Menjadi bagian dari sebuah negara yang paling terisolasi di dunia mungkin adalah imajinasi kelam yang bahkan kamu enggan membayangkannya. Sebagai negara yang menjaga jarak dengan ekonomi multinasional dan menjalin permusuhan dengan banyak negara lain, Korea Utara bisa jadi sebuah negara terakhir yang ingin ditinggali.

Krisis pangan hingga ketatnya peraturan pemerintahnya nggak jarang bikin para penduduk asli Korea Utara ingin melarikan diri dari sana. Sebagian berhasil mencapai Cina, hidup terombang-ambing, hingga mendarat di Korea Selatan. Sebagian yang terlanjur ketahuan, hukumannya tak lain adalah nyawa sendiri. Dilansir melalui wawancara intens tim Asian Boss kepada para pelarian dari Korea Utara, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Yuk simak langsung uraian Hipwee News & Feature berikut!

Melarikan diri dari Korea Utara adalah perjuangan antara hidup dan mati. Apalagi setelah Kim Jong Un berkuasa, empat generasi bisa hilang nyawa

Tentara yang berjaga di perbatasan via www.omnilit.com

Advertisement

Terpisahnya Korea Utara dan Korea Selatan akibat perang dingin berimbas pada bagaimana kedua negara ini menjalankan pemerintahan. Kehidupan di Korea Utara, seperti yang banyak diketahui orang, penuh dengan berbagai kesulitan. Mulai dari terisolasi sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan negaranya secara mandiri, hingga rezim komunis yang sangat tegas dan ketat mengatur warganya. Janganlan teknologi, bahan makanan saja sangat sulit didapatkan.

Melarikan diri dari Korea Utara tak semudah kelihatannya. Negara yang berbatasan langsung dengan Cina ini memang memungkinkan warga untuk menyeberangi sungai dan menuju ke negeri tirai bambu tersebut. Namun, tentara perbatasan yang berjaga dengan senapan bisa setiap saat menembak para pelarian. Pada masa pemerintahan Kim Jong Un, bukan hanya pelarian saja yang akan ditembak mati jika kedapatan berusaha melanggar perbatasan. Kim Jong Un bahkan menghukum mati keluarga calon pelarian hingga empat generasi. Generasi kakek, orang tua, anak, dan cucu.

Korea Selatan adalah negara yang mau menampung para pelarian. Tapi menuju ke sana membutuhkan tekad sekuat baja

Korea Selatan menerima pelarian dari Korea Utara via www.returnofkings.com

Tujuan kebanyakan pelarian warga Korut untuk kabur adalah Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan menerima dengan tangan terbuka warga serumpunnya yang kabur dari perbatasan dan memberikan mereka identitas kependudukan. Namun perbatasan Korea Utara ke Korea Selatan punya penjagaan yang berkali lipat lebih ketat. Seringnya mereka harus melarikan diri ke Cina terlebih dahulu lalu hidup sebagai imigran gelap. Di Cina, mereka pun harus bermain ‘petak umpet’ karena imigran gelap dari Korut akan dikembalikan ke negaranya dan otomatis akan dihukum mati. Untuk itu, seringnya para pelarian ini pergi ke Mongolia, Libanon, Laos dan terus berlarian hingga mencapai ke Korea Selatan dan merdeka.

Ketika perjuangan melelahkan itu membuahkan hasil, cerita para pelarian dari Korea Utara seakan mengajak kita menitikkan air mata

Narasumber Asian Boss via www.youtube.com

Advertisement

Seorang pelarian dari Korea Utara menceritakan kepada Asian Boss tentang kisahnya sambil terharu. Ia pernah menyaksikan langsung seorang anak menghadapi kematian akibat kelaparan. Ketika berusia 12 tahun, ia juga menyaksikan langsung eksekusi kematian yang ketika itu wajib dihadiri seluruh warga. Tentara menembaki seorang pencuri hasil tambang yang diikat di tiang. Setelah banyak hal ia hadapi, akhirnya ia sampai di bandara Incheon Korea Selatan dan langsung menitikkan air mata. Sambutan “Selamat datang di Korea Selatan” yang diucapkan oleh pramugari tak kuasa membuatnya menahan tangis.

Memulai hidup baru yang sepenuhnya berbeda, para pelarian dari Korea Utara harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup modern Korea Selatan

Konon ambisi orang-orang Korsel sungguh besar via www.10mag.com

Sebagai orang yang tinggal di daerah terisolasi, banyak pelarian Korea Utara yang gelagapan dengan kota-kota modern di Korea Selatan. Bahkan, Sunny, salah satu pelarian mengaku bingung ketika menaiki bus kota di Seoul, ia bahkan tidak mengerti cara kerja pembayaran digital. Para pelarian harus berusaha keras menghadapi modernitas dan menyesuaikan diri dengan teknologi serta persaingan kerja di Korea Selatan.

Seorang narasumber Asian Boss mengaku pernah berniat bunuh diri karena tidak tahan dengan kehidupan sosial di Korea Selatan. Ia tidak sanggup mengimbangi persaingan belajar dengan sesama teman kuliah dimana ia menempuh pendidikan. Namun, ketika teringat kembali bagaimana perjuangannya mencapai Korea Selatan, ia mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidup.

“Aku sudah pergi sejauh ini, bepergian dan memperjuangkan hidupku dari kematian. Jika aku mengakhiri hidup ketika itu, lalu apa yang kuperjuangkan hanyalah sia-sia”

Yang bikin heran, para pelarian dari Korea Utara mengaku kehidupan di negara asalnya tetap jauh lebih membahagiakan

Kebahagiaan orang Korea Utara via vice.com

Ada yang menarik ketika para pelarian dari Korea Utara ditanyai soal pendapatnya tentang Korea Selatan. Meski Korea Selatan termasuk negara yang kaya dan maju, mereka menilai kehidupan orang Korea Selatan tampak tidak bahagia. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain dan memiliki hubungan sosial yang cenderung renggang.

Sedangkan di Korea Utara, meski sulit memiliki harta benda dan dirundung kemiskinan, namun dikatakan bahwa penduduk-penduduknya selalu tampak bahagia. Mereka menghabiskan waktu bersama keluarga dan tertawa riang. Hubungan sosial satu sama lain sangat dekat. Bagi sebuah negara yang menganggap nasi saja sebagai makanan mewah, kenyataan yang ada justru sebaliknya. Hal itulah yang menyebabkan kehidupan di Korea Utara tidak berkonflik, meski dirundung berbagai kesulitan.

Melalui cerita ini, kita diajarkan untuk kembali bercermin. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Korea Utara justru membuat merekamakin dekat satu sama lain, saling mengasihi satu sama lain. Sehingga meski negaranya melarat, mereka merasa sangat bahagia. Sedangkan Korea Selatan yang merupakan negara maju dengan segala modernitasnya justru tanpa sengaja menciptakan kondisi yang membuat banyak penduduknya tertekan. Saatnya kita kembali bertanya pada diri sendiri, sebenarnya kehidupan seperti apakah yang kita cari?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya