Rasa kehilangan pasti terasa saat orang yang hampir setiap hari memberi perhatian, tiba-tiba tak terlihat lagi. Tanpa sebab dan tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba dia menghilang. Padahal kita sudah merasa begitu dekat dengannya. Bahkan benih-benih harapan untuk bersanding dengannya sedang tumbuh-tumbuhnya. Itulah yang kurasakan padamu. Tetapi kenapa kamu menghilang begitu saja? Tanpa kutahu sebabnya, tanpa kutahu alasannya.

Kadang aku berfikir, apakah salahku hingga kamu pergi begitu saja? Apakah aku berbuat suatu hal yang sangat menyakiti hatimu, hingga kamu hilang karena terluka? Atau engkau telah mengetahui betapa banyaknya sifat burukku, hingga akhirnya kamu menjauhiku? Ataukah kamu telah menyadari bahwa diriku tak pantas denganmu? Entahlah! Semakin aku bertanya pada diriku sendiri, semakin aku tak temukan jawabannya. Semua itu karena kamu menghilang begitu saja.

Sedih rasanya diriku. Perlu kamu tahu bahwa kehilangan dirimu berarti tak akan ada lagi yang sepertimu. Karena Tuhan hanya menciptakan kamu hanya satu saja di dunia ini. Walau ada yang lebih baik atau yang lebih perhatian darimu. Atau adakah orang yang sifat dan tingkah lakunya seperti kamu padaku? Tetapi tentu saja itu bukanlah dirimu. Itu adalah orang lain, bukanlah dirimu yang kukenal.

Walau ada orang yang sering berusaha membuatku tersenyum, tetapi itu bukanlah kamu. Walau ada yang senantiasa perhatian, itu pun bukan dirimu. Aku rindukan itu. Masa-masa di mana kita begitu dekat, hingga kadang aku pun jadi berfikir buruk tentangmu. Kamu hanya bermain-main saja dengan hatiku. Datang dan pergi begitu saja. Namun aku pun membuang fikiran itu.

Aku masih berfikir kamu adalah orang baik. Pasti ada alasan lain kenapa menjauh dariku. Tetapi entahlah itu. Aku tak tahu. Apa kamu ingin membatasi harapan buatku? Mungkinkah kamu berharap tak ingin menyakiti hatiku dengan menghilang? Namun sesungguhnya, dengan itu kamu justru benar-benar membuatku sakit hati. Bahkan membuatku kecewa.

Advertisement

Sekarang ingin menyapamu, rasanya sungkan sekali. Selama ini sudah berapa kali kita bertemu namun kamu selalu berpaling muka. Aku mencoba menelfon, tapi tak pernah sekalipun kamu mengangkatnya. SMSku entah sudah berapa kali menanyakan kabarmu. Namun kamu tak pernah meresponnya. Sejak itu, aku sudah merasa kamu jauhi. Mungkin juga telah menjadi sosok yang kamu benci.

Hatiku pedih sekali. Aku merasakan sakit hati yang tak tahu bagaimana cara mengobatinya. Aku hanya sering berfikir, “Apakah salahku?”. Ingin sekali aku menanyakan itu padamu. Tetapi kapan? Kamu sudah telanjur menjauhiku. Terkadang aku pun ingin membencimu. Pesanku untukmu,

"Janganlah engkau berusaha membuat seseorang jatuh cinta. Jika engkau tak mau bersamanya saat dia telah jatuh cinta padamu."

Akhirnya aku pun tersadar. Aku tak boleh terlarut dalam kesedihan karenamu. Aku masih punya masa depan yang panjang. Aku hanya berharap, jika kamu pergi karena kesalahan yang kuperbuat, semoga kamu berkenan memaafkannya. Jika kamu pergi karena menyerah bersamaku, perlu engkau tahu kalau dulu aku juga mengharapkan itu.

Kini aku mulai menata lembar baru hidupku. Masa lalu memanglah sebuah pelajaran. Engkau adalah pelajaran berharga di hidupku. Saat ini pun, aku masih berharap kamu menerangkan padaku tentang apa yang terjadi padamu. Namun aku pun minta maaf jika saat engkau datang nanti. Mungkin aku juga telah bersanding dengan orang lain, walau saat ini aku masih sendiri.