4 Tren yang Tanpa Kita Sadar Ikut Memenuhi Hak-Hak Anak

Pemenuhan hak anak ternyata bisa dilakukan melalui sejumlah tren kekinian

Setiap tahun pada bulan Juli, tepatnya tanggal 23, bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan ini memiliki makna penting, karena menjadi momentum penting bagi kita dan segenap bangsa dalam menjamin pemenuhan hak anak Indonesia agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. 

Nah, yang mungkin nggak kamu sadari, pemenuhan atas hak-hak anak ternyata telah dan bisa terjadi melalui sejumlah tren kekinian, loh. Penasaran tren apa dan hak-hak anak mana saja yang tanpa kita sadari ikut terpenuhi tren kekinian? Langsung saja disimak. 

1. Tren staycation bisa memenuhi hak anak untuk mendapatkan rekreasi

staycation

Ilustrasi staycation bersama keluarga | Photo by Rawpixel from iStockphoto

Sejak beberapa tahun belakangan hingga kini, staycation, yang di Indonesia identik dengan kegiatan menginap di hotel untuk menikmati suasana baru, menjadi opsi liburan yang digandrungi generasi muda maupun mereka yang ingin berlibur bareng keluarga.

Nah, yang mungkin nggak kamu sadari, staycation yang dilakukan bersama anak-anak, yakni mereka yang berusia di bawah 18 tahun, nyatanya ikut memenuhi salah satu hak anak dalam Konvensi Hak Anak PBB Tahun 1989, loh. Tepatnya hak untuk mendapatkan rekreasi. 

Secara umum, hak tersebut dapat dipenuhi bukan hanya lewat staycation, melainkan bisa melalui seluruh aktivitas rekreasi, yakni kegiatan yang dapat memberikan perasaan senang dan bahagia terhadap anak-anak. 

So, buat kamu yang sering ngajakin adik atau keponakan rekreasi, apapun itu bentuknya, pertahankan, ya. Sebab, dengan aktivitas yang mungkin terkesan sederhana, kamu telah ikut memastikan hal penting terkait hak mereka sebagai anak-anak. 

2. Tren bawa bekal dari rumah dapat memenuhi hak anak atas makanan

menyiapkan bekal

Ilustrasi bekal untuk anak | Photo by Ahirao_photo from iStockphoto

Pandemi COVID-19 yang berdampak pada meningkatnya kesadaran gaya hidup sehat masyarakat Indonesia, telah menghidupkan kembali sesuatu yang ngetren pada masa lalu yaitu bawa bekal dari rumah. 

Yup, bawa bekal dari rumah ini sempat jadi sebuah kenormalan di masa lalu, tetapi kemudian tergantikan kemudahan beli makanan dari warung makan atau restoran cepat saji.  

Namun, saat ini nggak sedikit orang yang kembali memilih sedikit repot menyiapkan bekal untuk keluarga termasuk anak-anak, dibandingkan harus membekali mereka uang saku untuk makan. 

Selain hemat, dengan menyiapkan dan membawa bekal dari rumah, kamu juga bisa memastikan kehigienisan dan kesehatan makanan tersebut. Hal ini secara nggak langsung ikut memenuhi hak anak mendapatkan makanan yang bersih dan sehat. 

Sejalan dengan itu, tren mengoleksi botol minum yang lucu-lucu saat ini juga bisa ikut memenuhi hak anak mendapatkan makanan, tepatnya untuk poin mendapatkan air minum yang bersih. So, botol minum koleksimu jangan cuma disimpan, ya. Berikan juga kepada adik agar mereka bisa bawa air minum bersih dari rumah~

3. Tren memberikan nama yang unik dan kreatif ikut memenuhi hak anak atas identitas

pemberian nama

Ilustrasi memberikan nama | Photo by Evgen_Prozhyrko from iStockphoto

Berbeda dengan zaman kakek-nenek kita dahulu, orang tua milenial sangat kreatif dalam memberikan nama kepada anak-anaknya. Pemberian nama anak dengan unsur-unsur alam seperti “senja”, “lembayung”, “rinjani”, “rimbun” dan masih banyak lainnya, kini telah menjadi tren.

Terlepas dari tren yang berkembang, selama pemberian nama dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik maupun mental, spiritual maupun sosial, pemberian nama yang kreatif dan unik telah ikut memenuhi hak mereka atas identitas. 

Yup, berdasarkan Konvensi Hak Anak, orang tua diharapkan untuk memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak dalam pemberian nama. Adapun secara hukum, nggak ada satu pasal pun dalam undang-undang yang mengatur tentang pemberian nama anak. 

So, buat kamu calon Moms & Dads, selama nanti kamu memperhatikan kepentingan terbaik anak dalam pemberian nama, maka hal tersebut merupakan satu bentuk pemenuhan hak mereka. 

4. Tren “Citayam Fashion Week” tanpa kita sadari ikut memenuhi hak anak untuk berekspresi

street style

Ilustrasi street style | Photo by Daniel Megias from iStockphoto

Last one but not least adalah tren atau fenomena “Citayam Fashion Week”. Yup, siapa sadar kalau berkumpulnya anak-anak muda dari berbagai wilayah sekitaran Jakarta di daerah Sudirman dengan fashion eksentriknya masing-masing, adalah salah satu bentuk pemenuhan hak anak-anak, loh, tepatnya hak untuk berekspresi. 

Nah, jika kamu adalah orang yang menilai fenomena “Citayam Fashion Week” ini sebagai wadah bagi anak-anak muda berekspresi dan menyampaikan pandangannya terhadap kehidupan dengan cara yang mereka pilih, maka itu telah menjadi bentuk dukungan terhadap pemenuhan hak-hak mereka. 

Seperti tertuang pada pasal 15 Konvensi Hak Anak, “tiap anak berhak bertemu anak lain, bergabung, atau membentuk kelompok sepanjang hal ini tidak menghalangi orang lain melaksanakan haknya”.

So, selama aktivitas “Citayam Fashion Week” ini nggak menghalangi orang lain melaksanakan haknya, kita nggak perlu julid, karena apa yang mereka lakukan, yaitu berkumpul dan membentuk kelompok atas kesukaan yang sama, sejatinya dijamin oleh Konvensi Hak Anak.

Apa yang menarik dari 4 tren di atas, selain dapat mendukung hak-hak anak adalah mengandung semacam keseimbangan. Karena ketika mengikuti sebuah tren, pada dasarnya kita ingin keep up dengan perkembangan di sekitar. Di sisi lain, secara tidak langsung melalui 4 tren di atas kita juga telah memastikan hak-hak orang lain terpenuhi. 

Dalam kehidupan ini, keseimbangan seperti itu dalam segala aspek perlu untuk kita upayakan, loh. Untuk itu, buat kamu yang ingin mengupayakan keseimbangan hidup dalam berbagai aspek lain, yuk follow akun Instagram @guegensy karena di sana kamu bisa mendapatkan banyak informasi menarik mengenai keseimbangan hidup. 

Nah, dari 4 tren kekinian yang tanpa sadar dapat mendukung dan memenuhi hak-hak anak di atas, tren mana yang ingin kamu dukung dan jalani?

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor