Kebanyakan ibu-ibu zaman sekarang menggunakan popok sekali pakai untuk anak bayinya dari lahir hingga nantinya dilatih untuk minta buang air kecil. Bayangkan saja, bila misalnya anak menggunakan popok hingga usia tiga tahun dan setiap hari menghabiskan rata-rata empat popok, maka sampah popok bekas tentu saja sangat banyak. Kebanyakan dari sampah tersebut akan berakhir tong sampah. Bahkan karena tidak pernah diolah secara khusus dengan benar, sampah popok bekas sekali pakai pun seringkali terbawa hingga ke sungai dalam bentuk utuh.

Hal itulah yang terjadi di Sungai Brantas, Jawa Timur. Sebanyak 1,5 juta sampah popok bekas sekali pakai dibuang di Sungai Brantas. Menurut National Geographic, nggak hanya di Sungai Brantas aja yang banyak sampah popok bekasnya, tetapi, sungai di Jawa Tengah dan Yogyakarta pun juga menjadi sarang popok bekas. Yuk kulik lebih dalam bersama Hipwee News & Feature~

Sungai kini sedang darurat sampah popok bekas sekali pakai. Beberapa sungai di Pulau Jawa menjadi ‘tempat sampah’ untuk jutaan popok bekas

Popok bekas banyak ditemui di sungai-sungai di Pulau Jawa via www.radarcirebon.com

Advertisement

Salah satu sungai yang kondisinya sangat memperihatinkan adalah Sungai Brantas. Kata Aziz, koordinator aksi Brigade Evakuasi Popok (BEP), sekitar 37% dari semua sampah di Sungai Brantas merupakan popok bekas. Ini setara dengan 1,5 juta popok bekas pernah dibuang disana setiap harinya. Nggak hanya Sungai Brantas saja, menurut Kompas, Sungai Kali di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo juga menyimpan 5 kuintal sampah popok. Sedihnya, seperti diungkap oleh National Geographic, kasus serupa juga ditemui di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ini menunjukkan perilaku ibu-ibu pengguna popok sekali pakai yang masih belum sadar akan bahaya lingkungan jika membuang sampah popok di sungai.

Kebiasaan ini muncul karena adanya mitos turun temurun yang mengatakan bahwa membakar popok bekas akan membuat kulit anaknya iritasi

Mitos beredar bahwa popok bekas kalau dibakar bisa membuat kulit anak jadi iritasi via www.quora.com

Kebanyakan ibu-ibu membuang sampah popok di sungai karena mitos yang turun temurun diwariskan. Hal itu jadi salah satu cara membuang sampah popok yang benar agar kulit bagian pantat anaknya tidak mengalami iritasi atau kerap disebut suleten. Mitosnya, jika popok bekas dibakar, maka anaknya akan mengalami suleten. Padahal, suleten terjadi karena infeksi bakteri yang bisa menular ke bayi, bukan karena membakar sampah bekas popok. Ada juga ruam yang bisa terjadi pada bayi yang menggunakan popok tapi hal ini dikarenakan kulit bayi yang sensitif, gesekan dengan popok, dan juga kulit bayi terlalu lama berkontak dengan kotoran.

Padahal, sampah popok mengandung bahan-bahan yang berbahaya. Bahan tersebut bisa mencemari air sungai dan merusak ekosistem air disana

Popok seperti ini yang mencemari sungai via waste-management-world.com

Sampah popok kan biasanya masih mengandung kotoran manusia, nah itu membuat air sungai tercemar dengan bakteri E. coli. Nggak hanya itu aja, menurut National Geographic, 55% bahan pembuat popok sekali pakai adalah plastik, 60% adalah gel penyerap air, dan sisanya merupakan bahan lain. Nah, karena terbuat dari plastik, tentu saja bahan ini sulit terurai dan hanya berakhir jadi mikroplastik yang dimakan oleh ikan. Selain itu, kandungan dalam popok mengandung senyawa yang mirip dengan hormon estrogen sehingga mengganggu ikan yang hidup disana. Direktur Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan bahwa ikan asli Kali Surabaya, yaitu ikan Bader berkelamin ganda karena sampah popok lho~

Kalau di Belanda, sampah popok ini diberi ‘kesempatan kedua’ dengan mengolahnya menjadi benda lain yang bermanfaat seperti perabot rumah tangga

Sebelum mencemari lingkungan, popok bekas berhak dapat kesempatan kedua via www.youtube.com

Advertisement

Bahaya sampah popok ini sebenarnya juga dihadapi negara lain seperti Belanda. Sampai-sampai, ada perusahaan yang khusus mengelola sampah bekas popok. Sampah popok diubah menjadi perabotan rumah tangga seperti pot dan furnitur taman. Popok bekas diberi kesempatan kedua dengan cara membakarnya dalam suhu dan tekanan tinggi sampai nantinya meleleh. Setelah itu, lelehan didinginkan hingga didapat material yang mengambang. Material tersebut adalah plastik, salah satu bahan penyusun popok. Nantinya, plastik diolah kembali agar bisa menjadi perabot rumah tangga. Kabarnya, pabrik pengolahan ini akan beroperasi akhir tahun 2018.

Ada juga kok alternatif lain mengurangi sampah popok yaitu dengan menggunakan popok kain untuk bayi. Lebih hemat juga lho~

Pilih popok sekali pakai atau popok kain? via medium.com

Selain dengan cara daur ulang, sebenarnya ada langkah lain yang bisa dilakukan ibu-ibu untuk mengurangi sampah popok. Caranya dengan menggunakan popok kain yang bisa digunakan berulang kali ketimbang menggunakan popok sekali pakai yang menghasilkan sampah. Memang sih, menggunakan popok kain itu butuh komitmen untuk rajin mencuci popok, tapi biayanya lebih murah lho dibandingkan popok sekali pakai. Jika satu popok sekali pakai harganya Rp2.500,00 dan dalam sehari menggunakan empat popok, maka dalam setahun, biaya yang dikeluarkan bisa jutaan rupiah. Bandingkan saja dengan popok kain atau clodi yang cukup punya beberapa, bisa digunakan sampai waktu yang lama.

Ini kembali lagi ke ibu-ibu yang paling banyak jadi konsumen popok. Kalau mau menggunakan popok sekali pakai, sebaiknya dibuang dengan benar. Sedangkan kalau memang ingin menguranginya, gunakan popok kain saja deh..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya