Kemarin, Jakarta dilanda kemacetan parah akibat aksi demo dari para supir taksi. Demo menolak adanya transportasi berbasis online tersebut diikuti sekitar 10ribu supir taksi. Mereka beralasan bahwa setelah adanya transportasi berbasis online mulai ramai, pendapatan mereka menurun drastis. Atas dasar pelemahan ekonomi supir taksi, demo tersebut berjalan alot hingga sampai terjadi aksi kekerasan.

Meski memang alasan ekonomi tersebut bisa dipahami, tapi sebaiknya aksi demonstrasi yang dilakukan oleh supir taksi tersebut tak mengarah ke kekerasan. Daripada sampai melakukan kekerasan, bukankah lebih baik mencontoh demo menentang Uber dari berbagai negara ini? Meski demo tanpa aksi kekerasan, pesan mereka didengan loh oleh seluruh warga dunia.

1. Di Warsawa, demo menolak taksi online dilakukan dengan tenang. Menghiasai taksi dengan bendera, demo yang mereka lakukan tak sampai menimbulkan korban.

Ini protes loh, bukan karnaval

Ini protes loh, bukan karnaval via www.popularresistance.org

Advertisement

Di Polandia, keberadaan taksi online juga menjadi kerugian tersendiri bagi para pengemudi taksi lokal. Semenjak adanya Uber, pendapatan mereka menurun drastis. Meski kecewa dan marah pendapatannya berkurang,tapi protes yang mereka lakukan tetap berjalan sesuai aturan.

Mereka melakukan protes dengan cara yang elegan. Tuntutan mereka bukan membubarkan, tapi mendesak pemerintah untuk mengeluarkan regulasi terkait taksi online tersebut. Itulah kenapa mereka hanya protes dengan cara memenuhi jalan dengan taksi yang dihiasi bendera negara tanpa perlu aksi kekerasan. Respect!

2. Demo menolak Uber yang terjadi di Inggris diwarnai dengan aksi “jalan lambat” yang dilakukan oleh taksi-taksi lokal. Meski macet, tapi tak sampai memicu kekerasan.

Demo menolak Uber di London

Demo menolak Uber di London via www.telegraph.co.uk

Bahkan di negara sekaliber Inggris pun, Uber juga ditolak. Sama dengan negara-negara lain, para pengemudi taksi di Inggris merasa mata pencahariannya terganggu dengan adanya Uber yang mulai mengambil pelanggan setia mereka. Tapi meski begitu, protes yang mereka lakukan tetap tanpa menggunakan kekerasan.

Advertisement

Para pengemudi taksi di Inggris berkumpul dan menutup jalanan dengan cara mengemudikan taksi mereka dengan pelan. Yah, kemacetan sih tak bisa terelakkan. Tapi toh aksi tersebut lebih baik daripada melakukan aksi kekerasan yang malah meninggalkan respon negatif terhadap mereka, kan.

3. Tanpa kekerasan, protes menolak taksi online di Turin berjalan sesuai aturan. Mereka sadar bahwa aksi kekerasan hanya akan menimbulkan antipati dari konsumen.

Turin!

Turin! via www.cbc.ca

Merambahnya penggunaan Uber di Italia juga mulai meresahkan asosiasi pengemudi taksi di Turin, Italia. Setelah adanya Uber, pendapatan mereka jadi jauh berkurang. Mereka berpendapat bahwa berkompetisi dengan Uber telah mematikan sumber pendapatan mereka. Uber kan memang bisa memberikan tarif jauh lebih murah karena tak ada beban pajak yang mengikatnya.

Namun, protes yang mereka lakukan bahkan tak sampai menimbulkan kepanikan di masyarakat. Aksi protes yang mereka lakukan hanya sebatas protes biasa. Mereka sadar, kalau protesnya sampai menimbulkan ketidak nyamanan di masyarakat, maka nama mereka sendiri nantinya yang akan tercoreng.

4. Protes Uber di Australia memang menimbulkan kemacetan parah. Tapi paling tidak, para pendemo tidak sampai melakukan aksi perusakan.

Regulator must regulate!

Regulator must regulate! via www.smh.com.au

Aksi protes terhadap Uber di Australia juga terjadi di beberapa kota besarnya. Sebut saja di Melbourne, Perth dan Sydney. Para pengemudi taksi lokal di ketiga kota tersebut memprotes tidak adanya regulasi hukum yang mengikat jasa transportasi online Uber.

Protes yang mereka lakukan memang sih berjalan sengit. Bahkan aksi protes tersebut sampai melemahkan jalur transportasi di kota-kota besar Australia. Hanya saja, yang membedakan dengan Indonesia adalah di sana, protes yang mereka lakukan tak sampai menyeret, menendang dan memukul sesama pencari nafkah.

5. Dengan mengutamakan kenyamanan warga, protes menolak Uber di Toronto sejauh ini belum ada aksi di jalan raya. Mereka lebih memilih untuk protes langsung melalui jalur parlemen negara.

Protesnya lewat jalur hukum!

Protesnya lewat jalur hukum! via www.telegraph.co.uk

Cara protes yang paling dewasa adalah cara protes yang dilakukan oleh asosiasi pengemudi taksi di Toronto, Kanada. Meski memang mereka merasa sangat terganggu dengan adanya Uber, tapi toh mereka tak langsung naik pitam kala penghasilan mereka berkurang.

Karena merka taat hukum, cara protesnya adalah dengan mengadukan kepada anggota parlemen. Mereka meyakini bahwa parlemen akan memberikan keputusan yang lebih manusiawi. Disamping itu, mereka juga punya moto untuk mengutamakan kenyamanan warga. Jadi sejauh ini belum ada aksi besar-besaran yang menimbulkan kepanikan. Salut deh sama kedewasaan cara berpikir mereka. 😀

Memang sih, karakteristik setiap warga di negara satu berbeda dengan negara lain. Apalagi kala sudah memasuki ranah urusan perut, kelangsungan hidup keluarga yang jadi taruhannya. Tapi kalau ada hal baik yang bisa dicontoh kenapa tidak? Kita pun sebaiknya bisa berpikir lebih tenang lagi dan tak asal menjadikan demo sebagai ajang unjuk gigi. Kala demo yang dilakukan sampai berujung kekerasan, bukankah pada akhirnya reputasi mereka sendiri yang akan tercemar. Penumpang mah mana mau menggunakan jasa taksi yang brutal itu lagi. 🙁

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya