Bongkar Kasus Pemalsuan Situs, Dua Mahasiswa Unair Diundang Jadi Pembicara di Markas FBI

Kehebohan yang dibuat oleh hacker Bjorka beberapa waktu lalu berimbas pada munculnya tanda tanya besar di benak publik soal keamanan data pribadi mereka di dunia digital. Pasalnya, apabila data pribadi sejumlah pejabat Tanah Air bisa dengan mudah didapat, lantas gimana dengan masyarakat biasa? Meskipun kehebohan itu udah mereda, pertanyaan tadi belum juga terjawab.

Advertisement

Di tengah keraguan itu, publik justru mendapat kabar membanggakan dari dua orang mahasiswa Universitas Airlangga yang diundang oleh pemerintah Amerika Serikat ke lembaga investigasi AS, FBI. Mereka diundang karena berhasil mengungkap kasus pemalsuan situs resmi pemerintah AS yang dilakukan 2 warga negara Indonesia (WNI) tahun 2021 lalu.

Dua mahasiswa tersebut berhasil membongkar kasus DMV Website Scampage yang sempat menghebohkan AS

Eko Mangku Cipto dan Harianto Rantesalu di markas FBI

Eko Mangku Cipto dan Harianto Rantesalu di markas FBI | Credit: Situs resmi Unair

Kabar diundangnya dua mahasiswa Indonesia untuk jadi pembicara di Federal Bureau of Investigation (FBI) pertama kali diungkap oleh situs resmi Universitas Airlangga pada 11 Oktober 2022 lalu. Mereka merupakan mahasiswa pascasarjana Magister Kajian Ilmu Kepolisian Unair yang bernama Eko Mangku Cipto dan Harianto Rantasalu.

Lalu, prestasi apa sih yang mereka lakukan sampai diundang ke FBI? Nah, soal ini pihak Unair menjelaskan kalau kedua mahasiswa mereka berhasil membongkar kasus DMV Website Scampage milik pemerintah AS. Jadi, tahun 2021 lalu ada dua WNI yang melakukan pemalsuan website pemerintah AS dengan tujuan mendapatkan data pribadi warga negara tersebut.

Advertisement

Nggak main-main, mereka bahkan berhasil membuat 14 scampage (website palsu). Warga AS yang terkecoh akan mengisi data pribadi mereka tanpa curiga. Situs yang mereka sasar adalah situs milik pemerintah untuk menyalurkan dana bantuan Covid-19 bagi warganya. Dua hacker tadi mencuri data pribadi warga AS untuk ditukarkan dengan dana bantuan pemerintah sehingga mereka meraup keuntungan pribadi.

Kasus ini ditangani oleh dua institusi yaitu FBI dan Polda Jawa Timur bersama dengan tim siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus). Nah, di sinilah Polda Jatim melibatkan dua mahasiswa Unair tadi untuk membongkar kasus ini.

Advertisement

Eko dan Harianto juga berhasil mendapatkan informasi terkait data yang dibobol oleh pelaku

Berbicara di markas FBI di Cleveland, Eko dan Harianto diminta menjelaskan teknik penyelidikan dan penyidikan terhadap dua tersangka kasus pemalsuan situs. Dalam pemaparannya, Eko menjelaskan data pribadi yang dicuri itu digunakan untuk mencairkan dana PUA (Pandemic Unemployment Assistance) atau dana bantuan untuk pengangguran warga AS.

Eko juga mengungkap harga yang dipatok kedua pelaku saat menjual kembali data yang mereka curi.

“Menurut Kapolda Jatim, Nico Afinta mengatakan bahwa data pribadi tersebut digunakan untuk mencairkan dana PUA (Pandemic Unemployment Assistance) atau dana bantuan untuk pengangguran warga negara Amerika senilai USD 2000 setiap satu data orang dan juga untuk dijual lagi seharga USD 100 setiap satu data orang,” jelas Eko, dikutip dari situs resmi Unair.

Dalam proses penyelidikannya, dua mahasiswa Unair ini juga berhasil memperoleh informasi terkait data yang berhasil didapatkan pelaku lewat percakapan WhatsApp dan Telegram. Jumlahnya sekitar 30.000 data.

Melansir dari Kontan, dua scammer tersebut udah resmi ditahan pihak kepolisian. Kasus mereka disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya pada Agustus 2021 lalu. Surabaya Post juga melaporkan kedua pelaku ternyata bekerja sama dengan seorang warga negara India bernama Sourav, yang udah masuk ke dalam daftar DPO (Daftar Pencarian Orang). Kedua pelaku disebut bekerja di bawah suruhan Sourav. Atas tindak kejahatannya itu, Sourav diketahui mendapat keuntungan sebesar USD 30 ribu atau sekitar Rp450 juta.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE