7 Fakta Suku Terasing Berbahaya di Pulau Sentinel yang Baru-baru Ini Tewaskan Misionaris Amerika

fakta seputar pulau Sentinel di India

Pernah membayangkan dirimu terdampar di pulau tak berpenghuni? Syukur-syukur kalau ternyata di pulau tersebut kamu tak bertemu dengan penduduk asli yang tak ramah dengan orang asing. Karena kalau ya, bisa jadi nasibmu akan berakhir nahas seperti sejumlah orang yang boleh dibilang cukup nekat mengunjungi pulau berpenduduk terasing seperti Pulau Sentinel Utara. Pulau yang dihuni penduduk Sentinel ini terkenal sangat terisolasi dan sangat tak ramah pada orang asing, untuk tujuan apapun.

John Allen Chau via meaww.com

Advertisement

Nah, baru-baru dunia dikejutkan dengan kabar seorang misionaris asal Amerika yang terbunuh saat berusaha menghampiri para penduduk Sentinel. Sebagaimana dilansir CNN, misionaris John Allen Chau tersebut dikabarkan tewas terkena panah penduduk pulau Sentinel Utara tersebut dan para nelayan mengaku melihat jasadnya dikuburkan di tepian pantai. Proses evakuasi diakui cukup sulit karena kondisi yang berbahaya. Seperti apa sih sebenarnya pulau kecil  yang terletak dalam gugusan Kepulauan Andaman di Teluk Benggala ini dan kenapa disebut-sebut sebagai pulau paling berbahaya di dunia? Simak ulasannya dalam Hipwee News and Feature berikut ini ya.

1. Pulau Sentinel terletak di gugusan kepulauan Andaman Nikobar, di Teluk Benggala. Meski masuk dalam kawasan India, pulau ini cukup dekat lo dengan wilayah Indonesia

Pulau Sentinel di peta via movingshoe.com

Pulau kecil dengan luas kurang lebih sekitar 60 km2 persegi ini berada di sebelah barat bagian selatan Pulau Andaman Selatan dan sebagian besar wilayahnya diliputi oleh hutan. Pulau ini letaknya cukup jauh dari pemukiman utama manusia di Pulau Andaman besar dan dikelilingi oleh terumbu karang dan tak memiliki pelabuhan alam.

2. Berukuran sangat kecil, pulau ini pun hanya dihuni oleh sekitar 80-100 penduduk. Tak ada orang yang benar-benar pernah melakukan kontak langsung secara mendalam dengan penduduk setempat

Penduduk Sentinel Utara cuma pernah difoto dari jauh seperti ini via movingshoe.com

Dianggap sangat berbahaya bagi pendatang, dilansir dari laman Kumparan, pada tahun 1956, pemerintah Andaman dan Nikobar mengeluarkan amandemen untuk melindungi suku yang berada di Kepulauan Andaman dan Nikobar dan menyatakan seluruh Pulau Sentinel Utara sebagai cagar alam (Andaman and Nicobar Protection of Aboriginal Tribes Regulation). Tak hanya itu, Angkatan Laut India memberikan batas aman sejauh 4,8 kilometer dari Pulau Sentinel Utara dan batas tersebut tidak boleh dilalui oleh siapapun setelah mendapati penduduk lokal tersebut sempat menyerang helikopter yang terbang di atas pulau mereka.

Advertisement

Tindakan nekat yang dilakukan John memang sepatutnya jadi pelajaran, untuk lebih berhati-hati dalam mendekati pulau berbahaya. Pasalnya, mendekati pulau ini saja sudah dianggap ilegal dan berisiko, bahkan nelayan yang mengantar John ke pulau tersebut telah ditahan pemerintah India atas aksi ilegal mereka. 

3. Menjadi salah satu suku yang sangat tertutup dan terisolasi dari dunia luar, penduduk Sentinel disebut-sebut sebagai suku yang kehidupannya masih sama seperti Zaman Paleolitikum sekitar 55.000 tahun yang lalu

Suku Sentinel yang menjaga pulau mereka via www.abc.net.au

Orang-orang suku Sentinel terkenal sangat tertutup dan tak ingin melakukan kontak dengan pendatang asing. Kehidupan mereka masih sama bak masih di zaman batu tua atau paleolitikum, dimana mata pencaharian mereka adalah berburu dan mencari ikan di laut menggunakan peralatan sederhana seperti tombak, panah dan peralatan lainnya dari tumbuh-tumbuhan, batu dan kayu.

Dilansir dari laman Kumparan, para antropolog pun meyakini kalau Orang Andaman berasal dari Afrika yang bermigrasi ke Andaman ribuan tahun lalu. Atlas Obscura pun menggambarkan fisik mereka sebagai manusia berkulit gelap seperti orang Afrika dan memiliki rambut peppercorn, rambut seperti orang Afrika yang terlihat seperti butiran jagung. Mereka juga tidak mengenakan kain tapi menggunakan dedaunan, benang dari serat, dan bahan lainnya.

