Hidup itu pilihan dan aku lebih memilih melepaskan cinta yang ku anggap selamanya, meninggalkan ketidakpastian, merelakan kau bahagia bersamanya meski sebelumnya kau meyakinkanku bahwa aku adalah rumahmu. Aku sadar bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena memang itulah hukum alam yang tidak dapat di tolak. Tapi bukan perpisahan seperti ini yang aku inginkan, perpisahan yang sangat membuatku sesak sampai nafas terasa hanya sampai dipangkal tengorokanku.

Hatiku lebur berantakan bagai debu sampai tidak bisa ku satukan lagi seperti semula, lisanku terbatah sudah untuk selalu menyampaikan rasa sakit dan lelahku ini, batinku terkoyak, jiwaku terseok-seok sambil merangkak hanya untuk dapat berdiri kembali dengan kakiku sendiri tanpamu. Tidak sedikit sahabat yang memberi nasehat hanya untuk memberiku oksigen untuk bernafas "ikhlaskan, insya Allah kalo kamu ikhlas Allah akan memberikanmu jalan keluar yang tak terduga, Allah akan membukakan mata dan hatinya bahwa pengorbanan dan cintamu padanya tulus tanpa pamrih, atau malah Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik". “Tapi bagaimana caranya untuk ikhlas? Aku tidak punya banyak pengalaman tentang itu. Tolong ajarkan aku sahabatku.”

“Ketahuilah sahabatku, ada saatnya aku merasa sangat tidak berdaya. Maaf bukan bermaksud untuk mengeluh.” Aku banyak belajar dari kisah pahitku ini, bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasilnya. Jangan putus arang, hidupku harus tetap berlanjut dengan atau tanpa kau. “Yakin saja, sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi hak kita, Allah tidak akan biarkannya menjadi milik orang lain."