Sore itu di kampus, aku melihat sorot matamu yang lembut dengan senyum manis nan dewasa. Kita saling berkenalan sejak awal menginjakan kaki di dunia perkuliahan, kita mulai bersama dalam tempaan sistem perkoncoan ala mahasiswa. Merasa sama-sama bingung di tanah rantau membuat kita saling bahu-membahu dalam menyudahi hari-hari yang jauh berbeda dari sekedar masa putih abu-abu.

Kita belajar mandiri

Hari yang telah berlalu nyatanya membawa cerita baru. Mulai dari kelas perkuliahan sampai organisasi wadah beasiswa, kita tak sengaja bertemu kembali. Menyenangkan, lagi-lagi kita berjumpa. Celoteh-celoteh kecil hingga gelak tawa antara kita saling bersua menggemakan rasa persahabatan. Akhirnya kita berbaur, memulai berjuang bersama dalam meraih toga nantinya.

Langkah kaki kita kian kompak. Kala kita ditempa menjadi mahasiswi yang berpikiran visioner, meski cabang kita berbeda tetapi itu tak menjadi masalah. Bukankah perbedaan dalam akur adalah indah? Kita berbagi cerita dan pengalaman. Obrolan kita tak terhindarkan dari kopi-kopi manis yang menghangatkan perdebatan dua anak mahasiswi yang mencari kebenaran.

Penikmat kopi adalah penikmat kehidupan, bukan?

Advertisement

Dari airmata, tawa, keisengan, kegagalan, keberhasilan dengan teriakan dan lompat-lompat meriah telah kita lewati 3 tahun adanya. Namun, arus hidup perkuliahan yang kian deras ini membawa kita pada jarak yang kian harus semakin terpisah. Kita terbenam dalam lika-liku yang semakin menantang. Seiring waktu, kita mulai berselisih jalan. Bahkan ku ingat hari itu, saat kita bersitegang dengan nada tinggi, mungkin kita belumlah dewasa???

Hingga saling menjauh adalah pilihan singkat yang kita putuskan. Kadang kau berusaha perbaiki segalanya, tapi rupanya rasa egois telah menutup hatiku. Aku hanya memalingkan muka.

Hingga semua kian larut dalam luka yang saling menyayat, menggerogoti dan membuat perih. Rasanya Hening. Suatu saat, memori usang terbuka. Secarik foto yang terselip dalam buku itu jatuh tepat di kakiku. Ku tengok, itu adalah sebuah memori yang amat dalam, kala dua manusia yang tertawa lepas, saat kita masih tersenyum bersama dengan rangkulan penuh hangat, itulah kita.

Ku ingat saat kau sakit, bagaimana aku mengkhuatirkanmu dan saat ku lapar, kau tak sungkan berbagi sekedar roti dengan senyum penuh canda

Ayooo jangan takut gendut, jangan sok-sok diet deehhh, makan udaahhh hahaha (senyummu penuh tawa)

Aku sadar, aku masih terlalu kanak-kanak. Persahabatan yang harusnya mengantarkan kita menjadi kupu-kupu indah justru kini menjadi bunga yang kian layu. Maka apa arti setiap kerja keras kita bersama, setiap tawa yang ada? Setiap memori klasik yang tertuang dengan manis. Kenapa aku berlalu dan lupa persahabatan 3 tahun lamanya???

MAAF (airmataku menetes)

Kedewasaan ini mengetuk pintu hati kecil yang kini terisak malu. Aku putuskan esok mencarimu untuk berbincang seperti masa lalu itu. Tiba saat kita tak sengaja bertemu di persimpangan jalan, ntah ada canggung yang membuatku terpaku bisu.

Menatap matamu hanya menyembunyikan kata maaf dalam hatiku. Lidah ini bagai kelu. Namun, sesaat aku mencoba menyapamu, kau menatap tajam dengan rasa kesal yang mungkin terpendam sekian lama, kau berucap

Kamu kemana saja? Kenapa kau diam selama ini? Kalau aku punya salah, kita bicarakan baik-baik, bukan dengan diam. Aku sakit bukan karena diammu, tapi aku sakit karena aku berpikir sudah menyakiti sahabatku begitu dalam sehingga kau pergi dalam diam.

Airmata ini menetes, aku mendekapmu penuh kerinduan. Maaf, maafkan kedewasaan diri yang masih datang dan pergi begitu saja, maaf diri ini tak bagai besi panas yang mudah ditempa. Kerinduan 2 pertalian sahabat pun tumpah ruah dalam kehampaan yang kian mencair.

Akhirnya maaf saling terucap, kita belajar kembali pada arus persahabatan yang lama terbenam. Senyum kita saling bertautan, walau memang terasa ada yang berbeda. Ini mungkin berbicara proses pemulihan.

Saat melihatmu tak sengaja terlelap di depan laptop ketika kita mengerjakan tugas bersama, ada rasa sedih yang tertuang dalam palung hati. Wajahmu yang lelah begitu terlukiskan, namun malam tadi kau masih mau mendengar curhatanku semalam suntuk.

Mulai dari hal hebat sampai hal-hal konyol yang menjadi candaan saat senggang waktu memberi nafas.

Terimakasih sahabat, kau banyak memberi aku pelajaran, kita tumbuh dewasa. Hingga perjalanan ini mengantarkan kita menuju kehidupan dengan level yang lebih tinggi di masa depan.

Persahabatan ini nyatanya telah mendewasakan aku yang lemah