Advertisement

4. Meski dianggap sebagai suku yang sangat anti dengan pendatang, seorang antropolog India pada tahun 1967 sempat berhasil mendekati pulau tersebut dan memberikan pendapatnya terhadap serangan suku Sentinel baru-baru ini

“Kalau sudah diperingatkan untuk menjauh jangan nekat. Hormati keinginan mereka.” via indianexpress.com

Dilansir dari laman The Economic Times India, TN Pandit, seorang antropolog India mengaku dirinya cukup terkejut akan berita penyerangan suku Sentinel terhadap John Allen Chau, misionaris Amerika yang tewas dalam kunjungannya ke pulau tersebut. TN Pandit mengaku, meski suku tersebut memang terkenal sangat tak menyukai kehadirian orang asing, seharusnya mereka tidak akan langsung membunuh. Biasanya mereka akan memberikan sinyal dan peringatan untuk menjauh dalam bahasa lokal (yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri) dan melalui bahasa tubuh. Mereka yang mengabaikan sinyal tersebutlah yang biasanya berakhir dengan tragis.

5. Sebagai satu-satunya Antropolog yang berhasil memimpin timnya mengunjungi sekilas pulau Sentinel, TN Pandit dapat memberikan sedikit gambaran pemukiman suku terisolasi ini

Hanya Pandit dan timnya yang pernah bertemu langsung dengan orang Sentinel via indianexpress.com

TN Pandit menuturkan, dalam kunjungannya untuk administrasi Anthropological Survey of India and the Andaman pada tahun 1967 bersama 20 orang yang beranggotakan polisi, administrator lokal dan anggota Angkatan Laut menumpang sebuah perahu kecil. Meski tak bertemu langsung dengan penduduk, mereka mendapati kelompoknya diawasi oleh para penduduk setempat.

Mereka pun menemukan sekitar 18 pondok hunian penduduk setempat, yang meskipun kosong diyakini ditinggali secara aktif karena ditemukan perapian-perapian yang baru digunakan dan bahan-bahan makanan seperti buah hutan dan ikan asap. Tak ditemukan banyak hal lain selain peralatan senjata untuk berburu mereka dan perkakas lain untuk kebutuhan sehari-hari. Selama satu jam, mereka mengobservasi lingkungan setempat dan berhasil kembali dengan selamat.

6. Pada kunjungan-kunjungan berikutnya, Pandit dan timnya berkesempatan membagikan hadiah seperti kelapa, perkakas plastik dan alat-alat kebutuhan rumah tangga lainnya

Suatu pencapaian lo, ini via indianexpress.com

Setelah beberapa kali menjatuhkan barang-barang hadiah – yang sangat disukai oleh para penduduk pulau – pada tahun 1991, TN Pandit berhasil menyerahkan buah kelapa secara langsung, dari tangan ke tangan kepada penduduk lokal setempat. Penduduk tersebut mencoba berkomunikasi namun sayangnya Pandit dan timnya tak bisa memahami.Mereka pun tetap sama sekali tak diizinkan memasuki pulau tersebut, selain di tepian pantai. Keinginan mereka tentu harus dihormati sehingga tim Pandit mencapai kesimpulan, suku Sentinel benar-benar menolak kehadiran orang asing memasuki pulau mereka.

7. Ada beberapa alasan rasional kenapa suku ini menolak keras kehadiran orang asing. Imun tubuh yang rendah jadi salah satunya

Semoga nggak ada John lainnya ya via www.theguardian.com

Sebagai suku terasing yang mengisolasi diri ribuan tahun lama dari sentuhan pengaruh luar, wajar kalau penduduk di pulau ini sangat rentan terhadap kehadiran virus-virus dunia luar. Berbeda dengan kita, mereka sangat rentan terserang flu, measles dan penyakit-penyakit menular lainnya. Selain itu, trauma masa lalu terhadap kedatangan orang asing membuat mereka menganggap kedatangan pendatang asing sebagai invasi yang mengancam kelangsungan pulau mereka.

Untuk saat ini, India memang cukup bijaksana dengan menetapkan larangan bagi siapapun untuk mendekati pulau berbahaya ini atas dasar apapun. Jika dibiarkan, tidak mustahil mungkin suatu saat suku ini dapat punah, namun mengingat kemampuan bertahan hidup mereka yang cukup luar biasa berpuluh ribu tahun, bahkan setelah hantaman tsunami beberapa tahun silam jadi bukti, bahwa membiarkan suku ini tetap terisolasi dan tak tersentuh modernisasi bisa jadi adalah opsi terbaik yang bisa dipilih pemerintah India bagi pulau ini. Kalau kamu menurut kamu gimana?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE