Popularitas sedotan stainless steel atau sedotan besi meningkat pesat setelah orang ramai menyuarakan #NoPlasticStrawMovement atau gerakan tanpa sedotan plastik. Seperti kita semua tahu, bumi kita ini sedang darurat sampah plastik. Setidaknya ada 8 juta sampah plastik yang saat ini mengambang di lautan, dengan 2 juta di antaranya berasal dari sedotan plastik. Padahal plastik-plastik itu nggak bisa terurai.

Berangkat dari keinginan menyelamatkan bumi, para aktivis lingkungan mengajak publik untuk beralih dari sedotan plastik ke sedotan besi. Namun belakangan terungkap, kalau ternyata sedotan besi ini bukanlah solusi yang bijak-bijak banget, mengingat terdapat sejumlah sisi “gelap” di balik pembuatannya. Waduh, apa aja ya fakta-faktanya?

1. Banyak yang merasa bangga bisa pakai sedotan stainless steel waktu lagi nongkrong di kafe. Padahal sedotan ini sudah bermasalah bahkan sebelum digunakan

Lubang bekas tambang yang berbahaya via sains.kompas.com

Advertisement

Sedotan besi terbuat dari campuran besi, karbon, dan kromium, yang dalam pembuatannya melibatkan penebangan pohon dan penggalian tanah. Seperti dikutip dari GenPi, proses kimia juga perlu dilakukan agar besi dan kromium bisa dimurnikan dari mineral lain. Lubang bekas tambang seringkali dibiarkan begitu saja, hingga membentuk “danau” buatan yang berbahaya.

Danau ini bisa berbahaya bagi anak-anak yang hidup di sekitarnya karena mereka bisa saja terpeleset dan tenggelam ke dasar danau. Belum lagi kandungan airnya yang berbahaya karena sudah bercampur dengan sisa-sisa logam.

2. Pun saat logam-logam ini diproses lagi ke pabrik, pengolahannya akan menghasilkan limbah yang banyak meracuni lingkungan sekitar, termasuk sungai-sungai di sekitarnya

Mencemari sungai via www.tribunnews.com

Sungai Citarum di Jawa Barat jadi salah satu sungai paling tercemar di Indonesia. Wujudnya aja udah kayak bukan sungai karena airnya yang menghitam. Ini disebabkan oleh limbah-limbah buangan pabrik yang ada di sekitar aliran sungai tersebut, termasuk pabrik yang memproduksi sedotan besi yang sering kita bangga-banggakan itu. Limbah ini tentu saja membahayakan warga yang sehari-harinya mengakses air di sungai, atau saluran air umum.

3. Selain itu, energi yang diperlukan untuk membuat sedotan besi ternyata jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sedotan plastik

Butuh energi lebih besar via m.erabaru.net

Advertisement

Menurut sebuah riset yang dilakukan peneliti di Humboldt State University, untuk membuat 1 sedotan plastik dibutuhkan energi 23.700 joule energi. Sedangkan untuk membuat 1 sedotan besi, butuh energi sebesar 2.420.000 joule! Energi ini dipakai selama proses produksi, mulai dari menyiapkan bahan, pembentukan, sampai terbentuk hasil akhir.

Nah, semakin besar energi, ternyata ongkos atau biaya yang dibutuhkan pun semakin besar. Jadi kebayang ‘kan berapa banyak biaya yang diperlukan untuk membuat 1 sedotan stainless steel?

4. Nggak cuma sampai di situ, pembuatan sedotan besi juga turut menyumbangkan karbondioksida ke udara. Waduh, udah bikin polusi air, ternyata bikin polusi udara juga ya!

Menyebabkan polusi udara via interestingengineering.com

Sebagai perbandingan, pembuatan 1 sedotan plastik menghasilkan 1,47 gram karbondioksida (Co2), sementara 1 sedotan stainless steel menghasilkan hampir 200 kali lipat CO2 atau sekitar 217 gram! Selain menyebabkan polusi air, nyatanya produksi sedotan besi juga meninggalkan polusi udara yang nggak kalah mengkhawatirkan.

Banyaknya kerugian yang ditimbulkan dari pembuatan sedotan besi ini membuat posisinya sebagai “penyelamat” bumi patut dipertanyakan. Ibaratnya sedotan besi hanya mengalihkan masalah dari hilir ke hulu aja. Eits, tapi jangan sampai fakta-fakta di atas kalian jadikan pembenaran buat balik lagi ke sedotan plastik ya. Soalnya, masih ada solusi lain yaitu dengan beralih ke #GerakanMinumTanpaSedotan!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya