Tentulah setiap orang itu menginginkan mendapatkan kekasih yang rupawan. Seorang pria pastilah berharap pasangannya itu adalah wanita yang cantik. Begitupun seorang wanita, tentu ia mengharapkan pria yang ganteng untuk menjadi kekasihnya. Tiada yang salah dengan itu, kecantikan dan kegantengan adalah bagian dari keindahan yang telah diciptakan Allah Tuhan kita di dunia ini. Setiap orang tentu menyukai keindahan itu, begitupun diriku.

Kecantikan dan kegantengan bisa menjadi pemicu cinta untuk tumbuh di hati. Ibarat pepatah kata yang mengatakan bahwa cinta itu dari mata turun ke hati. Memang, sih. Karena yang pertama aku lihat adalah sosok fisikmu. Aku belum bisa menilai bagaimana sifat dan pribadimu seketika dalam sekejap mata. Baru setelah beberapa lama aku bersamamu, aku bisa menilai itu semua. Itu pun tak semuanya bisa aku tahu.

Tentu banyak sifat dan pribadi yang tersembunyi dengan rapi di balik tubuh yang kau miliki itu.

Selanjutnya, hingga tatkala aku mengungkapkan perasaanku padamu. Kau pun pernah bertanya padaku dengan agak ragu. Mungkin itu adalah pertanyaan yang begitu ingin kau katakan dan mengganggu pikiranmu.

“Mengapa engkau mau menyayangiku diriku ini yang tak rupawan seperti yang lain?”

Advertisement

Tentu aku bingung harus menjelaskan seperti apa. Aku takut nantinya justru kau anggap sebuah rayuan atau gombalan semata demi membahagiakanmu. Aku takutkan itu. Rasanya memang pertanyaan itu begitu mendalam untuk dijawab. Tetapi harus bagaimana lagi? Cintaku padamu sudah terasa di hati. Serta aku tahu itu memang tak sekedar karena kerupawanan paras wajahmu.

Perlu engkau tahu, aku bisa bertahan menyayangimu karena sifat-sifat kepribadian yang kau miliki itu. Begitu nyaman dan membuatku bahagia. Mungkin itulah yang membuat cinta ini bisa tumbuh dan bertahan.

Memang awalnya dari mata, namun perlu engkau tahu bahwa cinta itu tumbuh di hati. Bukan tumbuh di mata. Jika aku hanya merasa bahagia dengan kerupawanan dirimu, tentu itu hanya sekedar nafsu untuk menikmati keindahan. Karena tentu aku lebih bahagia dengan semua sifat baikmu. Cinta itu di hati, maka pelayanan untuk hatikulah yang membuatku tak bosan menyayangimu.

Tak sekedar di mata, jika hanya di mata tentu aku akan selalu berharap kau tampil serupawan mungkin. Aku tahu, tubuh wajah dan kulitmu itu suatu saat pasti akan berkeriput. Jadi, buat apa aku terlalu mengutamakan keelokan parasmu?

Aku harap engkau tak ragu dengan apa yang kau miliki. Keindahan dan nilai seseorang tak sekedar dari paras kecantikan dan kegantengannya. Tak hanya yang cantik dan yang ganteng yang membuat orang lain begitu tertarik. Sebaliknya, ketertarikan hati yang disebabkan karena kecantikan dan kegantengan biasanya hanya bertahan sebentar saja. Mungkin jika sudah tak cantik dan tak ganteng lagi, ketertarikan itu akan memudar begitu saja.

Maka jika aku tertarik karena keanggunan sifat, kepribadian dan agamamu, apakah itu suatu yang salah? Bukankah itu yang nantinya bisa kekal dan tak akan luntur sampai kapanpun jika selalu dijaga? Mungkin dengan itu, justru aku bisa menyayangimu selamanya.

Bila jodoh yang indah itu hanya karena kecantikan fisik, maka tentu tak adil rasanya bagi orang yang tak dilahirkan dengan keindahan fisiknya. Maka dari itu, aku merasa bahwa tak peduli seberapa rupawan seseorang. Sebenarnya besarnya cinta yang tercipta itu, tergantung dari ketulusan hati seseorang. Indahnya cinta itu tergantung dari seberapa aku mensyukuri hadirmu buat diriku.

Menurutku, bahagianya cinta itu tak sekedar berorientasi pada kecantikan fisik, namun lebih bisa terasa saat dari kita mencoba saling membahagiakan dengan kebaikan hati yang senantiasa kita berikan pada pasangan.

Lihatlah mereka yang bahagia! Mereka bahagia karena baiknya sifat pasangan yang mereka miliki. Tak peduli seberapa cantik atau ganteng pasangannya. Mereka bisa saling melengkapi dengan berbagai kekurangan. Serta lihatlah mereka yang terlihat tak bahagia. Mereka adalah pasangan yang selalu menuntut kesempurnaan pasangan yang mereka miliki. Maka, tak apa bagiku jika kau tak serupawan yang lain.

Sifat dan kepribadianmu yang baiklah, yang tentu paling bisa membuatku bahagia. Hatiku yang selalu mengharapkan kasih sayangmu, bukan mataku yang selalu berharap parasmu yang elok rupawan.

Kini aku telah memilihmu. Biarlah orang berkata apa tentang dirimu. Aku tak begitu pedulikan itu. Aku sudah terlanjur menyayangimu karena memang dirimulah pilihan hatiku. Seperti apapun dirimu, sejatinya engkaulah yang telah aku pilih. Maka, tentu aku telah meyakini bahwa kita bisa bahagia jika bersama. Maka, bahagiakanlah aku. Bahagiakan aku dengan sifat dan kepribadianmu yang baik, yang selalu bersedia menyayangiku.

Bawalah aku dalam kebahagiaan. Jadikan aku orang yang bisa merasa paling bahagia karena Allah telah menjadikanmu jodohku.