Menahan segala nafsu duniawi dari sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari

Begitulah kira-kira hampir semua umat muslim sedunia menjalankan ibadah wajib untuk berpuasa di bulan Ramadan. Yup, ‘hampir semua’ tapi nyatanya ada orang-orang yang tidak bisa berpuasa sesuai dengan peraturan dasar itu. Bukan karena mereka tidak mau, tapi kondisi geografis di bumi yang terus berotasi ini menyebabkan matahari terbit dan tenggelam pada waktu dan durasi yang berbeda-beda. Bahkan ada lho tempat yang matahari sama sekali tidak terbit atau bahkan tidak pernah tenggelam!

Advertisement

Alhasil, ada yang lama puasanya ‘sedang-sedang’ aja seperti Indonesia selama 14 jam dan banyak juga yang harus berpuasa lebih lama. Terus bagaimana ya mereka yang harus berpuasa di tempat ekstrem di mana siang atau malamnya hampir selama 24 jam?! Sahur dan buka puasanya jam berapa ya? Pasti pengalamannya beda banget sama kita di Indonesia. Penasaran?! Yuk lihat sendiri ulasan Hipwee News & Feature kali ini!

1. Karena letaknya yang dekat kutub, negara-negara Eropa bagian utara di wilayah Artik memang selalu mengalami cuaca ekstrem. Di musim panas, matahari bisa tidak terbenam sama sekali

Fenomena ‘Midnight sun’ atau matahari tengah malam di Tromsø, kota paling utara di Norwegia via www.youtube.com

2. Berbanding terbalik dengan Midnight Sun, matahari tidak pernah terbit di daerah ini selama musim dingin. Meski gelap hampir sepanjang hari, di saat itulah kita mungkin bisa melihat aurora

Gantian tidak ada matahari hampir sepanjang hari via www.visitnorway.com

3. Terus bagaimana jika harus berpuasa di tempat seperti itu? Dilema ini terbilang anyar karena populasi muslim di negara-negara Skandinavia sebelumnya sangat kecil

Satu dari sedikit masjid. Ini Bait-un-Nasr, masjid terbesar di Norwegia yang diresmikan tahun 2011 via furusetmoske.no

4. Baru belakangan ini saja, Skandinavia ketambahan banyak orang muslim. Kebanyakan dari mereka adalah pengungsi dari negara-negara konflik seperti Somalia, Irak, dan Pakistan

Harus belajar hidup di negara asing yang kebetulan cuacanya sangat ekstrem via news.nationalgeographic.com

5. Mereka harus beradaptasi dengan keunikan tanah Skandinavia, termasuk ketika harus beribadah. Dari jam sholat hingga lama puasa, sangat berbeda dengan belahan dunia lain

Sholat subuh di musim panas itu jam 1 dini hari. Tapi kalau di musim dingin, bakal beda banget via news.nationalgeographic.com

6. Jika Ramadan jatuh bertepatan dengan musim panas, mereka akan berpuasa 20-22 jam per hari. Bahkan beberapa kali, matahari pernah benar-benar tidak terbenam selama 24 jam

Pengalaman puasa tiap tahunnya akan berbeda via mvslim.com

7. Tahun 2018 ini, Islandia jadi negara dengan puasa terlama : 21 jam 51 menit. Hebatnya, sebagaimana dilansir CNBC, mayoritas muslim di sana bertekad tetap berpuasa sesuai waktu lokal itu!

Bayangkan jika sampai jam 23.50 matahari belum juga tenggelam, mau buka jam berapa? via www.worldbulletin.net

8. Padahal ada kesepakatan atau fatwa umum untuk meringankan mereka yang harus puasa lebih dari 18 jam. Mereka bisa mengikuti waktu Mekah atau Madinah untuk berpuasa sekitar 14 jam

Meskipun di luar masih terang, kalau orang di Mekah & Madinah sudah berbuka — juga ikut berbuka via www.worldbulletin.net

9. Kesepakatan yang lain adalah untuk mengikuti zona waktu negara mayoritas muslim yang terdekat. Warga muslim Eropa banyak yang akhirnya mencocokan waktu berpuasanya dengan Turki

Negara mayoritas muslim paling dengan Eropa via newsweekme.com

10. Atau ada juga yang mengikuti waktu negara terdekat lain yang dinilai paling manusiawi. Seperti bagaimana sebuah komunitas masjid di Reykjavik, Islandia, mengikuti waktu Perancis

Harus terbiasa sahur ketika masih terang via www.worldbulletin.net

11. Menurut banyak orang, fleksibilitas itulah yang membuat keberagaman dalam Islam begitu indah. Meski tantangannya berbeda-beda, muslim di seluruh dunia tetap bisa beribadah dengan khusyuk

Mengikuti arahan masjid atau komunitas masing-masing via icelandreview.com

12. Mungkin justru bukan lama waktu berpuasa yang jadi masalah utama, tapi stigma sosial yang masih negatif terhadap Islam. Bahkan Menteri Imigrasi Denmark, baru-baru ini menyatakan puasa itu berbahaya

Kata Inger Stojberg, puasa bisa berbahaya dan menurunkan produktivitas via www.independent.co.uk

Begitu kira-kira gambaran Ramadan di kawasan paling utara di bumi ini. Pembahasan ini dulu mungkin nggak pernah disinggung karena sebagian besar atau seluruh penduduk negara-negara ‘Utara’ itu non-muslim. Namun seiring dengan globalisasi dan banyaknya orang yang harus mengungsi karena konflik di negara asalnya, negara-negara itu pun kini memiliki banyak pendatang muslim. Maka dari itu, mungkin masih banyak orang yang bingung dan bertanya bagaimana ya berpuasa di sana? Penasaran nggak sih, jadi pengen merasakan puasa di sana~

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya