Skull Breaker Challenge dan Alasan Kenapa Kita Hobi Banget Ngobral Nyawa. Nyawa Cuma Satu, woy!

Bahaya skull breaker challenge

Huft, rasanya sampai capek nulis artikel tentang challenge viral membahayakan nyawa di internet gini.

“Yha, kaLo g1tu g4k u5aH diTuL1s d0nG, m1n!”

Nggak bisa, ini tetap kudu ditulis biar kita semua sadar kalau ikut-ikutan tren berbahaya macam gini tuh sama sekali nggak keren dan malah menunjukkan kalau kita bego. Setelah Kiki challenge, Blue whale challenge, Cinnamon challenge, dan masih banyak lagi lainnya, sekarang ada lagi tantangan viral yang bernama Skull breaker challenge.

Advertisement

Tantangan ini muncul di aplikasi Tik Tok yang memang lagi naik daun banget. Di internet, video-video orang mencoba challenge ini langsung membludak, yang ikutan kebanyakan pelajar dan anak-anak muda. Tren ini bikin para ortu sedunia ketar-ketir. Di Indonesia, beredar pesan berantai di WhatsApp yang isinya imbauan kepada orangtua supaya hati-hati dan beneran nasihatin anaknya biar nggak ikut-ikutan norak. Soalnya di luar negeri udah banyak korbannya!

Skull breaker challenge adalah tantangan yang nggak banget, layak dihujat, dan yang ngikutin pantes dikasih bimbingan konseling. Apa sih goals-nya?

Skull breaker challenge via www.mbs.news

Serius ya, tantangan ini tuh cuma butuh waktu kurang dari 5 detik untuk dilakukan tapi bisa menghabiskan seumur hidup untuk penyesalan. Skull breaker challenge melibatkan 3 orang yang berbaris sejajar. Dua orang paling pinggir melompat terlebih dahulu, lalu diikuti orang yang berada di tengah. Saat yang di tengah lompat, dua orang di pinggir tadi menendang kaki si tengah sampai jatuh telentang.

Advertisement

Dari sekian banyak video beredar, ada satu video yang paling bikin ngilu. Ini karena orang apes yang ada di tengah itu tampak nggak sadar setelah jatuh telentang. Lihat videonya aja ngeri, kok ya orang-orang ini nggak takut bakal bikin temannya cedera.

Kenapa sih kita gampang banget ngobral nyawa? Seolah nyawa kita itu ada dua ratus? Risiko paling serius dari challenge ini tuh bisa menyebabkan kematian lo! Ya, minimal lumpuh lah…

Kalau udah begini siapa yang mau tanggung jawab? via www.rojakpot.com

Rasanya nggak perlu nanya ahli kesehatan dulu buat tahu risiko berbahaya dari tantangan skull breaker ini. Dilihat dari cara jatuhnya aja udah ketahuan kok kalau tantangan berisiko tinggi. Selain lumpuh, orang yang ditendang sampai jatuh ke belakang itu bisa mengalami gegar otak, patah tulang, pendarahan, hingga yang terparah kematian.

Manusia diciptakan dengan nyawa satu doang. Kenapa ya kita hobi banget mempertaruhkan nyawa buat suatu hal yang sia-sia dan nggak ada manfaatnya sama sekali? Bisa jadi alasan pertama adalah tren. Bagi kita manusia modern yang attach banget sama media sosial dan internet, seperti ada perasaan takut kalau-kalau ketinggalan tren. Pernah dengar FOMO atau Fear of Missing Out? Hipwee pernah bahas di sini. Nah, FOMO ini kemungkinan jadi salah satu alasan kenapa kita mau-mau aja ngikutin tren yang lagi viral. Simply biar nggak ketinggalan.

Advertisement

Dengan mengikuti tren dan berhasil, kita bisa dianggap keren sama lingkungan. Tapi kalau lingkungannya nggak ada yang “latah” sama tren itu yang ada malah dianggap alay sih

Nggak ada manfaatnya lo via jakartasatu.com

Jadi kunci sebenarnya adalah lingkungan. Kalau lingkungan kita atau orang-orang yang kita follow di medsos pada latah ikutan tren viral, tentu ada dorongan-dorongan buat melakukan hal serupa. Jika berhasil, bakal ada kebanggaan tersendiri sehingga bisa dipamerkan. Sebaliknya, kalau sekeliling kita nggak ada yang ikut-ikutan, malah lebih dominan yang ngatain alay, jelas kita enggan buat ikutan juga. Takut dibilang alay soalnya~

Balik lagi ke skull breaker challenge tadi. Di sejumlah negara tantangan ini malah udah banyak makan korban, kayak di AS ada yang gegar otak, sakit fisik dan mental, dan masuk UGD. Menanggapi tren viral ini, Tik Tok menyatakan kalau mereka nggak mengizinkan konten-konten semacam itu seliweran di platform-nya. Mereka akan menghapus konten-konten yang dilaporkan.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE