Selfie kini sudah jadi fenomena sosial dimana hampir semua orang di dunia melakukannya. ‘Selfie’ atau self-portrait ini sebenarnya sudah banyak dikenal sejak kamera pertama kali diciptakan. Cuma ya dulu memang masih butuh bantuan orang lain buat memotret sih. Tapi semenjak ada teknologi kamera depan, fenomena selfie ini jadi makin mudah dilakukan bahkan disebarkan, dengan bantuan media sosial.

Saking masifnya, mungkin banyak di antara kamu yang sampai bosan melihat foto selfie orang di media sosial, karena seringnya mereka mengunggah foto selfie-nya. Nggak peduli di rumah, di restoran, di cafe, di kampus, pokoknya dimanapun dan kapanpun! Hal itu nggak jarang membuat kamu dan mungkin juga sebagian besar orang lainnya, berangggapan kalau orang tersebut narsis, terlalu percaya diri, atau nggak sadar diri. Atau mungkin kamu justru orang yang doyan selfie tapi yakin sebenarnya nggak narsis. Nah sebelum menghakimi orang lain atau diri sendiri, yuk belajar bareng Hipwee News & Feature soal fenomena selfie yang ternyata sudah banyak jadi perhatian para peneliti lho!

Selfie identik dengan narsisme atau obsesi berlebihan pada diri sendiri. Nggak jarang juga semua penghakiman itu bermuara pada kesimpulan kalau orang suka selfie itu sombong

Selfie=narsis via bestcellphonespyapps.com

Advertisement

Sebenarnya selfie itu lebih dari sekedar bentuk dari anggapan kalau dirinya cantik atau ganteng. Di balik selfie, tersimpan sejuta motivasi. Setiap orang yang hobi selfie punya tujuan berbeda-beda. Ada yang ingin promosi diri, ada yang ingin menunjukkan orang-orang gimana kehidupan sosialnya, ada juga yang ingin mendapat pengakuan. Tapi apapun tujuannya, biasanya orang lain akan tetap memandang kebiasaan selfie itu cuma narsis belaka, buruk, dan nggak bermanfaat.

Padahal nggak selamanya narsis itu berkonotasi negatif. Menurut ahli, narsisme bisa digolongkan sebagai bentuk kepribadian

Bahkan narsis bisa jadi sehat via www.youtube.com

Percaya nggak, pada dasarnya kita semua ini punya sisi narsis lho. Kita suka mendapat perhatian. Bedanya ada yang dituangkan dan ada yang tidak. Orang hobi selfie termasuk barisan yang menuangkan narsisme dalam bentuk foto. Menurut Pamela Rutledge, profesor sekaligus direktur Media Psychology Research Center, dilansir Bustle, narsisme sebenarnya dikategorikan sebagai kepribadian atau sifat yang merefleksikan karakter.

Bahkan Rutledge menyebut ada ‘narsisme sehat’ yang justru bisa meningkatkan kesehatan mental seseorang. Orang yang narsis akan cenderung mencari apresiasi. Kalau di media sosial bentuk apresiasi ini bisa dilihat dari jumlah like, share, atau komentar. Apresiasi itu berguna untuk meningkatkan kegembiraan dan kepercayaan diri dimana akan berpengaruh pada kesehatan mentalnya juga.

Selfie juga bisa jadi cara tersendiri seseorang untuk menemukan dan mengekspresikan jati diri. Dengan begitu otomatis kepercayaan dirinya akan meningkat

Bisa meningkatkan kepercayaan diri via jackcanfield.com

Advertisement

Masa remaja adalah masa dimana seseorang masih sibuk mencari jati dirinya. Selfie di era media sosial ini bisa jadi salah satu caranya menemukan dan mengekspresikan jati dirinya kepada khalayak. Identitas inilah yang bisa menuntun mereka bisa berinteraksi dengan orang lain. Bayangkan aja kalau mereka nggak punya ‘label’ atas diri mereka sendiri, tentu akan sulit berkomunikasi dan memposisikan diri di masyarakat.

Tapi memang, hampir semua ahli sepakat kalau selfie berlebihan juga nggak baik. Malah bisa berujung pada bunuh diri

Body Dysmorphic Disorder (BDD) via lifewithalisse.blogspot.co.id

Dengan segala sisi positifnya di atas, tentu bukan berarti kita sah-sah saja mengunggah selfie setiap jam bahkan setiap menit. Ingat ya, semua yang berlebihan itu malah menuntun pada keburukan. Pun dengan selfie. Karena jika dilakukan tanpa ada batasnya, selfie justru akan memunculkan gejala kejiwaan seperti kecanduan, perasaan nggak pernah puas yang bisa berujung pada bunuh diri, dan Body Dysmorphic Disorder (BDD).

BDD ini disimpulkan dari penelitian yang dilakukan University of Strathclyde, Ohio University, dan University of Iowa, yang menemukan bahwa makin sering wanita melakukan dan mengunggah selfie ke media sosial, maka akan semakin mereka merasa nggak nyaman sama bentuk tubuhnya sendiri. Apalagi kalau sering mengamati selfie orang lain juga. Ini bisa memicu rasa tidak puas akan tubuhnya sendiri dan berusaha supaya badannya mirip orang lain. Kalau terus-terusan nggak puas, malah bisa berujung pada bunuh diri lho.

Pada akhirnya semua emang akan kembali ke diri kalian masing-masing sih. Selama ada alasan kuat dan masuk akal untuk melakukan selfie, rasanya sah-sah saja kok.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya