Belum lama ini, kita beberapa kali dikagetkan dengan kejadian kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah. Bukan lagi tawuran antar siswa atau ‘senioritas beracun’ yang memang sudah terkenal jadi masalah laten di Indonesia, akhir-akhir ini justru banyak terdengar murid yang terang-terangan berani menghina gurunya sendiri sampai bahkan mengeroyok cleaning service sekolah hingga babak belur. Rentetan kejadian ini pastinya membuat orang bertanya-bertanya, kenapa sih anak-anak zaman sekarang jadi agresif banget dan cenderung suka main kekerasan – bahkan terhadap guru atau orang yang jauh lebih tua?

Warganet yang sudah lulus sekolah pun banyak yang jadi ikut bernostalgia menceritakan zaman sekolahnya dulu yang justru dihantui guru ‘killer’, eh ini kok malah berasa terbalik. Tapi apakah memang benar anak-anak generasi sekarang itu jauh lebih violent atau ‘beringas’, dibandingkan generasi-generasi sebelumnya? Kalau iya, apa ya kira-kira sebabnya? Yuk coba kita kulik bersama-sama!

Paparan media disebut-sebut banyak memengaruhi perilaku anak di kehidupan nyata. Banjirnya akses informasi di era modern ini, memang nyatanya membuat konten kekerasan bertambah banyak

Akses terhadap konten berunsur kekerasan jadi lebih mudah via www.nst.com.my

Advertisement

Anak-anak zaman sekarang punya kemampuan mengakses media yang nggak terbatas –mulai TV sampai gadget berkoneksi internet. Pola konsumsi media yang masif memang diyakini banyak memengaruhi perilaku anak di dunia nyata. Dengan akses yang nggak terbatas ini, anak-anak akan lebih mudah terpapar konten-konten yang berbahaya seperti kekerasan. Apalagi jika tidak ada pengawasan yang baik dari orangtua.

Bukan cuma masalah akses, jumlah konten-konten kekerasan juga terus meningkat. Unsur kekerasan dalam film misalkan, seperti dikutip dari The Conversation, terus naik dalam 50 tahun terakhir. Genre superhero yang sebenarnya penuh adegan berunsur kekerasan pun, sudah dianggap normal sebagai tontonan anak-anak.

Banyak ahli juga sering memperingatkan bahaya game online yang semakin menjamur. Menurut penelitian, bermain game berunsur kekerasan selama 20 menit saja bisa membuat anak ‘mati rasa’ dan kehilangan rasa empati

Menembak atau membunuh ‘lawan’ jadi game sehari-hari via id.pinterest.com

Meski mungkin sekilas cuma permainan tembak-tembakan atau perang strategi saja, tapi bagi anak-anak yang belum bisa sepenuhnya membedakan mana yang nyata dan yang tidak, game seperti itu bisa sangat berbahaya. Belum lagi dalam bentuk interaktif seperti kebanyakan game online saat ini. Bisa jadi mereka akan tumbuh dengan menganggap dunia ini jauh lebih ‘keras’ dan berbahaya sebagaimana digambarkan game-game yang dimainkan tiap hari. Bahkan menurut penelitian Iowa State University, 20 menit saja bermain game yang mengandung unsur kekerasan akan membuat anak-anak ‘mati rasa’ dan kehilangan empati kepada orang lain.

Advertisement

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sendiri sudah berulang kali memperingatkan bahaya game online terhadap anak-anak dan memberi rekomendasi kepada Kominfo untuk memblokir beberapa game online. KPAI juga pernah mengeluarkan daftar 8 game online yang berbahaya bagi anak-anak seperti di laman resminya ini.

Produk-produk mainan yang ditujukan buat anak-anak, juga dinilai makin banyak yang berunsur kekerasan. Salah satu perusahaan mainan yang dikritik adalah LEGO

Karakter-karakter LEGO semakin banyak yang pegang senjata via theconversation.com

Ini nih yang menarik, selain produk media digital, produk mainan juga ternyata banyak yang mengadopsi budaya yang sama –maksudnya budaya kekerasan di media. Dilansir dari The Conversation, sebuah studi di New Zealand melaporkan kalau sejak 1970-an, mainan LEGO ternyata banyak dibuat lebih bengis. Ini bisa dilihat dari karakter-karakternya yang membawa senjata mulai dari pistol, pisau, atau pedang. Padahal LEGO itu terkenal sebagai mainan oke untuk mengasah otak dan mengembangkan kreativitas lo.

Makanya, ini sebenarnya bukan cuma masalah LEGO saja. Lihat saja bagaimana pistol-pistolan sudah jadi pilihan populer untuk mainan anak cowok sejak dahulu kala. Sebenarnya wajar aja kalau anak-anak yang dari kecil memegang pistol mainan, jadi penasaran ingin memegang pistol beneran. Bahaya juga ‘kan itu…

Paparan terhadap konten atau mainan berunsur kekerasan memang naik, tapi sejak dulu, fase anak-anak atau remaja itu memang tergolong rawan. Mereka cenderung berpikir pendek sebelum melakukan sesuatu

Mungkin kultur semacam ini sudah ada sejak dulu via plus.kapanlagi.com

Psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta, menganggap kalau perilaku agresif pada remaja ini sebenarnya juga didukung sama fase normal yang dilalui semua orang: proses pencarian jati diri. Orang yang ada di fase ini cenderung tidak berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Alhasil, seringkali mereka disibukkan dengan mencoba-coba hal baru, termasuk melakukan kekerasan di lingkungannya. Padahal kalau fase ini dipergunakan dengan baik akan berdampak baik juga pada karakter dan masa depan si anak.

Tapi bisa jadi kultur kekerasan di kalangan anak-anak ini memang lebih terekspos di era media sosial. Apalagi dengan bukti video-video miris seperti ini, pasti langsung viral

Mungkin dulu, kalau ada kejadian seperti ini bakal ditutup-tutupi atau jadi sebatas rumor aja via jabar.tribunnews.com

Menurut data KPAI, kekerasan dalam lingkungan pendidikan memang meningkat. Tapi data tersebut jelas perlu ditelaah lebih detail lagi untuk melihat berapa persennya merepresentasikan perilaku agresif anak-anak yang belakangan sering viral di media sosial. Jadi meskipun ada faktor-faktor di atas, bisa jadi sekarang kejadian-kejadian seperti ini lebih terekspos saja lewat media sosial. Mungkin dulu juga ada, tetapi tidak bisa terekam smartphone dan dilihat ribuan orang.

Sebenarnya terlepas dari semua itu, perilaku-perilaku seperti siswa yang mem-bully gurunya sendiri atau sekelompok siswa dengan orangtuanya mengeroyok cleaning service hingga berdarah-darah kemarin, jelas meresahkan. Walaupun kita telah panjang lebar mempelajari apa yang salah dengan anak-anak zaman sekarang, tampaknya jawaban utamanya tetap saja sama dengan puluhan, ratusan, atau ribuan tahun yang lalu : faktor orangtua. Tidak peduli zaman sudah segila apa, didikan dan asuhan orangtua tetap jadi faktor terpenting dalam proses tumbuh kembang anak.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya