Paus Ditemukan Mati dengan Ratusan Plastik dan Sandal Jepit di Perutnya. Asli, Bikin Nggak Tega!

Perut paus mati di Wakatobi penuh dengan plastik

Bicara soal sampah plastik memang nggak ada habisnya. Masalahnya, jumlah sampah ini terus bertambah setiap harinya. Tapi mirisnya, belum ada penanggulangan yang cukup berarti buat mengatasi masalah lingkungan satu ini, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Nggak jarang juga kita tahu kalau sampah-sampah plastik ini sampai bisa melukai bahkan membunuh biota laut tak berdosa. Seperti video yang belum lama ini diunggah Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. Video itu menunjukkan penyu yang hidungnya kemasukan sedotan plastik!

Advertisement

Nggak cuma penyu, binatang laut yang sering jadi korban sampah plastik adalah paus. Di tepi perairan Wakatobi, baru saja ditemukan paus sperma yang mati dengan tubuh sudah membusuk. Isi perutnya terburai. Yang mengagetkan, di dalam perutnya juga ditemukan ratusan plastik, bahkan juga sandal jepit dan botol! Meskipun belum diketahui penyebab pasti kematian paus malang ini, tapi kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. Mari simak uraian Hipwee News & Feature berikut ini.

Paus jenis sperm whale ditemukan mati membusuk di tepi perairan Wakatobi. Paus sepanjang 9,6 meter ini diketahui membawa sampah plastik seberat 5,9 kg dalam perutnya

Paus yang mati di Wakatobi via www.thejakartapost.com

Senin (19/11) kemarin, warga di sekitaran Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dikejutkan dengan penemuan bangkai paus raksasa sepanjang 9,6 meter di tepi perairan. Paus jenis sperm whale atau paus kepala kotak (Physeter macrocephalus) ini diketahui sudah mati berhari-hari karena kondisinya sudah membusuk. Bagian perutnya terbelah sehingga isinya terburai. Mirisnya, di dalam perutnya juga ditemukan ratusan sampah plastik, mulai dari tutup galon, botol plastik, tali rafia, sobekan terpal, botol parfum, jaring, kresek, piring dan gelas plastik, hingga sandal jepit!

Advertisement

Meskipun jelas ada setumpuk sampah plastik dalam tubuh paus malang ini, tapi belum bisa dipastikan apakah paus itu mati murni karena menelan plastik

Sampah plastik yang ditemukan di dalam perut paus via news.detik.com

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lewat Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam, Dr Ir Augy Syahailatua, menyatakan pihaknya pun belum bisa memastikan penyebab utama kematian paus sperma itu. Katanya belum tentu sampah plastik jadi satu-satunya faktor si paus mati. Bisa jadi karena faktor usia atau sakit. Tapi ikan yang menelan sampah memang jelas berisiko mengalami gangguan kesehatan karena plastik nggak bisa dicerna oleh tubuh hewan.

Terlepas dari apa penyebab utama kematian paus, keberadaan tumpukan sampah di perutnya itu tentu jadi pukulan telak bagi kita manusia sebagai satu-satunya makhluk pengguna plastik. Pasalnya kejadian semacam ini nggak baru sekali saja terjadi. April 2018 lalu, ada juga seekor paus di perairan Thailand yang mati setelah menelan 8 kilogram sampah plastik! Sedihnya, paus itu sebelumnya tampak terombang-ambing di lautan, seperti sudah merasakan sakit tak tertahankan. Warga dan petugas setempat sempat merawat paus pilot tersebut selama beberapa hari, sebelum akhirnya ia mati sia-sia.

Apalagi katanya, Indonesia adalah negara pencemar plastik terbesar kedua setelah Cina! Duh, apakah ini artinya semakin banyak juga hewan-hewan laut kita yang keberadaannya terancam?

Indonesia polutan plastik terbesar kedua via www.rumahku.com

Produk plastik di Indonesia memang nggak perlu diragukan lagi popularitasnya. Coba deh dihitung, hari ini saja, sudah berapa banyak produk plastik yang kamu gunakan, seperti tas kresek, sedotan, atau cup plastik? Itu baru kamu saja lo, belum orang-orang lain. Bisa dibayangkan ada berapa banyak plastik sekali pakai yang terbuang selama ini. Sebagaimana dilansir dari The New York Times, Indonesia bahkan tercatat sebagai negara polutan plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Itu juga bisa berarti bahwa hewan atau satwa yang hidup di perairan negeri ini sedang menghadapi ancaman kontaminasi plastik yang relatif lebih tinggi daripada di negara maupun wilayah lain. Miris ya 🙁

Advertisement

Menyadari fakta miris di atas, sudah seharusnya pemerintah punya terobosan baru yang lebih efektif buat menanggulangi masalah ini. Kita benar-benar perlu gerak cepat dan nyata guys!

Produk plastik masih banyak dipakai via www.jpnn.com

Selama ini, mungkin kita memang sudah sering lihat adanya gerakan yang mengampanyekan soal bahaya sampah plastik buat lingkungan. Gerakan itu juga bertujuan mendorong masyarakat beralih ke produk-produk non-plastik, seperti sedotan stainless steel atau kantong belanja dari bahan yang bisa terurai. Di banyak supermarket atau minimarket juga sudah mulai memberlakukan kantong plastik berbayar, seperti kebijakan yang dikeluarkan pemerintah beberapa waktu lalu.

Tapi dalam praktiknya, masih banyak dari kita yang lebih memilih membayar demi mendapat tas kresek daripada harus bawa tas dari rumah. Masih sulit juga mengubah mindset masyarakat untuk menolak sedotan plastik tiap jajan es teh di warung-warung.

Intinya, sampah plastik masih jadi PR besar buat pemerintah dan juga kita semua sebagai “penghuni” bumi ini. Sedih lo setiap melihat atau mendengar cerita binatang-binatang laut harus kehilangan nyawanya cuma gara-gara sampah plastik. Jadi, yuk lah mengubah kebiasaan memanjakan pakai produk plastik, dimulai dari diri sendiri dulu~

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

CLOSE