Tiap tahunnya, bulan suci Ramadan selalu dinanti dan dirayakan oleh 1,8 miliar muslim di dunia. Meskipun hidup di zona waktu, musim, dan kondisi yang berbeda-beda, semangat menyambut Ramadan bisa dirasakan dari ujung utara sampai selatan bumi ini. Bahkan sudah ada kesepahaman khusus dan fatwa seperti bagaimana muslim yang harus berpuasa lebih dari 18 jam seperti di Norwegia atau Islandia — di mana hari-hari musim panas sangat panjang– diperbolehkan mengikuti waktu Mekah atau negara muslim terdekat.

pi terus bagaimana ya aturan berpuasa untuk astronot muslim yang sedang mengorbit di luar angkasa? Pasalnya, sebagaimana dilansir dari National Geographic, International Space Station (ISS) yang jadi ‘rumah’ para astronot selama misi luar angkasa, selalu bergerak memutari bumi sebanyak 16 kali tiap harinya. Artinya, di sana, matahari terbit dan tenggelam tiap 90 menit. Nggak mungkin juga ‘kan berbuka dan sahur tiap 90 menit? Ternyata dilema ini sudah pernah dibahas dan ada yang telah membuat kesepakatannya guys. Mau tahu kayak gimana? Yuk simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Bagaimana astronot berpuasa di luar angkasa, jadi pertanyaan yang harus benar-benar dijawab ketika astronot asal Malaysia ini dikirim ke ISS bertepatan dengan Ramadan pada tahun 2007 lalu

Sheikh Muszaphar Shukor, telah berlatih untuk tetap bisa berpuasa di luar angkasa via www.nasa.gov

Advertisement

Pada tahun 2007 lalu, seorang ahli bedah ortopedik dan model beragama Islam dari Malaysia, Sheikh Muszaphar Shukor, terpilih sebagai anggota dari misi ke-16 dari International Space Station (ISS) atau Stasiun Luar Angkasa Internasional. Bukan hanya menjadi kebanggaan tersendiri mewakili negaranya sebagai astronot pertama Malaysia, perjalanan Shukor membuka diskusi penting tentang kehidupan astronot muslim di luar angkasa.

Apalagi tanggal keberangkatan Shukor, 10 Oktober 2007, masih termasuk dalam bulan suci Ramadan. Artinya, Shukor harus berada di luar angkasa dengan atmosfer dan lingkungan yang sangat berbeda dari bumi, sambil tetap menjalankan kewajibannya untuk berpuasa.

Meski sudah diperbolehkan mengganti puasa wajib setibanya di bumi, tapi Shukor tetap ingin berpuasa di ISS. Kesepakatannya, dia akan mengikuti zona waktu dari lokasi peluncuran misi luar angkasa

Tergantung lokasi berangkat pesawat luar angkasa via nurhafidahdahalandec5g.blogspot.co.id

Dengan segenap pertanyaan dan kebingungan tentang bagaimana seorang muslim tetap bisa beribadah di luar angkasa, badan antariksa Malaysia yaitu Angkasa dengan bantuan 150 ilmuwan muslim akhirnya menulis buku panduan resmi. Sebagaimana dilaporkan Wired, buku panduan untuk beribadah di ISS ini digunakan sebagai acuan bagi Shukor untuk beribadah selama misi 10 harinya di luar angkasa. Buku panduan yang juga telah disetujui oleh Dewan Fatwa Nasional Malaysia tersebut sebenarnya sudah menjelaskan bahwa Shukor boleh mengganti puasa wajibnya di bumi. Namun Shukor meyakinkan bahwa dirinya sudah berlatih dan tetap ingin menjalankan hari-hari terakhir puasanya di ISS.

Advertisement

Maka dari itu, kesepakatan yang mereka ambil adalah ketentuan bahwa Shukor akan berpuasa sesuai dengan zona waktu dari lokasi keberangkatan misi Ekspedisi 16 ISS tersebut. Meski dirinya terus mengorbit atau berputar mengelilingi bumi, Shukor sahur dan berbuka sesuai zona waktu tempat keberangkatan awalnya.

Bukan cuma masalah durasi puasa saja, ibadah wajib yang tidak kalah penting yaitu sholat lima waktu juga sulit dilakukan sebagaimana mestinya di luar angkasa. Susah banget lho menentukan arah kiblat

Ketentuan waktu sholat sama dengan puasa, tapi menentukan arah kiblatnya sulit banget via www.muslimworldjournal.com

Selain berpuasa, buku panduan beribadah versi pemerintah Malaysia tersebut juga berisi aturan-aturan untuk sholat di luar angkasa. Aturan tentang sholat ini jelas tidak kalah pentingnya, karena semua muslim diwajibkan untuk menjalankan sholat lima waktu tiap harinya. Nah jika waktu sholat sama dengan kesepakatan waktu berpuasa yaitu sesuai dengan zona waktu keberangkatan, bagaimana dengan arah kiblat? Tidak sama dengan orang yang berdiri tegak di bumi dan selalu bisa menentukan arah Ka’bah atau kiblat, baik dengan bantuan intuisi atau aplikasi, situasi di luar angkasa sangat jauh berbeda.

Karena selalu berputar-putar, posisi astronot terhadap bumi berubah dalam hitungan detik. Alhasil, kiblat dapat berubah 180° dalam sekali sholat. Masa iya, astronot seperti Shukor harus mengubah arah kiblatnya padahal belum selesai sholat? Menurut buku panduan itu, aturan dasar dari penentuan arah kiblat adalah diukur dari hal yang paling memungkinkan. Hal-hal ini diukur dalam skala prioritas :

  1. Arah Ka’bah sebenarnya jika memungkinkan
  2. Proyeksi arah Ka’bah jika dihitung dari posisi relatif astronot
  3. Posisi bumi
  4. Apa pun, bahkan katanya menempel gambar atau sekadar membayangkan Ka’bah juga boleh

Setelah masalah ketentuan jadwal dan arah, masalah teknik seperti gerakan-gerakan sholat pun harus disesuaikan. Soalnya di dalam ISS, gravitasinya ‘kan nol!

Asyiknya bisa terbang dalam gravitasi nol merupakan gambaran banyak orang terhadap kehidupan di luar angkasa. Meskipun asyik, kondisi itu membuat berbagai hal yang biasa kita lakukan di bumi jadi sulit dan bahkan mustahil lho. Minum saja harus ekstra hati-hati karena cairan ikut berterbangan, terus bagaimana ya kalau harus sholat? Setelah berwudhu dengan tisu basah yang disediakan di ISS, sebagaimana dilansir dari Kompas, Dewan Fatwa Nasional Malaysia menyarankan :

“Bentuk postur tubuh (seperti berdiri, membungkuk, dan berlutut) disesuaikan dengan kondisi di ISS,”

Kalau bisa berdiri setegak mungkin, tapi kalau tidak bisa ya berdiri dengan postur apa pun boleh. Jika berdiri tidak memungkinkan, duduk pun bisa. Bahkan kalau astronot sedang tidak bisa mengubah postur tubuh seperti saat lepas landas atau pendaratan, menggerakkan kelopak mata atau membayangkan gerakan sholat di dalam kepala, juga dapat diterima.

Itu baru peraturan atau kesepakatan dari para ahli agama di Malaysia lho. Jika lebih banyak astronot muslim dari negara-negara lain, mungkin mereka juga akan berkonsultasi dulu dengan dewan ulama di negara-negara masing. Meski sekilas terlihat ribet, tapi itu berarti astronot-astronot muslim juga mulai diperhitungkan lho.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya