya satu ‘kriteria’ atau ‘standar’ untuk memilih cowok.

Cewek itu bukan memilih sih, lebih tepatnya cowok yang memilih. cowok akan memilih cewek mana yang akan dijadikan pacar atau pasangan, kita sebagai cewek tinggal mau menerima cowok yang menyatakan perasaan aja. Memilih juga sih. Memilih untuk mau atau enggak. Hmmm plin plan ya. Maafkan!

Advertisement

Jadi, ya sebenarnya setiap orang pasti dihadapkan sama sebuah pilihan, entah pilihan mau makan apa, pilihan mau pergi kemana, pilihan mau beli apa, termasuk pilihan untuk mau menghabiskan sisa hidup sama siapa. Katanya sih, kata orang-orang. Semakin banyak pilihan itu akan semakin sulit, sedangkan jika kita hanya dihadapkan pada dua pilihan, itu akan semakin mudah, karena cuma ada dua hal yang dibandingkan.

Beda hal sama banyak pilihan, semakin banyak pilihan, semakin sulit karena banyak hal yang kita bandingkan. Khususnya untuk milih jodoh, semakin banyak kita membandingkan satu dengan yang lain, kita akan membandingkan segala kekurangan dan kelebihannya.

Makanya, kita sebagai cewek harus banget, wajib banget punya satu standar buat cowok yang akan hidup sama kita nantinya, standar ini dibutuhkan agar kita gak bingung saat dihadapkan sama banyak pilihan. Sebenernya terlalu jauh sih, karna sampai sekarang aja masih nunggu siapa yang akan datang. Hehe.

Intinya, cewek itu gak bisa gitu aja terima cowok yang ‘nembak’ atau ‘ngelamar’. Jangan takut lah ya sama mitos kalo nolak cowok itu bisa berakibat kita susah mendapatkan jodoh. Lah, jodoh kan Allah ya yang menentukan, bukan cinta ditolak lantas dukun bertindak.

Sebagai seorang cewek, yang kita lakukan bukan hanya menunggu seseorang datang dengan paket lengkap, dengan segala kesempurnaa. Misalkan dengan gantengnya, baiknya, perhatiannya, pinter ngajinya, bertanggung jawabnya. Hidup itu ga seindah ending film, sinetron, atau drama kak, hidup itu penuh realitas dan drama yang melebihi drama itu sendiri.

Tugas seorang cewek bukan buat nunggu jodoh atau bukan buat nunggu dijodohin sambil nonton gossip dan berita yang lagi heboh. Tapi jauh dari itu. Gapapa juga sih kalau mau nonton gossip, asalkan seorang cewek punya satu usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Disini, konteks tujuannya adalah mendapatkan pasangan yang sesuai dengan impian. Usaha itu adalah memantaskan diri.

Yap, memantaskan diri. Artinya, kita berusaha membuat diri kita pantas untuk bersanding dengan pangeran impian yang kita inginkan. Jangan berpikiran bahwa seorang cowok tidak menerima kamu apa adanya kalo kamu gak memantaskan diri. Tapi coba lihat, seorang cowok pasti punya standar untuk seorang yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya kelak.

Nah, di sini nih maksud gampang-gampang susah yang dibahas di awal. Kita, sebagai seorang cewek harus bisa memantaskan diri untuk dapat cowok yang sesuai dengan standar kita. Misalkan, kita mau cowok yang bisa sayang sama anak-anak. Ya kita juga harus bisa sayang sama anak-anak. Gak boleh geregetan saat ada anak kecil yang salah, tapi kita harus menasehati dengan bijak.

Kadang, kita gak bisa gitu aja terus-terusan ada di zona nyaman. Hidup ini keras yah. Cewek gak bisa jadi putri yang terus dimanja sama orangtua, atau akan dimanja sama suami nantinya. Cewek itu strong guys! Cewek itu kayak kue bolu, gak boleh terlalu lembek, gak boleh terlalu keras juga. Ada kodrat sebagai seorang cewek, ada emansipasi sebagai seorang cewek.

Mau gak mau, suka gak suka. Kita harus jadi cewek yang pas dan sesuai takaran. Kayak masakan aja sih, jangan asin, jangan hambar juga. Pas lah! Itu pasti gak uma sampai lidah, tapi juga sampai ke hati.

Memantaskan diri emang gak mudah, memantaskan diri sama aja kayak memperbaiki diri, dalam suatu proses memperbaiki diri pasti banyak cobaan yang datang. Ada aja badai yang menghadang. Kalo udah kayak gitu, solusinya cuma satu. Kita harus punya keyakinan hati sekuat-kuatnya. Kita harus punya hati kokoh anti badai. Kalo hati udah kuat, pastinya mau ada cobaan apapun, mau ada omongan apapun, pasti kita akan berpegang teguh pada prinsip untuk menjadi lebih baik.

Cobaan gak dateng sampai di situ, ketika kita merasa diri kita sudah lebih baik dari sebelumnya, kita merasa sudah memantaskan diri pada taraf 90%. Kita pasti akan lebih menantikan cowok yang akan datang untuk kita. Lebih ngebet untuk disegerakan.

Namanya hidup, terkadang ekspektasi gak sesuai sama realita. Kita udah nunggu tapi tak kunjung tiba. Atau, ada yang tiba, tapi menurut kita biasa aja, gak sesuai sama impian. Itu mungkin, itu wajar, itu bisa aja terjadi. Sama kayak kita mau pergi untuk acara penting, pengennya naik taksi, eh tapi adanya angkot. Lagi-lagi kita dihadapkan sama pilihan, mau yang mana. Mau yang sama keinginan awal tapi harus rela nunggu lebih lama, atau ‘yaudahlah yang penting ada’

Tapi, buat apa kita milih ‘yaudahlah yang penting ada’ kalo selama ini kita udah berusaha untuk memantaskan diri, yang namanya usaha itu gak akan pernah mengkhianati hasil kok. Kita udah berusaha, kita cukup berusaha ekstra untuk menunggu lagi. Terkadang yang dibutuhkan dalam suatu usaha cuma satu, yaitu waktu.

Cukup bilang sama ‘hati’, sabar ya sabar, kebahagiaan gak akan salah menempatkan dirinya. Kalo seseorang pantas untuk dapat apa yang udah diperjuangkan, pasti akan didapatkan. Ketika sudah memutuskan untuk memantaskan diri untuk lelaki yang sudah diimpikan, jangan pernah untuk mengalihkan ke realitas yang levelnya ada dibawah mimpi. Pilihanmu untuk memantaskan diri udah tepat. Karena pilihan gak pernah salah, yang salah hanya keyakinan hatimu yang bisa goyah hanya karena kamu kurang sabar menunggu.

Jadi, dalam proses untuk memantaskan diri ini pasti banyak hal yang harus dilalui, banyak hal yang harus jadi pengorbanan, ketika semua hal itu telah dilakukan teruslah menunggu sampai saat itu tiba, saat pangeran yang diimpikan datang. Kalau bicara soal lelah, itu pasti. Tapi kalau bicara menurunkan standar, itu jangan.

Tetaplah berusaha untuk memantaskan diri, kalau jodoh gak akan kemana kok. Pasti dipertemukan, suatu saat nanti.