Meski pernikahan Prince Harry dan Meghan Markle – yang sekarang menyandang gelar Duke and Duchess of Sussex – sudah berlangsung sejak 2 mingguan yang lalu, tapi kisah mereka akan selalu unik dibahas. Terutama cerita tentang Meghan Markle, yang notabene adalah orang biasa, berdarah campuran, dan pernah menikah sebelumnya. Ia seolah mampu mematahkan tradisi keluarga kerajaan Inggris yang belum pernah menerima menantu seperti Meghan.

Melihat masa lalu Meghan yang bisa dibilang berbeda 180 derajat dengan tipikal keluarga kerajaan, tak sedikit orang menyayangkan pilihan Prince Harry itu. Sebelum kamu juga ikut-ikutan nggak rela, mendingan simak dulu ulasan Hipwee News & Feature kali ini, tentang 4 hal yang diperjuangkan Meghan Markle sebelum terkenal sebagai istri sang Pangeran kayak sekarang. Dijamin kamu bakal memaklumi kenapa Prince Harry sampai tergila-gila sama ini orang! Yuk, simak~

1. Meghan Markle dikenal sebagai pejuang pergerakan perempuan, bahkan sejak masih usia 11 tahun! Coba bandingkan, di umur segitu, kita mah masih remah-remah rengginang…

Meghan menulis surat untuk pembuat iklan yang menurutnya merendahkan perempuan via metro.co.uk

Advertisement

Nama Meghan Markle pertama kali dikenal publik jauh sebelum dirinya bertemu dengan Prince Harry. Tepatnya saat wanita keturunan Afrika-Amerika itu berumur 11 tahun. Saat itu Meghan kecil berani mengkritisi sebuah iklan sabun cuci piring di Amerika yang slogannya, “membantu seluruh wanita di AS berjuang dengan panci dan wajan berminyak“. Belum lagi saat melihat iklan itu di sekolah, 2 teman lelaki Meghan tertawa sambil berujar kalau wanita memang ditakdirkan berada di dapur.

Meghan yang nggak setuju sama pernyataan itu, menulis surat yang ditujukan kepada perusahaan iklan Procter & Gamble, Hillary Clinton, pengacara hak-hak perempuan Gloria Allres, dan presenter “Nick News” Linda Ellerbee. Dilansir dari Global Citizen, surat tersebut “bekerja” dengan baik sampai membuat iklan tersebut mengubah taglinenya dari “Women” ke “People“.

2. Sejak usia 13 tahun, Meghan juga tergabung dalam grup relawan gereja “Soup Kitchen” yakni komunitas penyedia makanan untuk gelandangan, fakir miskin, dan orang-orang nggak mampu

Meghan dan keluarganya via www.dailymail.co.uk

Tak hanya berani mengkritisi produk-produk bias gender, Meghan kecil juga tergabung dalam sebuah komunitas gerejanya yang bergerak di bidang sosial. Adalah “Soup Kitchen“, grup relawan penyedia makanan untuk orang-orang miskin di sekitar Skid Row, Los Angeles. Mereka membuat sendiri makanan-makanan di sebuah dapur bersama. Meghan menjadi relawan dalam grup ini sejak usianya 13 sampai 22 tahun.

3. Meghan juga tercatat sebagai salah satu perwakilan wanita United Nations dan pernah memberikan pidato soal perempuan di sana

Meghan saat memberi pidato via royalcentral.co.uk

Advertisement

Tak cukup sampai di situ, perjuangannya melawan ketidaksetaraan gender juga dibuktikan dengan keterlibatannya di United Nations. Meghan tercatat sebagai perwakilan UN, khususnya untuk topik-topik seputar gender dan perempuan. Kedudukannya di UN sama halnya kayak aktris Emma Watson. Meghan juga pernah menyampaikan pidatonya saat Hari Perempuan Internasional.

4. Tulisannya tentang pengalamannya menjadi ras campuran di Amerika juga pernah dimuat di majalah ELLE

Si cantik Meghan via www.elle.com

Menjadi minoritas di sebuah negara macam Amerika Serikat juga cukup membuat Meghan ‘resah’. Ia pun menceritakan identitas dan pengalamannya sebagai keturunan ras campuran tersebut dalam sebuah tulisan yang dimuat dalam majalah ELLE tahun 2015. Kalau kamu penasaran sama tulisannya bisa baca di sini. Kemampuan Meghan menulis juga sangat baik, mengingat ia juga pernah menjadi Editor-in-Chief di lifestyle brand-nya, The Tig.

Meghan begitu lekat dengan dunia pergerakan perempuan. Ia bahkan mengaku kalau bangga menjadi perempuan dan feminis. Terkait keputusannya menikah dengan Prince Harry, ia pernah menanggapi kalau Harry-pun juga mendukung feminisme. Jadi ya mungkin keduanya cocok karena punya kesepakatan yang sama.

Kalau kalian jeli, “bau-bau” feminisme ini bahkan bisa terendus dari pernikahannya kemarin. Mulai dari ia yang berjalan di altar sendiri tanpa Ayahnya -meski di tengah dijemput oleh Prince Charles-, menghindari kata “mematuhi” di teks sumpah pernikahan yang ia bacakan untuk Harry, sampai segala pernak pernik pernikahan yang lebih banyak ia percayakan ke pekerja wanita.

Begitu kuatnya kontribusi Meghan dalam menjunjung tinggi kesetaraan gender, membuat kita mungkin ya akhirnya mengakui kalau yang beruntung di sini justru Prince Harry, karena bisa menikahi wanita se-powerful Meghan~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya