Kalau di Indonesia tampaknya makin banyak yang punya cita-cita nikah muda, tren sebaliknya justru sedang terjadi di Jepang. Menurut laporan terbaru, sebagaimana dilansir dari Japan Times, 1 dari 4 pria dan 1 dari 7 wanita Jepang kini memilih untuk tetap single sampai umur 50 tahun. Itu angka ‘ke-jomblo-an’ yang tinggi banget lho guys! Bahkan katanya,  nggak jarang juga orang Jepang sekarang secara sadar memutuskan untuk jadi jomblo seumur hidup. 

Meski realita itu berlaku secara umum, ternyata alasan kenapa pernikahan jadi semakin tidak menarik di mata orang Jepang itu beda banget antara cowok dan cewek. Terutama bagi cewek Jepang, soal menikah ini jadi dilema yang rumit banget. Bahkan bisa jadi jauh lebih rumit dibandingkan di negara lain di dunia, sampai-sampai pemerintahnya bilang meningkatkan angka pernikahan dan romance di Jepang itu jadi prioritas utama. Kenapa? Yuk cari tahu alasannya bareng Hipwee News & Feature!

1. Sama sekali bukan karena matre, tapi biaya hidup yang tinggi membuat wanita Jepang ingin persiapkan masa depan dengan sibuk berkarier dulu

biaya hidup tinggi via unsplash.com

Advertisement

Jepang terkenal sebagai salah satu negara dengan biaya hidup tinggi di dunia. Inilah yang menjadi salah satu penyebab wanita Jepang nggak mau nikah buru-buru. Mereka lebih memilih sibukkan diri dengan berkarier demi masa depan terjamin. Seakan-akan hidup wanita Jepang hanya disibukkan kerja dan nggak ada waktu untuk pacaran. Menikah berarti harus siap bangun rumah tangga dari awal. Harus siap punya biaya makan, minum, tempat tinggal, sekolah, dan sebagainya.

Kebayang dong kayak gimana ribetnya berkeluarga kalau nggak punya persiapan finansial yang matang? Makanya, mereka enggan nikah muda dan sibuk berkarier dulu.

2. Saat berkarier pun wanita Jepang harus pintar atur keuangan. Maklum, pendapatan lulusan S1, S2, dan S3 ternyata nggak seberapa yang cuma cukup untuk biayai hidup sendiri ~

pendapatan nggak seberapa via unsplash.com

Punya pekerjaan tetap belum tentu jadi jaminan hidup. Untuk mempersiapkan keuangan berumah tangga, wanita Jepang harus pintar atur pendapatan setiap bulannya. Dari data survei, penghasilan rata-rata lulusan S1 di Jepang sebesar 200 ribu yen per bulan atau sekitar 20 juta rupiah. Di sisi lain, pendapatan untuk lulusan S2 sebesar 220 ribu yen, dan S3 sekitar 300 ribu yen. Jumlah tersebut biasanya cuma cukup membiayai hidup sendiri untuk bayar apartemen, listrik, internet, pajak, dan lain-lain.

Advertisement

Karena itu, wanita Jepang akan mencari calon suami yang punya penghasilan lebih dari 460.000 Yen per bulan atau sebesar 46 juta rupiah. Angka tersebut adalah rata-rata pendapatan dari suami dan istri bekerja. Well, semakin tinggi pendapatan suami, maka wanita Jepang akan merasa hidupnya terjamin.

3. Nggak jauh berbeda dengan Indonesia, wanita Jepang yang sudah menikah diharapkan oleh suaminya lebih banyak di rumah. Sekalipun bekerja, biasanya cuma diizinkan part time doang ~

lebih banyak di rumah via unsplash.com

Hal satu ini nggak jauh berbeda dengan kondisi wanita Indonesia yang sudah menikah. Ya, wanita Jepang pun diharapkan lebih banyak habiskan waktu di rumah untuk mengurus keluarga. Para suami di Jepang kebanyakan enggan punya istri yang masih sibuk bekerja. Sekalipun diizinkan, wanita Jepang biasanya cuma diizinkan kerja part time doang. Nah, inilah yang jadi masalah bagi wanita Jepang sekarang.

Dengan berada lebih banyak di rumah urus anak dan suami doang, mereka menganggap kehidupan setelah menikah penuh hal sia-sia. Pendidikan tinggi dan karier yang dulu dimiliki seakan-akan hilang karena berkeluarga.

4. Kebebasan berkurang gara-gara banyak di rumah dan harus berhemat setelah menikah. Wanita Jepang pun makin ogah nikah

kehidupan setelah menikah dianggap sia-sia via qz.com

Sering berada di rumah bukan berarti para istri di Jepang bebas haha-hihi nongkrong bareng teman di luar. Kenyataannya, biaya hidup tinggi membuat mereka harus berhemat supaya hidup sehari-hari aman terjamin. Sudah nggak kerja, cuma urus keluarga dan rumah doang, eh sekalipun keluar rumah kalau ada perluanya saja. Tuh, gimana wanita Jepang nggak bete sama kehidupannya setelah nikah?

5. Wanita Jepang yang sudah nikah belum tentu pengen cepat punya anak. Banyak yang menunda kehamilan karena keuangan belum siap

enggan cepat punya anak via www.japantimes.co.jp

Belum tentu saat sudah menikah, pasangan suami-istri akan langsung punya anak. Karena saking khawatirnya dengan biaya hidup tinggi, wanita Jepang banyak yang masih enggan cepat memiliki momongan. Mereka akan menunda kehamilan dulu sampai finansialnya siap. Karena bagi wanita Jepang nggak cuma cukup sekolah, tapi juga kebutuhan lainnya seperti les, kegiatan ekstrakulikuler, dan biaya hiburan untuk anak. Apalagi banyaknya orangtua yang hidup sendiri karena ditelantarkan anak karena sibuk kerja menjadi alasan tambahan mereka nggak mau punya anak, bahkan nggak mau menikah.

6. Menikah diinginkan cuma sekali seumur hidup karena wanita Jepang tidak mau urus perceraian yang biayanya nggak murah ~

lebih memilih karier via blog.gaijinpot.com

Wanita Jepang hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Karena mereka tidak mau bercerai yang akan menghabiskan biaya nggak sedikit. Maka dari itu dalam mencari pasangan, wanita Jepang nggak bakal mudah jatuh cinta. Terlebih dengan kehidupan mereka yang diisi dengan bekerja melulu dan nggak ada waktu untuk pacaran.

Nggak heran ya kenapa sekarang banyak wanita Jepang lebih memilih single daripada menikah. Dan sekalipun sudah menikah, mereka juga nggak mau segera punya anak. Biaya hidup yang tinggi ternyata menjadi alasan penting bagi mereka. Nah, kalau menurutmu sendiri gimana?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya