Tak semua gedung di Ibukota gedung baru. Tentunya masih ada gedung-gedung lama nan bersejarah di Jakarta yang kerap kali menjadi perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Utamanya, kawasan Kota Tua yang memiliki beberapa museum sejarah. Sebut saja salah satunya Museum Fatahillah, gedungnya memang indah dan kokoh. Namun ternyata menyimpan banyak kisah mistis yang akan membuat bulu kudukmu seketika berdiri. Berikut ulasan Hipwee Travel mengenai museum yang berdiri di Jakarta Barat ini.

Museum Fatahillah punya sisi mistis yang melegenda. Karena pernah digunakan sebagai tempat pembantaian, sesekali di kawasan ini juga masih terdengar suara tangisan

ini alun-alun museum Fatahillah via dapurkata.blogspot.com

Di museum yang juga dikenal sebagai museum Sejarah Jakarta ini pernah ada suatu kisah kelam. Yakni, pembantaian sadis yang juga pembunuhan keji oleh rezim Belanda terhadap warga keturunan Tiongkok. Sekitar tahun 1740 silam, dikisahkan tepat di alun-alun depan museum telah terjadi pembantaian sekitar 500 orang China. Mungkin karena hal itulah, hingga kini sesekali masih terdengar suara-suara teriakan histeris hingga tangisan yang terdengar sangat ramai, tepat di tempat pembantaian. Kadang, bahkan ada juga penampakan sosok tanpa kepala. Apa kamu sanggup membayangkannya?

Sama mengerikan dengan suara tangisan, di area penjara bawah tanah bahkan seringkali ada bau anyir dan amis darah

ini nih penjara bawah tanah museum Fatahillah via guratankaki.files.wordpress.com

Inilah kisah mistis paling melegenda di museum Fatahillah, kisah yang bersumber dari area penjara bawah tanah. Ruang penjara ini sudah berdiri sejak 300 tahun silam. Dulunya, digunakan sebagai tempat penampungan para tahanan, penjahat dan tokoh-tokoh masyarakat yang memberontak terhadap pemerintahan Belanda. Di sinilah aksi kejam paling banyak terjadi. Para tahanan di masukkan ke sana hingga sesak sebanyak 500 orang, dibiarkan kelaparan, membusuk mati sampai disiksa dengan sadis.

Advertisement

Kisah kelam itulah yang kemudian dipercaya menjadikan areal penjara ini kental dengan nuansa mistis. Mulai dari suara-suara aneh, bau anyir dan amis darah, hingga penampakan sosok bayangan hitam acapkali terlihat. Selain itu serimg tampak penampakan tiga hantu berwujud anak kecil yang sudah tidak karuan, juga pria dan wanita yang mengenakan busana khas Belanda dengan bentuk yang sudah hancur sering terlihat di kawasan ini.

Museum Fatahillah juga difungsikan sebagai tempat eksekusi. Lonceng kematian yang dulu begitu berperan dalam penentuan waktu kematian, kini masih sering berbunyi sendiri saat malam

ini pelaksanaan hukuman gantung kala itu via terseram.com

Selain dijadikan sebagai gedung pemerintahan di era Belanda, museum Fatahillah juga dijadikan sebagai tempat eksekusi. Dalam kisah sejarahnya, seorang tahanan yang akan dieksekusi akan diberi tanda dari orang-orang di sekitar museum melalui sebuah lonceng yang dikenal dengan nama lonceng kematian. Satu kali berbunyi, berarti tahanan mulai digiring ke ruang pengadilan, kedua berarti tahanan sudah berada di atas podium pengadilan. Sedangkan bunyi lonceng ketiga menjadi tanda bahwa tahanan akan segera dieksekusi dan disaksikan oleh pejabat dan hakim pengadilan. Di saat-saat tertentu, lonceng yang dulu memang selalu dibunyikan saat malam hari, masih sesekali berbunyi sendiri. Bahkan, bunyinya hingga tiga kali. Yang begini masa nggak ngeri?

Asal kamu tahu, pejuang bangsa Indonesia seperti Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien ternyata pernah ditahan di penjara ini. Pada tahun 2010 lalu juga telah ditemukan sebuah ruang rahasia

inilah ruangan bermural yang baru ditemukan itu via indocropcircles.files.wordpress.com

Dulu, zaman pemerintahan Hindia Belanda, para tahanan yang telah dinyatakan bersalah akan dihukum gantung di depan gedung ini. Pada tahun 1740, ribuan orang Tionghoa diikat, duduk bersimpuh di depan balai kota, kemudian dari jendela balai kota, Gubernur memberi kode untuk melakukan eksekusi kepada mereka. Museum ini juga sebagai saksi bisu dari penderitaan tawanan di penjara bawah tanahnya. Ketika air laut pasang, penjara akan terisi air laut, merendam tubuh para tawanan dan membuat kondisi tawanan sungguh menyedihkan. Siapa sangka kalau Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien juga pernah ditahan di sini.

Di sebuah ruangan yang berada di sebelah ruang pertunjukan telah ditemukan ruangan rahasia sejak 2010 lalu. Pada dinding kamar yang luasnya sekitar 200 meter persegi, terdapat mural yang sangat eksotis dan baru tampak setengah jadi. Mural itu menggambarkan Batavia era 1880-1920. Menurut brosur yang mereka bagikan kepada para pengunjung, mural itu dibuat oleh pelukis Harijadi Sumodidjojo dan S. Sudjojono tahun 1974 atas perintah Ali Sadikin (gubernur Jakarta pada masa itu). Kamar ini secara tak sengaja ditemukan oleh orang-orang Indonesia yang tergabung dalam komunitas pecinta sejarah. Semacam harta karun gitu ya jadinya…

Pada akhir 2014 lalu, Museum Fatahillah ini sempat direnovasi. Walau mungkin jadi lebih indah, tapi ternyata juga tak menghilangkan terjadinya penampakan arwah

saat siang museum ini nampak baik-baik saja via cnnindonesia.com

Dilansir dari CNN Indonesia, Budi, salah seorang petugas keamanan Museum Fatahillah mengatakan, selama bekerja sebagai petugas keamanan di sini, dia sudah seringkali melihat beragam penampakan. Yang paling sering ialah sosok noni Belanda serta suara-suara asing di malam hari.

“Saya sudah biasa, mungkin hantunya juga sudah biasa lihat saya,” selorohnya.

Setelah renovasi besar-besaran itu selesai pada Januari 2015 lalu, seluruh struktur bangunan museum, mulai bagian depan hingga bawah tanah sudah diremajakan kembali. Ya, semoga para “penghuni” di sini makin betah dan nggak pernah mengganggu pengunjung lagi. Kesurupan yang pernah terjadi sesekali  juga bisa ikut terhenti.

Parahnya, aura mistis museum ini ternyata kerap dimanfaatkan pengunjung yang ingin mencari peruntungan bersifat ghaib. Ada beberapa orang yang datang untuk mencari nomor judi togel. Mereka datang bersama orang pintar, dan entah bagaimana ceritanya, mereka mendapat batu phyrus di ruang penjara bawah tanah. Ahh apapun itu, kamu ati-ati kalau kesini. Jangan sampai pikiranmu kosong, apalagi sampai berkata kotor. Kata penjaganya sih, pengunjung wanita yang paling banyak mengalami peristiwa kerasukan. Ati-ati ya…