KPK baru saja menggeledah rumah Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara nonaktif yang menjadi tersangka tindak pencucian uang. Dalama penggeledahan itu, 40 tas mewah dengan berbagai merek terkenal seperti Gucci, Hermes, Louis Vitton, dan Etienne Aigner juga turut disita menjadi barang bukti. Berdasarkan keterangan KPK, dari 436 miliar dana yang diduga digelapkan Sang Bupati, diduga sebagian digelapkan dengan pembelanjaan tas mewah ala sosialita tersebut. Gokil!

Meski hanya sekadar tas tangan yang secara fungsional sebenarnya hanyalah asesoris perempuan, tapi tas mewah bermerek telah berkembang jadi simbol prestise dan kemewahan. Tentunya ada banyak alasan yang mendasari kenapa tas-tas ini bisa dihargai setara mobil. Kali ini Hipwee News & Feature akan mencoba membongkar dan menjelaskan kenapa tas mewah harganya lebih tinggi dari Burj Khalifa. Yuk simak!

Penggelapan dana yang dulu identik dengan beli tanah dan surat obligasi, kini ternyata juga bisa dengan beli tas mewah

Sebagian tas mewah sitaan via foto.tempo.co

Advertisement

Disitanya tas mewah milik Rita Widyasari seolah membuka tabir baru dalam realita korupsi di negeri ini. Ternyata penggelapan dana nggak lagi melulu melibatkan rumah mewah, aset tanah, usaha retail fiktif, sampai surat obligasi. Hanya dengan tas mewah dengan harga ratusan juta sebuah, dana hasil korupsi juga bisa turut disembunyikan. KPK memang belum menetapkan nilai 40 tas yang dimiliki Rita, tetapi dilansir melalui Tempo, nilai tas tersebut juga termasuk dalam dana yang digelapkannya senilai Rp436 miliar.

Tas branded layaknya Gucci dan Hermes memang bisa sampai seharga mobil mewah. Meskipun harganya selangit, anehnya tetap aja banyak yang beli

Uang segini kalau dibeliin rawon, kuahnya bisa dibuat renang sekalian sama wahana water boomnya via www.hermes.com

Bagi yang nggak suka, tas di atas hanyalah layaknya tas biasa yang meskipun terlihat dibuat dari kulit buaya, toh teksturnya bisa ditiru pakai bahan sintetis. Tapi bagi mereka yang menganggap bahwa prestise adalah hal utama, maka nggak heran tas di atas yang kalau di-Rupiah-kan setara Rp272 juta. Perilaku konsumen begini disebut sebagai ‘veblen goods’ oleh para pelaku bisnis. Makin mahal barang yang ditawarkan maka makin tinggi nilai gengsi yang bakal dibeli.

Makanya nggak heran kalau orang berduit yang sampai bingung uangnya mau diapain, nggak akan masalah membeli tas yang harganya bisa untuk membiayai acara buka bersama di panti asuhan sebulan penuh. 😀

Coba kita bongkar deh, berapa sebenarnya biaya produksi ‘jujur’ sebuah tas mewah tersebut. Menurut seorang pakar, biaya produksi biasanya nggak sampai sejuta lho!

Ini nih perhitungan dari pakar tas via www.cbsnews.com

Advertisement

Pendiri sebuah brand tas kulit dan tas travel ternama Oliver Cambell, Scott Gabrielson membongkar harga jujur sebenarnya dari produksi tas yang biasa diproduksi brand fashion mewah. Uraian ini pun pernah diterbitkan melalui CBS News. Material untuk memproduksi tas dengan bahan terbaik adalah Rp440 ribu, biaya gaji karyawan untuk membuat tiap 1 tas berkisar Rp400 ribu, distribusi lokal untuk setiap tas dipukul rata Rp150 ribu setiap tas, dan biaya pajak merek dirata-rata Rp70 ribu setiap tas. Hasilnya, jumlah keseluruhan biaya kurang lebih Rp1,06 juta saja.

Harga wajar yang seharusnya dipatok produsen dari produksi yang senilai sejutaan adalah Rp2,5 juta, itu pun sudah dinaikkan jadi 150% harga produksi. Sedangkan kalau barang branded, tas dengan produksi sejutaan akan dilabeli harga Rp12 jutaan. Hmmm pantes aja ya bikin geleng-geleng harganya. Ini hanya contoh transparansi produksinya ya, kalau bahan dan desainnya melibatkan lebih banyak uang, tentu label harganya bisa jauh lebih mahal lagi. Makanya nggak heran ada yang sampai ratusan juta.

Tapi bisa jadi tas branded yang dibanderol dengan harga selangit itu memang buat membiayai banyak faktor di bawah ini. Kebanyakan memang nggak terpikirkan

Showroom LV via www.rb.com.hk

Secara kasar harga produksi tas mewah memang sama dengan tas-tas bermerk standar yang ada di pasaran. Namun banyak juga yang akhirnya bikin kita mikir, kalau membeli tas mewah memang bukan sekedar membeli tasnya, tapi juga membeli kemewahannya. Seperti imagenya, mana mungkin ada hal mewah yang gratis? Nggak jadi mewah dong! Nah ini dia kira-kira alasan kenapa tas branded bisa harganya menggila:

  1. Logo brand dan reputasinya yang nggak mungkin murah. Brand Hermes sudah terkenal sebagai perajin barang fashion sejak 100 tahun lalu. Bahkan saking otentiknya, semua produk Hermes adalah buatan tangan langsung dari perajin berpengalaman. Keterkenalannya yang sudah seabad ini nggak mungkin dihargai murah.
  2. Dengan beli tas mewah, artinya kita juga ikut membiayai seluruh image mewahnya dan prestisenya. Dengan showroomnya yang terletak di kota-kota besar, tempat tinggal para hartawan. Serta interior showroom yang mewah, pelayanan yang luar biasa, hingga perawatan barang yang spesial juga ikut kita beli bersamaan dengan tas nya. Memakai tas mewah sudah tentu dicap sebagai sosialita, labeliing seperti inilah yang harganya nggak murah.
  3. Barangnya limited edition dan didesain khusus. Nggak ada yangmau kan beli tas Hermes tapi tiba-tiba di jalan ketemu orang yang pakai tas bentuknya sama? Seolah-seolah harga diri ditelanjangi! 😀 Tentunya dengan harga mahal ada jaminan tas tersebut hanya diproduksi dengan jumlah sedikit dan tidak secara masif.
  4. Materialnya selalu dipilih yang terbaik di kelasnya. Carinya nggak mudah lho. Misal jika bahan tas kulit tersebut dari kulit buaya, perlu dipilih dengan tekstur terbaik dengan ketebalan yang presisi dan corak yang paling sesuai dengan desain.
  5. Menghargai tas mewah sebagai karya seni dari desainer ternama. Layaknya sebuah barang bernilai seni tinggi, tas mewah juga dibuat nggak sembarangan. Desainer menghabiskan waktu lama untuk merancang tas dengan bentuk terbaik, yang nyaman dipakai, dan punya image mewah. Pengetahuan seperti ini cuma dipunyai oleh mereka yang punya sense fashion dan paham seni.

Harusnya orang memang nggak dinilai dari bajunya dan barang-barang mewahnya via giphy.com

Gede-gedean gengsi dan saling berlomba menaikkan prestise tentunya jadi alasan utama kenapa brand mahal semakin subur. Orang nggak lagi membelanjakan barang hanya demi nilai fungsinya, tapi demi nilai definisinya. Bagi sebagian orang, dilabeli sebagai sosialita, orang berduit, dan borjuis adalah sebuah kebutuhan gaya hidup. Mereka ingin dinilai dari sesuatu yang mereka pakai. Meski secara moral, buka begitu cara memandang dan menilai orang lain. Pantes aja ya, mau semahal apa pun tasnya tetep aja laris manis.

Bukan sebuah larangan dan pelanggaran hukum jika membelanjakan uang demi barang mewah layaknya tas-tas branded tersebut. Yang jadi masalah, kalau kita membeli barang tersebut hanya demi gengsi tanpa menyadari kemampuan ekonomi kita sebenarnya. Kalau penghasilannya sebulan nggak bisa menutup cicilan tas seharga ratusan juta, ya ngapain beli? Apalagi kalau pakai uang hasil korupsi. Duh malu!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya