Mulai dari diresmikannya negara antariksa pertama Asgardia, dijualnya tiket wisata ke bulan untuk kalangan umum, dan pendaratan di Mars tahun 2018 ini, menunjukkan bahwa impian manusia untuk tinggal di luar angkasa tampaknya bukan mimpi kosong belaka. Di samping butuh duit yang jelas tidak sedikit untuk pindah ke sana, manusia juga harus mempersiapkan diri untuk hidup dengan atmosfer yang sama sekali berbeda dengan bumi.

Salah satu yang penting banget untuk diketahui adalah risiko-risiko penyakit yang mungkin muncul jika manusia nantinya tinggal di luar angkasa. Kita bisa mempelajari ini dengan melihat apa yang selama ini terjadi kepada astronot-astronot yang telah menyelesaikan misi luar angkasanya. Wah, sakit apa ya kalau hidupnya sehari-hari di luar angkasa? Biar kita juga bisa waspada, simak deh ulasan Hipwee News & Feature ini!

1. Cacat bola mata yang menyebabkan pandangan kabur. Kondisi ini diderita karena adanya cairan di sekitar otak yang menyumbat di sembarang area

menderita cacat bola mata via pixabay.com

Advertisement

Sekitar dua pertiga asronot yang menghabiskan waktu cukup lama di Stasiun Antariksa Internasional (ISS), pandangannya kabur setelah kembali ke bumi. Penyakit yang dinamakan cacat mata bola ini diakibatkan tumpahnya cairan di sekitar otak yang menyumbat di sembarang area. Seperti dikutip dari National Geographic Indonesia, hal itu berdampak pada pemampatan bola mata sampai merata secara permanen.

Kondisi ini disadari NASA pertama kali pada 2005 silam ketika salah satu astronot, John Phillips kembali setelah bertugas sekitar enam bulan di orbit. Pemeriksaan kesehatannya memperlihatkan bagian belakang bola mata Phillips yang menjadi datar – tanpa diketahui bagaimana caranya bisa berubah. Hal ini pun memengaruhi saraf optiknya.

NASA mengklaim sekitar 68 ons cairan pindah dari kaki astronot ke kepala mereka selama bertugas di luar angkasa. Cairan ini diperkirakan sebagai penyebab adanya tekanan pada otak dan berpengaruh terhadap mata. Meski sudah diketahui penyebabnya, namun hingga kini pengobatannya yang sesuai belum ditemukan. Sedih ya, balik dari bertugas malah menderita penyakit yang tak kunjung membaik.

2. Para astronot kemungkinan juga menderita penyakit kardiovaskular. Terbukti, penyakit ini menjadi penyebab banyak astronot Apollo 11 meninggal dunia

menderita kardiovaskular via mashable.com

Advertisement

Banyak warga dunia yang menderita penyakit kardiovaskular, tak terkecuali para astronot. Setelah bertugas di luar angkasa, mereka dikabarkan banyak terkena serangan jantung dan stroke. Seperti yang dialami oleh para astronot Apollo 11 yang berekspedisi ke bulan dari 1968 hingga 1972. Dilansir dari CNN Indonesia, hal ini terjadi karena astronot Apollo 11 berbeda dengan astronot lain. Dengan bulan sebagai objeknya, membuat mereka harus menjelajah ke luar medan geomagnetik bumi.

Mereka harus pergi keluar dari magnetosfer protektif bumi – di mana itu merupakan sebuah kawasan yang menyelimuti planet dengan medan magnetik mendominasi. FYI, magnetosfer berfungsi membuat sinar kosmik antariksa dan partikel surya supaya nggak menembus bumi. Nah, paparan sinar kosmik di antariksa inilah yang menimbulkan masalah pada organ jantung astronot. Dikabarkan menurut data pada 2016, dari 24 astronot Apollo 11, delapan di antaranya telah meninggal dunia. Dari tujuh astronot yang diteliti, 43 persen meninggal karena penyakit jantung. Sisanya, karena kanker dan kecelakaan.

3. Nyeri punggung dirasakan astronot saat menjalankan tugas di luar angkasa dan saat balik ke bumi pun bisa makin parah

(ilustrasi) bisa menderita nyeri punggu hebat via miami.cbslocal.com

Bukan cuma kamu yang sering menghadap laptop menderita nyeri punggung, ternyata astronot juga mengalaminya lo. Menurut data medis penerbangan seperti dikulit dari Hello Sehat, lebih dari setengah astronot Amerika Serikat mengeluh nyeri punggung. Nyeri ini dirasakan terutama di punggung bawah, mulai dari nyeri biasa sampai nyeri parah. Dan hal ini juga telah mereka rasakan ketika menjalankan misi di luar angkasa.

Seperti yang diutarakan peneliti dari University of California, San Diego, Dr Douglas Chang, di dalam tubuh astronot ini terjadi kerusakan parah dan penyusutan massa jaringan otot paraspinal selama mereka bertugas. FYI, otot paraspinal adalah otot yang bertanggung jawab membantu postur tubuh manusia agar tetap tegak, berjalan, dan mengoperasikan kedua lengan saat berada di bumi. Selain itu juga dapat mencegah piringan tulang belakang dari terkilir atau cedera. Apalagi para penjelajah luar angkasa ini jarang banget gunakan otot punggung bawah mereka. Karena selama di sana mereka nggak membungkuk atau banyak memakai punggung bawah untuk bergerak.

Maka tak heran kalau tubuh mereka terasa kaku dan mengalami nyeri punggung selama di sana sampai kembali ke bumi.

4. Para astronot juga mengalami “demam antariksa” karena kondisi luar angkasa yang tanpa gravitasi

(ilustrasi) mengalami demam antariksa via nypost.com

Kita tahu kalau luar angkasa tak ada gravitasi. Dan hal inilah yang diperkirakan sebagai penyebab para astronot kerap mengalami perubahan suhu tubuh. Kondisi suhu tubuh mereka sering melampaui keadaan normal manusia (37 derajat celcius). Misalnya ketika berolahraga di ISS, suhu tubuh astronot bisa melewati 40 derajat celcius, sedangkan ketika beristirahat mencapai 38 derajat celcius. Dengan keadaan di luar angkasa tanpa gravitasi, astronot akan sulit berkeringat dan keringatnya pun susah menguap.

Luar angkasa yang hingga kini masih jadi misteri tak menurunkan niat para astronot untuk menjelajahi. Justru, karena bikin penasaran itulah ekspedisi di luar angkasa masih terus dilakukan. Tapi di balik hal-hal menarik di sana, saat kembali ke bumi para astronot seperti mendapat mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Beragam penyakit mereka derita hingga meninggal.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya