Meski jarang kita sadari, tiap harinya dunia pasti menghadapi kematian. Setiap jamnya, setidaknya ada 6.000-7.000 orang meninggal di dunia. Itu baru satu jam ya, belum sehari, sebulan, atau bahkan setahun. Proses pemakaman yang dilakukan berbeda-beda, ada yang dikubur pakai kafan atau peti mati, ada yang dikremasi lalu abunya dibuang ke laut, bahkan ada yang diawetkan.

Tapi berdasarkan pengamatan para ahli, proses pemakaman tradisional itu dianggap kurang ramah lingkungan karena banyak mengandung unsur atau benda yang sulit terurai. Sekarang kalau sejam aja ada ribuan pemakaman, berarti setahun ada jutaan benda asing ikut terkubur di dalamnya dong? Padahal benda itu bisa mengganggu ekosistem dalam tanah. Menanggapi ini, banyak orang yang mulai menawarkan pemakaman ramah lingkungan lho. Selain bermanfaat buat alam, ternyata pemakaman yang eco-friendly ini diyakini juga bakal jauh lebih murah dari traditional burial. Apa aja sih alternatifnya? Simak yuk rangkuman Hipwee News & Feature berikut ini.

1. Perusahaan Italia baru aja memperkenalkan konsep pemakaman organik yang mengubah batu nisan jadi pohon yang dibiarkan tumbuh

Makam manusia ‘ditumbuhkan’ jadi pohon via theheartysoul.com

Advertisement

Kalau selama ini kita terbiasa dengan kuburan berbatu nisan, mungkin kamu akan tertarik dengan apa yang dilakukan Capsula Mundi, perusahaan asal Italia ini. Mereka menawarkan ide kuburan organik dengan menempatkan tubuh manusia ke dalam kapsul biodegradable. Lalu kapsul itu akan dikubur bersama bibit pohon atau tanaman. Benih itulah yang nanti akan tumbuh jadi pohon. Orang jadi tidak lagi memerlukan batu nisan untuk menandai makamnya. Selain unik, inovasi ini bisa membantu menambah jumlah pohon dan mengurangi polusi.

2. Ada juga ilmuwan yang mencoba membuat “kostum” ramah lingkungan. Nantinya jenazah akan dibungkus pakai kostum itu lalu dikubur

Infinity burial, langsung menyatu dan menyuburkan tanah via upliftconnect.com

Nama konsep ini adalah infinity burial. Kunci dari proses pemakaman ini ada pada baju yang dibalutkan ke tubuh jenazah. Baju ini dibuat dari bahan yang mudah terurai, seperti jamur. Nantinya baju jamur itu akan membantu pembentukan kompos dari tubuh manusia. Kompos itulah yang berfungsi buat menyuburkan tanah di sekitarnya. Konsep macam ini jelas bakal membawa banyak manfaat jangka panjang sih, makanya namanya ‘infinity‘.

3. Kalau mau tetap pakai cara umum, bisa diakali dengan memakai peti mati dari bahan eco-friendly, misalnya kayu daur ulang, anyaman bambu, dll

Peti mati dari rumput laut via www.pinterest.com

Selama ini peti mati dibuat dari papan kayu yang diwarnai pakai cat penuh dengan bahan kimia. Padahal bahan semacam itu bisa mencemari tanah tempat peti mati dikuburkan. Solusi dari masalah ini sebenarnya mudah aja, yakni membuat peti dari bahan yang ramah lingkungan, seperti kayu daur ulang atau anyaman bambu. Di Cina, banyak orang menguburkan abu kerabatnya pakai guci yang juga sulit diurai. Tapi sekarang sudah banyak perusahaan yang menciptakan guci biodegradable yang aman dikubur atau dihanyutkan ke danau.

4. Kain kafan juga sebenarnya bisa lho dibuat dari bahan yang lebih ramah untuk lingkungan, contohnya dari kapas, wol, atau daun pisang

Kain kafan ramah lingkungan via forestrestnaturalcemetery.com

Advertisement

Kalau di Indonesia mungkin kita lebih akrab dengan kain kafan. Sebenarnya biar lebih ramah lingkungan, kita juga bisa membuat kain kafan dari bahan-bahan alam yang bisa kembali lagi ke alam alias terurai dengan sempurna lho. Pilihannya bisa pakai kapas, wol, atau bahkan daun pisang. Tinggal gimana kreativitas orang membuatnya aja.

5. Daripada dibuang, abu yang dihasilkan dari proses kremasi mungkin bisa diubah jadi perhiasan atau benda-benda yang bisa disimpan

Abu diubah jadi perhiasan via www.boredpanda.com

Banyak tuntutan adat yang membuat orang tidak bisa lepas dari proses kremasi. Setiap ada kerabat yang meninggal, tubuhnya dibakar hingga menjadi abu. Abu itu ada yang disimpan, ada juga yang dihanyutkan ke laut atau danau. Daripada mencemari lingkungan, abu bisa diubah jadi perhiasan, atau benda lain yang bisa disimpan, kayak vas dan pensil. Meski begitu kremasi dengan pembakaran terbuka sangat tidak disarankan karena bisa melepaskan polutan berbahaya seperti merkuri dan karbon dioksida ke atmosfer.

Diam-diam, prosesi pemakaman tradisional memang jadi ketakutan tersendiri bagi sebagian orang, ini karena biayanya yang cenderung mahal. Di Amerika, proses pemakaman dari A-Z kadang bisa menghabiskan biaya sampai Rp72 juta! Makanya, teknik penguburan ramah lingkungan ini mulai dilirik masyarakat dunia. Karena selain bermanfaat buat lingkungan, biaya yang dikeluarkan tidak sebesar traditional burial.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya