Kenikmatan Jadi Seorang Tante Baru, yang Bikin Yakin Nggak Mau Nikah Buru-buru

Nggak mau nikah buru-buru

Bertahun-tahun lalu, kalau ditanya soal anak kecil, saya mungkin jadi orang pertama yang bergidik. Ya soalnya udah kebayang aja kalau anak kecil itu pasti nakal, nggak bisa diatur, dan menyebalkan. Lagian, siapa coba yang nggak sebal sama makhluk yang selalu pakai tangisan sebagai senjata saat pintanya tak dikabulkan? Hhh…

Eh, tiga tahun lalu rasa sebal saya diejek Tuhan

Advertisement

Iya, rumah kedatangan satu anggota baru bertitel “ponakan”! Sempat heran juga sih, soalnya kedua kakak saya merupakan pejuang LDM, tapi kok bisa ya cepet banget dititipi makhluk kecil ini?

Nah kalau cerita jadi orangtua baru mungin udah biasa ya? Kini saatnya kamu tenggelam dalam nikmatnya cerita jadi tante newbie. Drama-drama “mengasuh” manusia baru dari umur beberapa hari sampai sekarang anaknya udah bisa lari, khatam sudah saya alami. Guys, ternyata capek juga meski nggak 24/7 momong dia -_-

Kenikmatan pertama yang pertama adalah belajar nyebokin. Luar biasa kan?

Nggak mungkin dong pas ponakan lagi pupu atau pipi (ini sebutan yang biasa kami pakai untuk menyebut BAB dan BAK) saya pura-pura nggak tahu? Nah dari umurnya 2 bulan, saya “diam-diam” belajar. Ya gimana ganti popok, bersihin, gantiin, sampai lap-lap sampai bersih. Sampai akhirnya terkait urusan pupu dan pipi ini dengan bangga, saya-udah-bisa-handle!

Advertisement

Dari sini saya belajar, bahwa punya bayi nggak sekadar punya makhluk lucu, ginuk-ginuk dan objek untuk diunggah di media sosial. Tapi juga soal bagaimana bertanggungjawab serta memastikan kebutuhannya tersedia. Apalagi harga kebutuhan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan makhluk lucu ini nggak main-main mahalnya.

Udah gitu, manajemen emosi juga perlu banget dijaga. Nggak boleh asal marah, anak kecil jago banget niru soalnya

Awal-awal anak kecil ini belajar ngomong, segala hal lucu banget rasanya. Bilang pesawat jadi wa-wat aja bisa naikin mood seharian. Niruin bilang no-no-no saat ditawari makan juga nyebutnya sampai “Ya Allah, makhluk apa yang Engkau ciptakan kok lucunya kebangetan.” Tapi saya lupa di balik kelucuannya ternyata dia ini sosok peniru ulung yang nggak ada tombol on-offnya. Melihat papinya lari, dia ikut lari. Lihat kakungnya beberes, dia cergep ngambil sapu sendiri.

Advertisement

Inilah yang membuat saya jadi agak-agak takut untuk marah atau tegas di depannya. Tapi yang namanya manusia, ada aja kan yang memantik amarah. Seperti saat dia mogok makan atau saat dia berantakin seluruh mainan dan seisi rumah.

Di momen inilah saya belajar untuk mengatur emosi. Susah? Banget! Bahkan sampai sekarang, saya masih uji coba berbagai formula untuk jadi lebih sabar. Apalagi kalau dia nggak mau tidur siang dan maunya main hujan-hujanan. Hm…

Dari belajar nyebokin sampai menahan emosi, saya jadi yakin nggak mau nikah buru-buru. Mau belajar aja deh dulu~

Ntar dulu deh~ via www.fitpregnancy.com

Nikmatnya menjadi seorang tante baru memang nano-nano rasanya. Meski banyak senengnya, ada juga lho momen struggle yang harus saya lalui di sana. Betapa challenging-nya belajar nyebokin, udah pasti. Gimana susahnya menahan emosi, jelas sekali. Pun saat mengajari banyak hal, seremeh bilang terima kasih dan mengenalkan pentingnya gosok gigi.

Sebagai orang yang nggak sabaran, sering mood swing parah apalagi saat datang bulan, dan kemampuan mengatur keuangan yang masih awut-awutan, dengan hadirnya makhluk kecil ini rasanya saya makin yakin kalau nggak mau buru-buru menikah.

Sekarang saya sedang berada di satu titik dimana menikah berada di urutan “nanti dulu”. Selain alasan retorik mau belajar dulu, intinya sih biar saat nanti benar-benar dititipi keluarga kecil beserta manusia baru, saya nggak gelagapan. Ya paling tidak, nggak merepotkan ibu saat ada yang buang air atau mogok makan.

Ya kali mau menjalani hidup baru tanpa persiapan?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Not that millennial in digital era.

CLOSE