Di tengah gegap gempita perayaan dimulainya Asian Games 2018, warga di sekitar Lombok, Nusa Tenggara Barat terus dilanda kepanikan karena gempa bumi yang terus terjadi. Bukan cuma gempa susulan atau aftershock biasa, banyak gempa berkekuatan besar yang terjadi sepanjang akhir pekan kemarin. Bahkan hari Minggu (19/8), sebagaimana dilansir dari Kompas, terdapat empat gempa berkekuatan di atas 5 Skala Richter (SR) yang terjadi hanya dalam rentang waktu 1 jam saja. Gempa terbesar yang terjadi hari itu tercatat mencapai kekuatan 7 SR!

Gempa bumi dengan kekuatan 7 SR kembali menggoncang Lombok, NTB via twitter.com

Gempa besar itu langsung membuat listrik padam dan menyebabkan Lombok kembali gelap gulita. Meski dinyatakan tidak berpotensi tsunami, namun gempa ini tetap saja menambah panjang daftar kerusakan maupun jumlah korban. Serangkaian gempa yang mulai terjadi sejak akhir Juli dan terus berlangsung hingga saat ini, membuat semua orang bertanya-tanya kapan semua ini berakhir? Kapan gempa bumi di sekitaran Lombok benar-benar berakhir supaya warga bisa mulai kembali berbenah menata kehidupan mereka?

Advertisement

Meski sampai sekarang secara umum memang belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi, beberapa ahli sudah berupaya menjelaskan kenapa gempa di Lombok ini masih terus-menerus terjadi. Hipwee News & Feature sudah merangkumnya buat kalian semua, yuk dibaca bersama~

1. Gempa bumi yang terjadi di Lombok, NTB, disebabkan karena ada lempeng bumi yang bergeser dan nggak bakal selesai sampai lempeng itu mencapai keseimbangan dan stabil

Lempeng yang retak biasanya kemudian terpisah dan mencari keseimbangannya sehingga muncul deh gempa-gempa susulan via prezi.com

Pada dasarnya, gempa yang terjadi di Lombok ini disebabkan terjadi patahan pada lempeng bumi tertentu. Nah, ketika terjadi patahan, tentu saja masing-masing jadi tidak seimbang. Agar seimbang, patahan akan terus bergerak sampai mencapai posisi yang lebih stabil. Ketika sudah tidak terjadi patahan dan sudah stabil, baru lah gempa bumi bisa diperkirakan berhenti.

2. Padahal, jenis batuan yang menyusun permukaan tanah di Lombok itu rentan goncangan dan membuatnya mudah bergerak saat terkena gempa

Permukaan bumi terbuat dari lapisan-lapisan batuan via www.medrec07.com

Sedangkan menurut Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami Badan Geologi Kementerian ESDM, Sri Hidayati, seluruh pusat gempa berada di darat dan sebagian daerah tersebut tersusun dari batuan sedimen dan metamorf dengan umur pratersier hingga tersier, batuan gunung api berumur tersier hingga kuarter, dan aluvium berumur resen. Nah, batuan tersebut rentan dengan goncangan gempa bumi karena sifatnya yang mudah terurai dan terlepas serta belum terkonsolidasi sehingga memperkuat getaran gempa.

3. Selain itu, gempa bumi yang di Lombok itu terjadi di lokasi yang berbeda-beda tapi masih dalam satu kluster yang sama

Ternyata, gempa bumi di Lombok selama ini terjadi di lokasi yang berbeda pada kluster yang sama via www.google.co.id

Advertisement

Masing-masing gempa besar yang terjadi adalah gempa utama sendiri-sendiri dan bukan merupakan gempa susulan dari gempa utama yang lain. Ini disimpulkan oleh Suharjono, seorang ahli gempa, yang melihat bahwa gempa bumi di Lombok ini terjadi pada lokasi yang berbeda-beda. Meski lokasinya berbeda, sebenarnya masih terjadi pada kluster yang sama yaitu pada busur belakang sebelah utara dari Bali sampai Flores.

4. Jadi, selama ini ada beberapa gempa utama yang memicu adanya gempa susulan yang semakin banyak. Suatu gempa pasti akan memicu terjadinya gempa yang lain

Terdapat beberapa gempa utama yang memicu gempa susulan via news.harianjogja.com

Dari banyaknya gempa yang terjadi di Lombok, nggak ada satu yang bisa dibilang sebagai gempa utama. Ya, gempa utama yang terjadi ada beberapa, pada lokasi yang berbeda-beda. Karena masing-masing gempa utama memicu gempa susulan, maka gempa susulan tentunya jadi lebih banyak lagi. Inilah kenapa gempa bumi masih terus terasa hingga saat ini.

Sedihnya, di tengah bencana gempa yang sedang melanda ini, ada berita yang nggak benar alias hoax tersebar lho. Misalnya aja tentang korban yang akhirnya memakan sabut kelapa karena bantuan tak kunjung datang, korban yang mendapatkan pakan ternak untuk makanan, bantuan yang nggak merata, hingga bantuan masyarakat yang disalurkan melalui PT Pos Indonesia diklaim sebagai Bantuan BNPB dan BPBD NTB. Kita harus bijak dalam menyikapi berita yang beredar. Jangan sampai deh bencana jadi ajang pemecah belah. Bencana alam harusnya jadi ajang kemanusiaan yang membuat kita makin bersatu untuk saling membantu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya