Hari ini saya dikejutkan oleh sebuah link yang dikirim teman melalui percakapan WhatsApp. Sebuah tweet dari akun mahasiswa sebuah regional yaitu @Jogjastudent, yang sebenarnya juga saya ikuti, tapi terlewat begitu saja.

Twit dari @jogjastudent via twitter.com

Sekali membaca, saya langsung membelalakan mata dan bertanya “Maksud loo?”. Yup dalam sebuah upload-an foto, akun mahasiswa tersebut menyatakan bahwa menjadi mahasiswi yang bisa apa-apa sendiri membuat lelaki malas datang mendatangi. Karena sudah kodratnya para pria kebelet mengayomi. Jadi, dengan nalar pendek saya bisa ambil kesimpulan: jangan jadi perempuan yang terlalu mandiri kalau kamu ingin disegerakan jodohnya.

Advertisement

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, seorang figur publik melempar cuitan dengan topik yang sama. Intinya adalah bahwa perempuan yang terlalu kuat dan mandiri membuat pria takut mendekati. Yang jelas twit itu lumayan ‘melukai’ saya. Memang sih saya belum mandiri sepenuhnya. Sebagai anak rantau, kadang saya suka nangis kalau sedang sakit. Walaupun esok harinya ke dokter ya sendiri. Tapi apa sih salahnya jadi cewek yang kuat dan mandiri?

Saya butuh waktu lama untuk menelaah maksud cuitan ini. Masalahnya saya nggak yakin apakah admin @jogjastudents serius atau cuma bercanda. Terlepas dari serius atau nggaknya akun ini, mirisnya sepertinya memang masih banyak orang di luar sana yang berpikir serupa. Apalagi budaya patriarki yang masih mengakar luar biasa, isu ini jadi super penting untuk dibahas (setidaknya untuk saya).

Apakah memang perempuan harus jadi lemah, nggak bisa apa-apa, dan bergantung sepenuhnya? Hanya demi memuaskan ego para pria?

Apa cewek harus terus-terusan lemah dan dilindungi? via phantom34.000webhostapp.com

Saya malah ingin sekali menjadi seperti sosok Tania, tokoh perempuan di film “24/7” yang dibintangi oleh Dian Sastro. Meski sebagai manajer di sebuah perusahaan besar, Tania tetap bisa mengurus keluarganya dengan baik. Relasi dengan suami dan anaknya juga tetap terjaga. Nah, bukan berarti perempuan mandiri bukan berarti nggak butuh pernikahan ‘kan? Mandiri jelas bukan berarti nggak bisa bekerja sama dengan pasangan.

Advertisement

Iya sih, merasa dibutuhkan dan berguna itu adalah perasaan yang menyenangkan. Saya juga setuju bahwa terkadang ego pria memang luar biasa tingginya. Tapi menjadikan diri lemah, nggak bisa apa-apa, dan bergantung sepenuhnya kepada pria jelas BIG NO. Karena dalam sebuah hubungan, ada banyak cara untuk saling melengkapi. Tak selalu perempuan jadi lemah dan pria jadi yang menyelesaikan semuanya. Come on boys, apa kamu lebih suka ditelepon istri saat masih di kantor dan disuruh pulang saat itu juga hanya untuk membelikan pampers bayi atau angkat galon?

Kalaupun saya pria, saya juga akan tersinggung dengan pernyataan itu. Masa rela sih dibilang guna lelaki cuma sebatas itu?

Cowok kuat via www.tabatatimes.com

Sebagai perempuan yang memproklamirkan diri sendiri ‘lumayan mandiri’, saya jelas kesal. Tapi kalau pun saya ini pria, saya akan tambah kesal lagi. Coba lihat kalimat terakhirnya, “Kalau ayomannya ditolak, dia akan menganggap seluruh dirinya pun tak berguna”.

Masa iya soal harga diri pria, harus perempuan juga yang memikirkan? Masa iya rela kalau ‘guna’ pria hanya sekadar disuruh bantu ini itu, antar jemput ke mana-mana, dan mengayomi perempuannya? Masa iya nggak sebal jika sosok pria digambarkan begitu cemennya karena mudah menyerah saat sang gebetan terlihat nggak butuh bantuan apa-apa? Hei, mana motivasi dan semangat berjuangnya?

Pernikahan ibarat dua kaki yang menopang satu tubuh. Bila satu kakinya lemah dan goyah, tubuh juga bisa miring dan akhirnya terjungkal

Pernikahan ‘kan jalan bersama via weloveourhusbands.com

Dalam pikiran saya, pernikahan itu tak ubahnya dengan dua kaki yang menopang tubuh. Keduanya harus sama-sama kuat supaya kita bisa berdiri tegak dna berjalan mencapai tempat tujuan. Bila satu kaki nggak berfungsi, kita tentu pincang dan terseok-seok. Bila sedang sial, kita bisa jatuh dan babak belur. Seperti itulah relasi pasangan yang bisa saya pikirkan.

Perempuan maupun pria, suami atau istri, harus sama-sama menjadi sosok yang kuat agar rumah tangganya mantap. Karena bila salah satu terguncang badai, satu kaki yang lain masih bisa bertahan dan menjadi tumpuan. Tapi bila yang kuat hanya satu kaki, saat tersandung, kita sudah pasti terjungkal dengan mudahnya.

Menjadi istri dan ibu juga perlu modal yang besar. Mental, ilmu, dan tekad harus punya supaya bisa membentuk keluarga yang berkualitas

Menjadi seorang ibu dan istri jelas harus kuat dan mandiri via twitter.com

Menurut saya, justru jadi perempuan itu harus kuat dan mandiri. Kelak banyak yang harus diurusi, dan itu membutuhkan persiapan mental, tetelatenan, kekuatan hati, dan tentu saja kemandirian. Menjadi ibu rumah tangga bukan hal yang mudah. Mengurus suami dan anak jelas bukan hal yang sederhana. Pendidikan tinggi dan wawasan yang luas jelas wajib hukumnya.

Meski sedikit sterotype dan seksis, tapi penelitian membuktikan bahwa kecerdasan seorang anak ditransfer dari kromosom XX alias sang ibu. Karena itu untuk membuat seorang anak yang cerdas, diperlukan ibu yang cerdas. Dan untuk membuat seorang anak yang mandiri dan kuat, diperlukan ibu yang mandiri yang kuat juga karena biasanya. Karena seorang anak akan mencontoh orang tuanya tho?

Tak ada yang salah menjadi cewek mandiri. Kalau karena itu cowok jadi malas mendatangi, itu sih memang cowoknya yang memang kurang layak dijadikan tambatan hati

Tak ada salahnya jadi mandiri via thoughtcatalog.com

Apa iya kalau kamu mau cepat punya pacar, maka jangan jadi cewek yang mandiri? Jelas nggak. Ini bukan era abad pertengahan di mana peran perempuan terbatas hanya di dapur, sumur, dan kasur. Seorang perempuan justru harus mandiri dan kuat. Bila seseorang jadi malas mendekati karena alasan itu, artinya dia tak layak dicintai apalagi dijadikan tumpuan.

Lha bagaimana kita bisa bergantung pada pria yang bahkan mundur sebelum berjuang? Jadi bila sampai sekarang kamu jomblo, tak perlu menyalahkan kemandirianmu. Kamu akan menemukan seseorang yang bisa mengimbangimu dan nggak terintimidasi oleh kemandirianmu nanti.

Awalnya saya berpikir, ah mungkin admin-nya kurang lama jadi mahasiswa. Atau mungkin sedang sakit hati karena diputusin pacarnya yang sedang merencanakan lanjut S2. Tapi sekarang sih saya positif thinking saja. Mungkin adminnya hanya bercanda. Mungkin adminnya sedang riset untuk memahami reaksi netizen yang mudah tersulut emosi atas isu-isu yang sedikit kontrovesial. Atau sekadar melemparkan humor sarkas sesuai dengan tagline akunnya: “Berkabar dan bercanda.”.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya