Featured Image
Sembilan tahun menjadi sebuah angka yang menjadi tolok ukur Aku mengenalnya. Menjadi saksi bisu bahwa selama waktu itu Aku hanya mencintainya dalam diam. Sejak pertemuan pertama Kami, Aku sudah jatuh cinta padanya. Di hari pertama kelas sepuluh dimulai dimana Wildan menjadi teman kelasku. Pikiran remajaku mengatakan untuk bersikap baik dan berprestasi. Aku pikir itu akan menjadi daya tarikku agar Wildan menyadari keberadaanku.  Memang sedikit berhasil. Wildan mulai mengajakku bicara.  "Nay, boleh pinjam buku catatan kimia?" tanya Wildan saat kelas bubar. Percakapan pertama Kami setelah kelas berjalan satu minggu.  Setelah pinjam buku, Kami memang sering terlibat dalam percakapan. Entah hanya ngobrol biasa atau saling mengejek. Aku pikir Dia nyaman berteman denganku, dan itu menjadi awal yang bagus. Sayangnya Aku lupa, Dia hanya nyaman berteman.  Yang ku dengar, Dia berpacaran dengan salah satu teman semasa SMP. Hari dimana berita itu ku tahu menjadi hari pertama Aku menunggu. Aku kembali pada fase saat Aku menunggu Wildan menyadari keberadaanku.  **** Metta sering mengejekku saat lagi dan lagi Aku memutar lagu 'Ku tunggu Kau putus' dan menyanyikan bait di bagian reff. Bahkan tanpa kusadari setiap kali Aku mengucap bait 'Bila masih bersama, Ku tunggu Kau putus' Aku menatap Wildan dari dikejauhan.  "Kenapa milih menunggu, Nay? Tikung aja." seru Metta dengan cengiran khasnya.  Aku menoleh dan mendengus. Kalimat ini sudah sering Metta sarankan. Tepatnya sejak Aku curhat padanya satu tahun lalu. "Gue masih kuat nunggu momen yang pas untuk kembali berjuang." Metta hanya mencibir kalimatku.  Saat itu sudah satu tahun Aku mencintai Wildan dalam Diam. Sayangnya, Kami tidak satu kelas. Dia memilih  Bahasa sebagai jurusanya. Sementara Aku terlalu mencintai molekul dalam kimia, meski rasa cintaku untuk Wildan lebih besar.  "Naya."  Aku menghentikan langkah saat mendengar suara yang sangat familiar menyerukan namaku. Berbalik dengan cepat Aku menemukan Wildan sedang mengejarku di antara kerumunan siswa yang ada di sepanjang koridor. Aku menertawakan kata 'mengejar' dalan arti yang sebenarnya.  "Nay, boleh minta tolong?" tanya Wildan saat sampai di depanku.  "Minta tolong untuk?" "Bantu bikin visi dan misi. Gue mau ikut daftar kandidat ketua osis." cengiran khas milik Wildan mengakhiri kalimatnya. "Lo waktu kelas sepuluh sudah pernah ikut jadi wakil ketua osis, jadi harus bantu gue, oke!" Dan dimulai dari 'bantuan' yang diminta Wildan, kedekatan Kami lebih menjadi lahan harapanku tumbuh subur.  **** "Nay, bagusan yang mana?" tanya Wildan usai rapat osis. Aku menjadi Bendahara I dan Wildan menjadi Ketua osis yang terpilih.  Aku mengamati gambar sepasang jam tangan yang di ulurkan Wildan. Mengamatinya sejenak. "Yang warna hitam bagus." komentarku.  Wildan mengerutkan dahinya. "Tapi Lisa feminim banget. Dia nggak suka warna hitam." ucapan Wildan menjadi hantaman keras untukku.  Aku melupakan fakta bahwa Dia memiliki seorang kekasih yang cantik dan juga pintar. Kedekatan Kami selama pencalonan sampai detik ini murni hanya profesionalitas sebagai sama-sama anggota osis, tidak lebih.  Metta menepuk pelan bahuku saat Aku selesai menceritakan kejadian jam tangan yang menyadarkanku. "Gue pikir lo sudah nggak ada rasa sama Wildan, Nay." Metta masih menepuk-nepuk pelan bahu belakangku. "Karna lo terlihat tenang seperti biasa. Gue nggak bakal bisa bersikap sesantai itu kalau jadi lo." Dihari-hari selanjutnya Aku masih menunggu kabar putus Wildan dan Lisa. Meski Aku tidak tahu seperti apa wujud Lisa. Yang Aku tahu, Lisa adalah cewek cantik dan juga pintar. Jangan lupakan kata sangat feminim yang dikatakan Wildan.  Feminim, Aku pikir saat itu Aku tahu kalau Wildan menyukai perempuan feminim. Sementara Aku sedikit tomboy karna lebih menyukai warna monokrom. Memiliki banyak sepupu laki-laki dan bertingkah seperti para sepupuku menjadi nilai plus akan sisi tomboy ku.  **** Tahun terakhirku di SMA, Aku mendengar kabar kalau Wildan putus dengan Lisa. Metta semakin antusias menyuruhku untuk berusaha mengirim kode untuk Wildan.  "Kalau perlu lo langsung tembak aja si Wildan, Nay." serunya heboh. Aku buru-buru membekap mulutnya. Kantin siang ini sangat ramai. Aku tidak mau ucapan Metta bisa terdengar orang lain.  Berita ini sangat membahagiakan untukku. Katakanlah Aku jahat karna bahagia di atas penderitaan orang. Tapi berita ini adalah hal yang ku tunggu sejak tiga tahun lalu.  Sayangnya, takdir berkata lain. Sampai pada hari kelulusan, Aku tak ada waktu untuk mendekati Wildan.  Kesibukan mempersiapkan ujian nasional dan padatnya jadwal les di tempat bimbel tak bisa ku abaikan. Aku tau ini kesempatan bagus untuk menarik perhatian Wildan. Tapi rasanya Aku merasa salah saat melakukanya. Jadi, alih-alih mendekati Wildan. Aku memilih untuk fokus pada study-ku.  **** Tiga tahun berlalu, komunikasi Kami membaik. Meski terpaut jarak karna berbeda kampus, Kami sangat dekat untuk ukuran sebagai teman. Wildan sering curhat padaku tentang keseharianya. Ia juga tak sungkan meminta bantuanku untuk mengoreksi tugas kuliahnya sebelum di kumpulkan pada dosenya.  Bahagia adalah hal yang kurasakan saat merasa Wildan mulai perhatian padaku. Ia sesekali mengunjungiku di kampus. Ia bahkan sering mengingatkanku untuk makan dan menjaga kesehatan. Awalnya Aku merasa hal yang selama ini ku tunggu kian dekat. Mungkin saja Wildan sedang PDKT padaku. "Selamat ya Nay. Akhirnya yang berabad-abad di tunggu sudah dekat." goda Metta di sambungan telpon. Aku hanya terkekeh mendengarnya.  Penantian panjang ini akan berakhir bahagia. Godanya lagi di salah satu pesan saat Aku mengatakan akan bertemu Wildan usai kelas. Iya, hari ini Wildan kembali mengunjungiku. Ia mengatakan ada hal yang mau di ceritain. Metta berkata mungkin saja Wildan mau menembaku.  "Hai, Wil. Sori lama." sapaku. Wildan tersenyum memaklumi.  "Gue suka sama Irene." ucap Wildan setelah Kami terdiam cukup lama. Aku menghentikan kunyahan buah. Menatap wajah Wildan yang berseri-seri.  "Sori gue lupa cerita soal Irene. Dia satu angkatan sama gue. Kita beda jurusan." balas Wildan saat melihat wajah piasku.  Kemudian Wildan menceritakan betapa cantik dan baiknya Irene. Kelebihannya yang membuat Wildan tertarik dan segala hal hebat lainya. Aku sesekali tersenyum untuk menanggapi cerita Wildan. Tak lagi paham apa yang dikatakan. Rasanya seluruh inderaku mati rasa.  Metta mengomel panjang saat Aku lagi-lagi menumpahkan sesak yang menggembung di benakku. "Menurut gue, ini cukup Nay."  Aku masih terdiam mendengar saran Metta. "Oke, lo udah suka sama Wildan dari lama. Bahkan gue jadi saksi gimana usaha lo selama ini, tapi kalau lo kesakitan sendirian lebih baik lo lupain Wildan." "Tapi gue udah lama menunggu Wildan, Ta." "Menunggu itu sebuah judi, Nay. Lo nggak bisa jadikan waktu yang lo gunain untuk tolok ukur kalau lo harus menang. Sama dengan lo nggak boleh protes ketika kalah dalam judi padahal lo udah lama main dan ngabisin duit." Metta benar.  Meski berat, Aku mendengarkan saran Metta. Tidak selamanya hal yang ditunggu selalu didapat. Aku melupakan bahwa mungkin saja Aku salah menantikan takdir Tuhan akan kisah percintaanku.  Di tahun kesembilan, tidak lain adalah saat ini. Dalam hati kecilku, Aku masih setia menunggunya. Wildan masih sebaik itu. Meski mulai jarang mengunjungiku, Dia begitu perhatian kepadaku. Seakan Aku ini adalah seseorang yang amat special untuknya.  Ah, rasanya Aku kelelahan menunggunya. Sampai Aku melupakan untuk memikirkan jalan cintaku di masa depan. Aku terkadang memikirkan kalau saja menunggu Wildan menjadi bentuk usahaku, dan Aku tak luoa untuk berdo'a. Mungkin saja di kemudian hari Tuhan mau berbaik hati padaku untuk menjodohkan Kami.  Tapi Aku merasa, penantian ini menjadi hambar. Menunggunya menjadi tak semenarik bagaimana Aku menunggu Wildan dulu. Sepertinya Aku mulai kelelahan menunggu Wildan menyadari perasaanku.  **** via https://www.pexels.com
by Novi Nur Latifah

[CERPEN] Penantianku Menjadi Hambar

Jika kamu berpikir menunggu itu perlu, maka lakukanlah. Tapi kamu harus tahu kapan kamu harus berhenti berharap.